Pondok Gontor 2 Klaster Baru Covid-19, Begini Respons Gus Jazil MPR

Minggu, 12 Juli 2020 – 13:55 WIB
Wakil Ketua MPR RI, Dr. H. Jazilul Fawaid. Foto: Humas MPR RI

jpnn.com, JAKARTA - Wakil Ketua MPR RI Jazilul Fawaid kecewa atas sikap Bupati Ponorogo, Ipong Muchlissoni, yang menyalahkan santri saat kembali ke pondok pesantren di Ponorogo tidak melengkapi diri dengan surat keterangan rapid test.

Jazilul Fawaid memahami aturan di Kota Reog yang mengharuskan para santri yang kembali ke pesantren agar melengkapi diri dengan surat keterangan rapid test.

BACA JUGA: Pasutri di Trenggalek Positif Terpapar Covid-19

“Tetapi jangan seolah-olah menyalahkan santri, orang tua santri, dan pengasuh pesantren,” ujarnya, Jakarta, 12 Juli 2020.

Menurut Wakil Ketua Umum PKB itu, untuk ukuran orang tua santri, melakukan rapid test untuk anaknya, disebut tidak mudah dan tidak murah.

BACA JUGA: Hasil Rapid Test 25 Tenaga Medis di RSUD Moewardi Solo Reaktif, Ini Instruksi Khusus Ganjar

“Biayanya hampir Rp 400.000-an per anak,” ungkapnya.

Jazilul Fawaid yang akrab disapa Gus Jazil ini berani mengatakan demikian sebab dirinya tahu dari 3 keponakan yang nyantri di Pesantren Gontor di mana mereka diminta biaya rapid test dan bayar bis rombongan.

BACA JUGA: Jazilul Fawaid: Alhamdulillah, Ety Toyyib Pulang Setelah Ditebus Rp 15,5 Miliar

Pria asal Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, itu berharap Pemerintah Kabupaten Ponorogo tidak hanya memberi himbauan namun juga harus membantu para santri.

Menurutnya, semestinya para santri dibantu, disubsidi, bahkan digratiskan dalam masalah rapid test. Hal demikian disebut Gus Jazil bukan mengada-ada karena di tengah pandemi Covid-19, pendapatan para wali (orangtua) santri menurun.

Di sisi yang lain pengeluaran untuk anaknya bertambah bila adanya kewajiban untuk rapid test dengan biaya sendiri.

“Belum lagi dengan kebutuhan lain seperti buku, seragam, dan uang asrama,” tuturnya.

Membantu rapi test kepada para santri diakui oleh Koordinator Nasional Nusantara Mengaji itu sangat mungkin sebab saat ini penyerapan anggaran di Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan masih tergolong rendah.

"Kalau masih rendah penyerapan anggarannya, kenapa tidak dialokasikan sebagian untuk para santri. Misalnya dengan mendirikan pelayan rapid test gratis untuk para santri,” ujar Gus Jazil.

Skenario kedua untuk membantu para santri dalam soal rapid test, Gus Jazil mengusulkan Pemerintah Kabupaten Ponorogo bisa bekerja sama dengan pemerintah kabupaten atau kota dan provinsi dari asal santri. “Kan bisa bersinergi antar pemerintah daerah,” ucapnya.

Lebih lanjut dikatakan, sinergi antar pemerintah kabupaten, kota, provinsi, dan pusat menurutnya mestinya dilakukan.

“Agar program yang ada bisa dijalankan sesuai rencana dan terintegrasi,” ujarnya.

Politikus PKB ini mengingatkan jangan sampai masalah sudah besar baru kemudian minta bantuan.

Bantuan kepada pesantren dalam masalah fasilitas kesehatan dalam pencegahan Covid-19, Gus Jazil menyebut sudah lama diperjuangkan.

“Syukur aspirasi kita sudah ditanggapi Istana,” paparnya.

Gus Jazil bersuara keras terhadap masalah ini sebab Pondok Pesantren Gontor 2 Ponorogo, Jawa Timur, menjadi klaster Covid-19. Di pesantren favorit itu ada ribuan santri. Tercatat hingga Sabtu, 11 Juli 2020, 12 santri positif terjangkit Covid-19.(jpnn)

Simak! Video Pilihan Redaksi:


Redaktur & Reporter : Friederich

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler