Pilkada Medan: Pertarungan Lokal, Rasa Nasional

Rabu, 25 November 2020 – 23:59 WIB
Ilustrasi Pilkada 2020. Grafis: Sultan Amanda Syahidatullah

jpnn.com, JAKARTA - Dari 270 Pilkada yang diselenggarakan serentak pada tahun 2020 ini, ada beberapa Pilkada yang mencuri perhatian nasional. Salah satunya Pilkada Medan.

Pertarungan antara pasangan dua putra Medan melawan menantu Presiden yang menggandeng pengusaha muda, tak pelak melambungkan Pilkada Medan ke panggung nasional.

BACA JUGA: Dahulu Pilih Kotak Kosong, Warga Wajo Beralih Dukung Munafri-Rahman di Pilkada Kota Makassar

Kontestasi lokal rasa nasional ini mendorong tokoh-tokoh nasional untuk datang ke Medan, memberi dukungan bagi jagoan masing-masing.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, misalnya datang berkampanye di Medan (15/11), antara lain menyambangi masyarakat Jawa yang cukup banyak di kota multi-etnik ini.

BACA JUGA: AHY Membagi Tiga Wilayah untuk Menangkan Ben-Ujang di Pilgub Kalteng

Seminggu kemudian, giliran Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono yang mengunjungi Medan, Senin (23/11).

Partai Demokrat mengusung Ir. H. Akhyar Nasution, MSi, Wakil Wali Kota Medan (2016-2021) yang menjadi Plt. Wali Kota Medan (2019-2020) sebagai calon Wali Kota.

BACA JUGA: Pilkada Medan: Cawalkot Ini Ingin Membangkitkan Perekonomian Umat Lewat Masjid

Akhyar didampingi H. Salman Alfarisi, Lc., MA, Wakil Ketua DPRD Sumut sebagai calon Wakil Wali Kota.

Keduanya putra Medan tulen. Akhyar lahir tahun 1966 dan menyelesaikan seluruh pendidikan serta menempuh kariernya di Medan, baik dalam berbisnis maupun berpolitik.

Akhyar menempuh kariernya dari bawah, jadi paham betul lika-liku kota Medan. Salman juga lahir di Medan, tahun 1973.

Bedanya ia merantau untuk belajar, mulai dari nyantri di Madura, sekolah perbankan syariah di Jakarta, lalu mendapat beasiswa untuk belajar di Madinah, Saudi Arabia, kemudian ke Malaysia untuk program S2. Kini Salman baru diterima di program doktoral di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara.

AHY terbilang rajin ke Medan. Tahun 2018 lalu, ia datang dalam kapasitas sebagai Komandan Komando Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Pemenangan Pemilu Partai Demokrat, untuk berkampanye bagi cagub Eddy Rachmayadi dan cawagub Musa Rajekshah (Ijeck).

Dalam kedatangan kali ini, AHY menyempatkan diri bersilaturahmi dengan Gubernur Eddy Senin (23/11).

“Kunjungan kali ini tidak ada hubungannya dengan politik, murni silaturahmi yunior pada seniornya,” tulis AHY pada akun Instagramnya.

Saat sama-sama masih dinas militer, Letjen Eddy Rachmayadi adalah Panglima Kostrad, satuan andalan TNI AD di mana Mayor Agus Harimurti Yudhoyono menjadi salah satu perwiranya.

Kehadiran AHY di Medan kali ini cukup menarik perhatian warga. Clara Wirianda (21), warga Pekan Labuhan, mengaku tahu AHY datang ke Medan dari baliho dan spanduk yang terpasang dimana-mana. Ia juga baca dari akun-akun media sosial.

“Senang sih lihat-nya, abis ganteng. Janggutnya enggak nahan,” katanya sambil tergelak.

Mahasiswi ilmu sosial dan politik asli Medan ini mengaku cukup mengikuti perkembangan politik daerah dan nasional, tetapi enggan aktif terlibat.

“Cukup tahu perkembangan aja,” katanya. “Lagian supaya nyambung buat ngobrol sama kawan-kawan.”

Ditanya soal pilihannya dalam Pilkada Medan kali ini, Clara tidak mau menyebut secara terbuka.

“Aku sih lebih suka orang Medan yang tahu Medan, yang bisa bikin Medan aman,” katanya.

Tengku Bobby Lesmana (48) juga tahu AHY datang di Medan. Layaknya lelaki Medan, ia aktif mengikuti perkembangan melalui media berita maupun media sosial.

Bobby membaca berita-berita tentang kedatangan AHY serta percakapan di media sosial maupun di masjid maupun warung kopi yang ia datangi.

Dia senang melihat AHY berjanggut, dan kadang-kadang kelihatan memakai peci serta sarung.

“Bagus lah itu, kelihatan lebih Islami dan berwibawa,” katanya.

Dia mengaku tidak berpartai. Ditanya soal Pilkada Medan, Tengku Bobby juga merahasiakan pilihannya.

“Pokoknya aku pilih putra Medan tulen, yang berpengalaman dan sanggup mengamankan warga Medan,” tuturnya.

Lain halnya dengan Muliatik (43). Ia tidak terlalu mengikuti perkembangan soal politik.

“Apalah politik-politik itu. Yang penting buat semua stabil, aman, Medan tambah cantik, nggak banyak sampah dan begal-begal juga diberantas,” kata Ibu yang sudah belasan tahun tinggal di Medan, mengikuti suaminya.

Anak-anaknya lahir dan besar di sini. Sepintas ia mendengar tentang kedatangan AHY dari obrolan di pasar dan arisan. Bu ini mengingat AHY sebagai anak SBY.

Ia ingat karena saat pemerintahan SBY, suaminya naik gaji hampir setiap tahun. Ibu ini juga tidak terlalu ambil pusing soal Pilkada.

“Buat aku, yang penting harus bisa bikin kota Medan jadi cantik, maju, sejahtera, dan lebih berkawan lah. Ini kota kita semua,” kata Muliatik menutup percakapan.

Dalam minggu-minggu terakhir kampanye Pilkada Medan, kedua paslon gigih memanfaatkan setiap waktu dan kesempatan untuk merebut hati warga Medan.

Dalam survei elektabilitas terakhir yang dirilis 20 November lalu, paslon Akhyar-Salman meraih elektabilitas 53,1% dan paslon Bobby-Aulia 37,3%. Survei ini dirilis oleh Roda Tiga Konsultan, digelar pada 8-11 November 2020, melibatkan 810 orang responden dari seluruh kecamatan di Medan. Survei ini memiliki margin of error sekitar 3,53% dan confidence level 95%.(jpnn)


Redaktur & Reporter : Friederich

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler