Politik Garam Vs Politik Gincu

Kamis, 29 Mei 2014 – 07:38 WIB

jpnn.com - JAKARTA - Pasangan capres-cawapres Joko Widodo-Jusuf Kalla dan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dinilai memiliki kelebihan serta kelemahan dalam visi-misi. Namun keduanya terlihat kontras dari pasangan capres-cawapres 2014.

“Saya melihat Jokowi-JK memakai Politik Garam (terasa tapi tak kelihatan), dan Prabowo-Hatta memakai Politik Gincu (kelihatan tapi tak terasa),” ucap Peneliti LIPI Ahmad Najid Burhani saat dialog bertajuk ‘Mengulas Visi, Misi, dan Program Dua Calon Presiden/Wakil Presiden’ di Gedung DPD, Jakarta, Rabu (28/5).

BACA JUGA: Datangi Pelajar Nahdliyin, Jokowi Ingin Utamakan Pendidikan Akhlak

Menurutnya, Islam substantif ala Jokowi-JK tak banyak menggunakan simbol dan jargon Islam, serta tak banyak meneriakkan takbir. Namun, semangat dan nilai Islam selalu ditekankan duet tersebut.

“Islam simbolik melihat simbol-simbol keagaman sebagai sesuatu yang sangat penting,” kata Ahmad.

BACA JUGA: Jokowi-JK Dinilai Bukan Sosok Haus Kekuasaan

Ahmad menambahkan, saat kampanye Prabowo-Hatta, kerap kali duet tersebut mengawali acara dengan pembacaan Al-Quran, yang diikuti teriakan takbir. Sedangkan Jokowi, jarang menggunakan simbol agama seperti itu.

“Jokowi-JK naik onthel, alat transportasi bawah. Istilah yang sering dipakai untuk menggambarkan koalisi kali ini adalah koalisi nasionalis versus koalisi syariah,” imbuh dia.

BACA JUGA: Tudingan Jokowi Capres Boneka Dianggap Tak Islami

Sementara itu, Dosen Ekologi Politik IPB Bogor, Arya Hadi Dharmawan mempertanyakan misi ketahanan pangan yang diusung oleh pasangan Jokowi-JK yaitu akan memperbanyak kepemilikan tanah setiap keluarga petani.

“Mereka menginginkan 2 hektar per kepala keluarga, petani di Indonesia jumlahnya 21 juta. Itu berarti harus ada 45-50 juta hektar. Itu tanahnya siapa dan dimana? Ini perlu dikoreksi saya kira,” jelasnya.

Selain itu, mengenai program peningkatan lahan produktif yang diusung Jokowi-JK sebesar 1  juta hektar per tahun.  “Sayangnya, dalam misi tersebut Jokowi-JK tidak  memberikan penjelasan rinci bagaimana untuk mencapai target tersebut,” pungkas Arya.

Arya menambahkan, sedangkan misi dari pasangan Prabowo dan Hatta menargetkan pertumbuhan ekonomi dapat stabil di kisaran 7 persen setiap tahunnya. Padahal misi tersebut selama ini juga diusung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.  

“Misi itu tidak realistis karena jika pertumbuhan ekonomi ditargetkan 7 persen dan kemudian dikorelasi dengan angka inflasi yang sebesar 7 persen maka pertumbuhan menjadi 0 persen. Saya mengkritisi keduanya, coba realistis masalah pertumbuhan ekonomi,” ujar Arya.

Selain itu, pembuatan visi dan misi ini menurutnya tidak terlalu melibatkan pribadi dari masing-masing pasangan calon presiden dan calon wakil presiden. Hal tersebut diketahui karena ada beberapa janji dalam kampanye yang dilakukan oleh dua pasangan tersebut, tidak tertera dalam visi misi.

“Menurut saya ini tim suksesnya juga seharusnya lebih mengerti tentang yang sesungguhnya,” ulas Arya.

Di kesempatan yang sama, Wakil Ketua Umum DPP PAN Drajad Hari Wibowo menilai Pasangan Prabowo-Hatta telah berjanji kepada Indonesia sudah tak bergantung pada utang luar negeri di akhir jabatannya pada 2019.

Apa yang menjadi cita-citanya itu sudah tertuang dalam dokumen visi misi yang berjudul ‘Membangun Indonesia yang Bersatu, Berdaulat, Adil, Makmur serta Bermartabat’ yang sudah diserahkan ke KPU beberapa waktu lalu.

“Jadi tim Prabowo-Hatta tegas untuk tidak ingin tergantung utang luar negeri yang menjajah selama ini,” imbuh dia. (fdi)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Tes CPNS 2014 Tinggalkan Model LJK


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler