jpnn.com, JAKARTA - Anggota Komisi VII DPR RI Mulyanto minta pemerintah serius mengendalikan kenaikan harga kebutuhan pokok yang terjadi belakangan ini.
Menurutnya, kenaikan harga kebutuhan pokok, seperti minyak goreng, kedelai, daging sapi, dan gula secara serentak sangat memberatkan masyarakat.
BACA JUGA: 5 Daftar Harga Kebutuhan Pokok yang Naik Pada 2022, Sabar Bun
"Belum lagi kenaikan harga BBM serta harga LPG non subsidi. PKS menolak kebijakan pemerintah yang memberatkan masyarakat tersebut," ungkap Mulyanto.
Pasalnya, kenaikan harga tersebut bersamaan dengan pandemi Covid-19 yang belum pulih, Omicron masih tinggi, dan ekonomi masyarakat belum pulih.
BACA JUGA: Harga Kebutuhan Pokok Melonjak, Ada Kartel Bahan Pangan?
"Kenaikan harga barang-barang tersebut tentu memicu inflasi dan menggerus daya beli mereka,” jelas Mulyanto.
Mulyanto mengingatkan bahwa gas LPG non subsidi terus mengalami kenaikan mulai 25 Desember 2021, kemudian 28 Februari 2022.
BACA JUGA: Jelang Tahun Baru Harga Kebutuhan Pokok Naik Terus, Ini Bun Daftarnya
"Sebelumnya 12 Februari 2022 Pertamina sudah menaikkan harga untuk tiga jenis bahan bakar minyak (BBM) non subsidi,” tandas Mulyanto.
Mulyanto mengingatkan di awal-awal pandemi, ketika harga migas dunia anjlok menuju titik terendah, pemerintah tidak menurunkan harga BBM dan LPG tersebut dengan berbagai alasan.
“Inikan kebijakan yang inkonsisten. Terkesan masyarakat mensubsidi BUMN bukan sebaliknya,” kata Mulyanto.
Mulyanto menegaskan PKS menolak kebijakan pemerintah yang menyebabkan kenaikan harga-harga komoditas energi.
“Kalau kita diamkan saja, ini akan melebar pada kenaikan harga-harga produk lainnya. Kami khawatir, kalau besok-besok, pemerintah juga akan menaikan harga BBM dan LPG bersubsidi termasuk listrik PLN,” jelas Mulyanto.
Dalam hal ini, PKS mendesak pemerintah mengembangkan berbagai opsi kebijakan yang inovatif yang tidak memicu inflasi dan membebani rakyat.
Dia mengatakan defisit transaksi berjalan dari sektor migas seharusnya dapat dikompensasi dengan penerimaan dari ekspor komoditas energi lainnya seperti batu bara, gas alam dan juga CPO.(mcr28/jpnn)
Redaktur : Elvi Robia
Reporter : Wenti Ayu