Polusi Udara Memburuk, Pakar Punya Solusi Konkret, Begini

Rabu, 30 Agustus 2023 – 16:19 WIB
Polusi udara di Jakarta. Foto: Natalia Laurens/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Polusi udara yang makin memburuk, terutama di kota besar, seperti DKI Jakarta, menyedot perhatian berbagai pihak.

Pakar Paru Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Dr Erlina Burhan, M.Sc, Sp.P(K) mengingatkan bahwa durasi paparan polusi udara berdampak pada tubuh sehingga sebaiknya membatasi keluar rumah.

BACA JUGA: Ini Saran Gilbert Simanjuntak Agar Polusi Udara di Jakarta Dapat Teratasi

Selain itu, Erlina Burhan mengimbau masyarkat untuk melakukan monitoring sebelum keluar rumah.

"Kalau terpaksa harus keluar rumah walau monitoring menunjukkan merah atau ungu, sebentar saja karena durasi paparan memengaruhi dampak yang terjadi," ujar Erlina dalam webinar media "Sadari, Siaga, Solusi Terhadap Mutasi Virus Pada Masa Endemi COVID-19", Rabu (30/8).

Erlina menyebut polusi udara tak bisa dianggap sepele, karena dampaknya bisa mempengaruhi organ tubuh termasuk paru-paru dan jantung.

BACA JUGA: Polusi Udara Tinggi, Heru Budi Bakal Bentuk Satgas

Oleh karena itu, Erlina menyarankan masyarakat tetap menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), serta menggunakan masker agar polutan tak terhirup.

"Apalagi kalau tahu dari data yang cukup tinggi PM 2.5 yang ukurannya sangat kecil mungkin dianjurkan pakai masker respirator atau N95," Kata Erlina.

Menurut Erlina, dengan memakai masker maka diharapkan masyarakat dapat mencegah dampak buruk polutan sekaligus COVID-19.

"Alhamdulillah COVID-19 terkendali tetapi tetaplah PHBS, dengan adanya polusi udara kita kembali lagi pakai masker kan sudah terbiasa tiga tahun pakai masker. Sekarang orang senang pakai masker, kelihatan lebih muda," kata dia.

Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Prof drh Wiku Bakti Bawono Adisasmito, M.Sc., PhD, mengutarakan bahwa masker yang dipakai masyarakat sama saja dengan saat pandemik COVID-19.

"Pakai masker saja dan kalau di rumah pastikan debu dan lainnya tidak boleh ada supaya kita selalu terjaga sehat di mana kita berada," penjelasan Wiku.

Wiku menambahkan dampak polusi udara berbeda dengan Covid-19 efeknya cepat sekali sehingga menyebabkan seseorang sakit, tetapi dampak polutan relatif lebih lama karena perlu masuk ke sirkulasi darah dahulu dalam jumlah banyak.(antara/jpnn)

Video Terpopuler Hari ini:


Redaktur & Reporter : Elvi Robiatul

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler