Prabowo Antiklimaks

Rabu, 23 Juli 2014 – 07:12 WIB

jpnn.com - JAKARTA - Langkah Calon Presiden  (Capres)  Prabowo Subianto menarik diri dari proses pemilihan presiden sangat disayangkan oleh  banyak kalangan.

Padahal, saat itu Komisi Pemilihan Umum (KPU) tinggal merampungkan rekapitulasi akhir provinsi  DKI Jakarta, Papua, dan Sumatera Utara, untuk melengkapi rekapitulasi 29 provinsi yang telah selesai sebelumnya.
    
Pengamat politik Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta Gun Gun Heryanto mengtatakan, apa yang dilakukan oleh capres nomor urut 1 itu sangat tidak elegan dan menjadi antiklimaks dari langkah besarnya  selama ini.
    
“Saya katakan antiklimaks, karena dari berbagai tahapan sejak pencapresan, masa kampanye, dan lain-lain, sebenarnya banyak yang mengapresiasi langkahnya yang mengaku akan menjunjung tinggi proses demokrasi,” katanya  kepada INDOPOS (Grup JPNN), kemain (22/7).
    
Dia menjelaskan, harusnya Prabowo tidak terburu-buru. Hormati dulu KPU sebagai  penyelenggara  pemilu  untuk menuntaskan rekap nasional baru kalau ada ketidaksepakatan dan keberatan bisa menggugat lewat  Mahkamah  Konstitusi (MK).  

BACA JUGA: Amien: MK Bukan Opsi Lagi

Lebih lanjut, Gun Gun menyatakan apa yang dilakukan Prabowo perlu dikhawatirkan akan menstimulasi hubungan antagonistik di masyarakat. Bukannya berakhir tapi bisa makin memperuncing.

“Padahal bangsa Indonesia sudah cukup terpolarisasi  tajam selama tahapan pilpres berlangsung,” tambahnya.
    
Masyarakat, kata Gn Gun, butuh kepastian dan kenyamanan. Salah satunya kepastian siapa yang memenangi pilpres. “Hal lebih besar harusnya dipertimbangkan oleh Prabowo yakni kohesi sosial,” pungkasnya. (dli)

BACA JUGA: Kubu Prabowo Klaim Akan Terus Berjuang Hingga ke MK dan DPR

 

BACA JUGA: KSAD: Saya Bukan Pengkhianat

BACA ARTIKEL LAINNYA... Inilah Tokoh yang Dorong Prabowo Tolak Hasil Pilpres


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler