Pisang Kultivar Unggul INA-03, Adaptif dan Tahan Penyakit

Jumat, 12 Februari 2021 – 15:54 WIB
Perbandingan pisang kultivar INA03 dan ketan01. Foto: Humas Balitbangtan

jpnn.com, JAKARTA - Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementan (Balitbangtan) melalui Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika (Balitbu Tropika), menghasilkan berbagai pisang kultivar unggul, Kepok Tanjung dan INA-03. Keduanya disebut memiliki sifat toleran terhadap penyakit.

Peneliti pemuliaan Balitbu Tropika pada Bincang Buah Tropika Edison mengatakan, pisang INA-03 (Indonesia-03) merupakan pisang hibrida pertama di Indonesia. Pisang ini merupakan hasil persilangan antara pisang Calcuta-4 dan Ketan-01.

BACA JUGA: Curah Hujan Tinggi di Australia Barat Sebabkan Banjir, tetapi Petani Pisang Malah Bersyukur

Keduanya ialah pisang liar yang berbiji tetapi memiliki sifat tahan penyakit layu fusarium dan pisang komersial umumnya dimanfaatkan sebagai pisang olah.

"Persilangan antara keduanya menghasilkan keturunan yang lebih baik dari pada kedua induknya,” papar Edison, dalam keterangannya, Jumat (12/2).

BACA JUGA: Komisi IV Sebut Anggaran Riset Pertanian 2021 Minim, Segini Besarannya...

Edison menyebut, aecara fisik, Pisang INA-03 memiliki tinggi sekitar 1,75 – 2 meter sehingga mudah dipanen. Selain itu, tergolong besar dengan bobot buahnya 12 – 18 kilogram per tandan.

"Tanaman pisang ini adaptif untuk dataran rendah hingga menengah (2 – 500 mdpl). Untuk produktif tanamannya berkisar 93 – 105 hari dari bunga muncul," kata dia.

BACA JUGA: Mentan Syahrul: Balitbangtan Harus Terdepan Majukan Pertanian

Edison menjelaskan, buah pisang INA-03 memiliki ciri ujung runcing dan tangkai buah pendek antara 1 – 1,2 sentimeter. Buah yang matang memiliki warna kuning cerah.

Dari segi rasa, pisang INA-03 memiliki rasa yang manis dengan kandungan gula 28,5 – 29oBrix. Tekstur buahnya kenyal dan tahan simpan hingga 18 hari.

"Kultivar ini juga memiliki kandungan kalsium 6,18 – 6,98 miligram per 100 gram," jelas Edison.

Edison menambahkan, kelebihan lain dari pisang kultivar ini adalah toleran terhadap penyakit layu fusarium dan penyakit darah. Layu fusarium dan penyakit darah adalah penyakit yang paling banyak menyerang tanaman pisang.

Penyakit layu fusarium menyerang tanaman dari akar, batang, daunnya layu dan seringnya tanaman mati sebelum berbuah. Penyakit darah awalnya menyerang dari bunga/jantung kemudian daging buah menjadi busuk meskipun masih tampak bagus dari liuar.

Kedua penyakit tersebut ditandai dengan daunnya yang menguning dan layu.

"Ketahanan atas kedua penyakit ini diharapkan bisa mengurangi potensi kerugian bagi petani tanaman pisang," lanjutnya.

Dalam berbagai kesempatan, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo terus mendorong konsumsi buah dalam negeri seperti pisang. Menurutnya, Indonesia kaya akan buah lokal dan masyarakat harus bangga dengan itu.

“Indonesia dan kejayaan aneka buah dan sayuran itu tidak kalah bagus dari produk dunia. Justru buah kita dari Sabang sampai Merauke menjadi kekuatan besar yang kita miliki,” ucapnya.

Mentan juga menekankan pentingnya sinergi mulai dari perbenihan hingga pasca-panen dalam menunjang kegiatan usaha tani.

"Diharapkan lahir kegiatan perbenihan, on farm dan pasca-panen yang representatif untuk menjawab kebutuhan dari sektor pertanian. Pertanian menjadi sesuatu yang dibutuhkan, industri butuh pertanian dalam negeri," ungkap Syahrul.

Saat ini, Balitbu Tropika masih terus memperbanyak benih sumber dan benih sebar pisang INA-03. Balitbu Tropika bekerja sama dengan rekanan untuk penggunaan laboratorium di beberapa daerah.

Ke depan, kultivar ini akan terus dikembangkan hingga hilirisasinya. Sebab, pisang yang tahan layu fusarium ini juga memiliki potensi sebagai pisang olahan.

Hal ini tentu bisa diwujudkan dengan kerja sama dari berbagai stakeholder agar bisa dioptimalkan secara maksimal.

Sementara, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Fadjry Djufry mengungkapkan, Balitbangtan melalui unit kerja akan terus melakukan koordinasi secara konsisten untuk mengawal produksi dan penyediaan buah lokal.

Terutama komoditas yang memiliki nilai tambah dan kompetitif untuk pasar domestik maupun ekspor.

“Tentunya akan kita dorong ini varietas-varietas unggul baru kita, tidak hanya dikenal di Badan Litbang atau hanya di unit-unit kerja di Balai Penelitian, tapi akan kita masifkan ini,” tutupnya.(mcr10/jpnn)


Redaktur & Reporter : Elvi Robia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler