Politisi PAN Ini Bilang Indonesia Perlu Dirikan Rumah Sakit di Makkah dan Madinah

Jumat, 25 September 2015 – 01:35 WIB
Petugas sedang mengevakuasi korban Tragedi Mina. Foto: aljazeera

jpnn.com - BATAMKOTA - Masalah kesehatan selalu menjadi satu sorotan penting dalam setiap pelaksanaan ibadah haji. Sebab, sebagian besar jamaah haji Indonesia berada dalam usia senja. Di usia tersebut, gangguan kesehatan seringkali terjadi. 

Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Asman Abnur menilai, pemerintah perlu mendirikan rumah sakit di Makkah dan Madinah. Rumah sakit inilah yang nantinya khusus melayani perawatan kesehatan jamaah Indonesia yang melakukan ibadah haji dan umrah. 

BACA JUGA: FHI Klaim Guru Honorer di Indonesia Rerata S1

"Tapi kalau di hari biasa, bisa melayani publik juga. Supaya alatnya nggak mubazir," ujar Asman Abnur, Kamis (24/9).

Ide itu muncul usai ia meninjau pelaksanaan ibadah haji di Arab Saudi, beberapa waktu lalu. Fokus perhatiannya pada masalah kesehatan. Selama ini, pemerintah menerapkan sistem sewa rumah sakit untuk pelayanan kesehatan jamaah haji dan umrah asal Indonesia. Padahal, pasti ada saja gangguan kesehatan yang dialami jamaah Indonesia di sana. 

BACA JUGA: Staf Kemenag Ungkap Penyebab Tragedi Mina

Satu contohnya dalam pelaksanaan ibadah haji tahun ini. Kondisi cuaca yang ekstrem tengah melanda Arab Saudi. Suhu udara di sana mencapai 58 derajat celcius. Suhu udara ini berbeda dengan kondisi di tanah air.

"Kemarin itu, banyak jamaah kita di sana mengalami dehidrasi," ujarnya. 

BACA JUGA: Ini Komentar Ustadz Yusuf Mansur tentang Tragedi Mina

Komisi IX DPR RI, kata Asman, akan mendorong pemerintah untuk mewujudkan rumah sakit tersebut. Pemerintah dapat bekerjasama dengan sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk masalah pendanaan. 

Untuk urusan tenaga medis, Kementerian Kesehatan memiliki dua pilihan. Dapat merekrut tenaga medis dari Arab atau dari Tanah Air. Namun, ia menganjurkan untuk mendatangkan dokter dari Indonesia. Sebab, dokter Indonesia lebih mengetahui tipikal kesehatan orang Indonesia ketimbang dokter-dokter dari Arab.

"Soalnya, kalau dokter Arab itu sudah banyak menangani pasien dari negara-negara yang berbeda," kata Asman lagi. 

Selain itu, Asman juga menganjurkan adanya sebuah sistem kesehatan haji nasional. Ini sebuah sistem kesehatan terpadu yang dioperasikan secara online. Mulai dari embarkasi, tim medis jamaah haji harus sudah memonitor kondisi kesehatan jamaah hajinya. 

"Jadi, jamaah-jamaah yang mau berangkat itu sudah harus ada record individu. Kemudian itu menjadi database di Arab Saudi," tuturnya.

Selama ini, monitoring kondisi kesehatan jamaah haji dilakukan secara manual. Catatan riwayat kesehatan itu tidak terdata secara komprehensif. Dengan adanya sistem ini, kondisi kesehatan jamaah haji ini akan lebih terpantau.

"Setelah saya melihat kondisi di Makkah, Madinah, Jeddah, sampai airport, rasanya, mesti ada sistem itu," katanya. (ceu/ray)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Ini Ucapan Duka dan Harapan Ketua DPD RI Tentang Tragedi Mina


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler