Prabowo - Sandi Disarankan Tiru Jokowi – Ma'ruf Amin

Selasa, 20 November 2018 – 06:02 WIB
Jokowi riding ke pasar Anyar, Banten, Minggu (4/11). Foto: Setpres/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Pasangan calon presiden Jokowi - Ma'ruf Amin dinilai belakangan ini banyak bermain dengan metafora , menggunakan istilah-istilah yang tak biasa untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat.

Misalnya Jokowi, memunculkan kata sontoloyo dan gendoruwo. Sementara Maruf Amin menggunakan metafora budek - buta.

BACA JUGA: Jokowi - Maruf Dapat Dukungan dari Pedagang Pecel Lele

"Bedanya, metafora yang dipakai Jokowi berasal dari rahim budaya Jawa, sementara metafora yang dikemukakan Kiai Maruf berasal dari literatur Alquran," ujar pengamat politik Afriadi Rosdi kepada JPNN, Senin (19/11).

Afriadi lebih lanjut mengatakan, penggunaan metafora menunjukkan kejeniusan dalam berkomunikasi. Karena ada kecenderungan di masyarakat, pesan yang ingin disampaikan seorang pemimpin sangat mudah dipahami ketika disampaikan lewat metafora.

BACA JUGA: PA 212 Bantah Pernyataan Kapitra soal Kiai Ma’ruf

"Metafora atau penggunaan istilah yang tepat akan memperjelas makna sekaligus meminimalkan distorsi. Ia beresonansi secara langsung dengan emosional pendengar, maka akan langsung klik," ucapnya.

Ketua Pusat Kajian Literasi Media ini juga menilai, metafora membantu komunikasi kepemimpinan menjadi efektif dalam menyampaikan pemahaman terhadap maksud yang diinginkan.

BACA JUGA: Hasto Semangati Kader PDIP Lamongan demi Jokowi - Maruf

Artinya, seorang pemimpin tak lagi harus berbusa-busa menggunakan kalimat yang panjang dalam menyampaikan pesan utama. Apalagi kalimat panjang bisa menyebabkan distorsi atau noise, dimana maknanya bisa dipahami secara berbeda oleh pendengar.

"Saya kira metafora efektif menyampaikan pesan, karena berasal dari rahim budaya masyarakat. Masyarakat sudah mengerti maknanya tanpa harus dijelaskan. Dengan demikian pesan utama yang ingin disampaikan dicerna secara tepat dan cepat," tuturnya.

Karena itu, kata Afriadi kemudian, tidak ada salahnya pasangan calon presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Salahudin Uno meniru terobosan yang telah diambil Jokowi - Amin. Caranya, dengan mencari dan menemukan metafora-metafora dari kultur Indonesia, agar pesan yang ingin disampaikan langsung klik dan menghunjam kesadaran masyarakat.

"Jika kedua pasangan calon presiden yang ada pintar bermain metafora, itu akan menambah bobot kampanye pilpres. Tapi tentunya diharapkan metafora yang digunakan, dapat membangkitkan optimisme dan harapan, metafora yang menguatkan ikatan berbangsa dan bernegara," pungkas Afriadi. (gir/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Hasto: PDIP Bertanggung Jawab Memenangkan Jokowi - Maruf


Redaktur & Reporter : Ken Girsang

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler