Pidato Bu Mega Penuh Kekeluargaan, Tetapi Ada yang Mencoba Membenturkannya dengan Jokowi

Jumat, 13 Januari 2023 – 17:35 WIB
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri bersama Presiden Jokowi, Wakil Presiden Maruf Amin, dan Ketua DPR Puan Maharani pada perayaan HUT ke-50 PDIP di JIExpo, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (10/1). Foto : Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Pakar politik Haryadi menilai pidato Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dalam HUT partai konteksnya internal dan bersifat kekeluargaan. Namun, dia menduga ada pihak ingin memanipulasi politik dengan melakukan falsifikasi.

Staf Pengajar Departemen Politik di FISIP Unair itu mengatakan pascaperayaan HUT ke-50 PDIP, banyak potongan video dan kalimat pidato Megawati beredar di media sosial.

BACA JUGA: KIB dan PDIP Akan Berkoalisi jika Usung Paket Ganjar-Airlangga

Potongan video dan kalimat itu cenderung mengarah pada upaya membenturkan Megawati dan PDI Perjuangan dengan Presiden Jokowi.

“Semua dilakukan lewat narasi di media massa partisan. Seakan PDI Perjuangan pamer kuasa di hadapan Presiden Jokowi. Bahkan beberapa pengamat di media partisan itu menyatakan bahwa Presiden Jokowi merupakan subordinat PDI Perjuangan,” kata Haryadi, Jumat (13/1).

BACA JUGA: Sejak 2014 Pak Jokowi Terima Potongan Tumpeng Ultah PDIP, Dahulu Cium Tangan Bu Mega

Haryadi menyatakan ada pihak yang mengambil kemanfaatan pidato Megawati untuk falsifikasi makna politik.

Hasilnya mencerminkan manipulasi politik dipandang sebagai sarana pengaruh ideologis, spiritual, dan psikologis pada kesadaran massa untuk memaksakan ide dan nilai tertentu. Selain itu, mencoba memengaruhi opini publik dan perilaku politik untuk mengarahkan mereka dengan cara tertentu.

BACA JUGA: Airlangga Sebut Pidato Bu Mega Merakyat dan Memuat Aspek yang Selama Ini Dilupakan Bangsa

Haryadi mengatakan Megawati pada peristiwa itu memberikan pesan kekeluargaan yang akrab, seperti layaknya ibu kepada anak-anaknya. Namun, peristiwa dibelokkan maknanya sebagai subordinasi PDIP terhadap Jokowi.

Menurut dia, acara itu dimaksudkan sebagai perayaan di dalam keluarga besar dan masyarakat biasa. Sejak awal acara didesain merupakan acara internal partai, yanf mengundang akar rumput, yaitu pengurus ranting dan Satgas Cakra Buana.

“Laiknya dalam keluarga, bisa lebih terbuka dalam berbicara. Pesan sebagai keluarga besar adalah ciri khas Bu Mega untuk membangun internal political market dan militansi para kader. PDIP termasuk salah satu partai yang dengan political ID atau identitas politik yang paling kuat. Itu berkat kekuatan mesin politik internal yang dibangun Bu Mega selama bertahun-tahun,” urai Haryadi.

Cara berpolitik demikian sudah terbukti membuahkan hasil. Haryadi menjelaskan faktor yang membuat PDIP berhasil di Pemilu 1999.

Selanjutnya Pemilu 2004 dan 2009, PDIP gagal bahkan terlempar keluar dari kekuasaan.

Berikutnya lagi, pada Pemilu 2014 dan 2019, PDIP merebut kembali kekuasaan. Kemenangan Pileg dan sekaligus Pilpres pada 2014 dan 2019 itu, merupakan rekor baru dalam politik kepemiluan di Indonesia.

Faktor penentu kemenangan dua kali berturutan itu adalah karena PDIP beruntung memiliki dua figur role model sekaligus, yaitu Megawati dan Jokowi.

“Kekuatan dua figur ini menjadi perekat identitas partai yang begitu kuat. Sekaligus menjadi penentu kemenangan PDI Perjuangan secara berturutan. Betapa potensi kekuatannya secara kelembagaan diperlemah oleh pemberlakuan sistem Pemilu proporsional terbuka,” urai Haryadi.

Haryadi mengajak semua pihak menelaah lebih dalam bahwa pidato Megawati menguatkan penting posisi Jokowi dalam point of view.

Menurut Haryadi, hal itu terbukti dalam isi pidato Megawati di HUT lalu. Dia menyebut bagian pidato yang dimaksud adalah begini.

"Sudah jelas kita ini adalah organisasi partai politik. Organisasi itu datangnya dari organ. Badan kita ini semua juga terdiri dari organ. Ketua umum adanya di mana? Pak Jokowi sebagai presiden di mana? Di sini “kepala”, memikirkan rakyat. Kalau Pak Hasto di mana? Di sini (tunjuk dahi)," kata dia.

Haryadi menyatakan Megawati selalu menyampaikan pikirannya kepada Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto.

“Bu Mega menempatkan Presiden Jokowi di tempat tertinggi partai dalam kesatuan gerak dalam memikirkan dan memperjuangkan nasib rakyat. Tak ada subordinasi. Dan sama seperti tubuh, kepala tak lebih penting dari tangan atau kuku sekalipun. Tak ada keindahan organ tubuh, jika hanya ada kepala tanpa tangan dan kuku. Bu Mega jelas ingin mengatakan bahwa akar rumput partai dan masyarakat sama pentingnya dengan dirinya maupun dengan Presiden Jokowi dalam kesatuan tubuh bernama Indonesia,” urai Haryadi.

Oleh karena itu, menurut dia, bijak memaknai agar kepentingan yang terbungkus dalam falsifikasi pemaknaan dalam komunikasi politik tidak mendapatkan tempat dalam upaya memecah PDI Perjuangan dan Presiden Jokowi.

Haryadi menyarankan semua pihak pihak meletakkan setiap kalimat dalam konteksnya.

“Jangan memenggal tanpa konteks. Kecuali pemenggalan itu sengaja dilakukan untuk motif dan kepentingan politik nakal,” pungkasnya. (tan/JPNN)

Jangan Lewatkan Video Terbaru:

BACA ARTIKEL LAINNYA... Mega-Anwar


Redaktur & Reporter : Fathan Sinaga

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler