Pratama: Serangan Web KPU Tak Mengubah Hasil Pilkada

Sabtu, 18 Februari 2017 – 10:43 WIB
ILUSTRASI. FOTO: JPNN.com

jpnn.com - jpnn.com - Praktisi keamanan siber Pratama Persadha mengatakan, serangan ke website Komisi Pemilihan Umum (KPU) tidak perlu membuat gusar masyarakat. Pasalnya, Indonesia tidak menggunakan electronic vote atau pemungutan suara dengan sistem digital, sehingga tidak akan mengubah hasil perolehan suara.

Indonesia masih memakai cara tradisional dalam pilkada kali ini. Jadi web KPU hanya sebagai salah satu sarana jembatan informasi, bukan termasuk dalam sistem pemilu itu sendiri.

BACA JUGA: Hampir Kelar, Sa’duddin-Ahmad Dhani...Beraaat

“Suara sah dihitung dari berkas TPS sampai ke pusat, jadi selama berkas dipegang setiap pasangan calon saya rasa tidak akan ada masalah,” katanya, Sabtu (18/2).

Pratama menambahkan, sebaiknya KPU memperkuat keamanan sistemnya. Walau tidak menjadi bagian integral sistem perhitungan suara dalam pemilu dan pilkada tanah air, web KPU akan tetap dianggap masyarakat sebagai salah satu rujukan terbaik pelaksanaan dan hasil pemilu.

BACA JUGA: Terbukti, Masyarakat Semakin Dewasa Berdemokrasi

“Walau bukan bagian integral perhitungan suara, peretasan terhadap web KPU tetap menimbulkan keresahan di tengah masyarakat," katanya.

Pratama menjelaskan, KPU juga sebaiknya melakukan audit keamanan sistem informasi di lingkungannya secara berkala. Ada Lembaga Sandi Negara yang sudah berpengalaman mengamankan sistem informasi milik pemerintah. Audit keamanan sistem informasi KPU sangat penting, utamanya mengetahui mana saja bagian yang perlu mendapatkan peningkatan keamanan.

BACA JUGA: Polisi Jalankan Misi 3M, Nih Buktinya

“Selain itu juga yang penting adalah peningkatan kesadaran keamanan cyber di lingkungan KPU, tidak terkecuali para komisionernya,” jelasnya.

Chairman lembaga riset keamanan cyber CISSReC (Communication and Information System Security Research Center) ini menjelaskan serangan yang hampir membuat down server KPU tersebut kemungkinan besar menggunakan DDoS (Distributed Denial of Service). Sebuah metode serangan dengan menggunakan ribuan bahkan jutaan zombie system yang mengirimkan paket data secara berulang-ulang sehingga sumber daya komputer atau sistem yang diserang tidak berfungsi.

“Saat server down praktis sebenarnya tidak ada yang bisa mengubah data, kecuali mempunyai akses fisik langsung terhadap server,” katanya.

Pratama menambahkan, saat menggunakan TOR browser, website KPU masih bisa dapat diakses. TOR browser ini bisanya digunakan oleh peretas untuk menyamarkan dirinya di internet. Ini membuktikan bahwa tidak ada filtering terhadap siapa saja untuk mengakses dan menyerang KPU.

“Seharusnya KPU dari awal memblock IP yang berpotensi digunakan oleh peretas untuk mengakses KPU,” terangnya.

Sebagai contoh, seharusnya KPU sudah melakukan block terhadap tor-exit node yang terdapat dalam https://check.torproject.org/cgi-bin/TorBulkExitList.py?ip=103.21.228.212&port=

Pratama juga mengimbau agar masyarakat bisa lebih tenang dan tidak termakan oleh banyaknya broadcast yang beredar di WhatsApp maupun media sosial.

“Serangan terhadap web KPU tidak akan mengubah hasil pilkada, karena setiap pasangan telah mempunyai formulir bukti penghitungan suara, bahkan digandakan demi keamanan," pungkasnya.(boy/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Waduh, Penghitungan Suara Pilkada Hanya Diterangi Lilin


Redaktur & Reporter : Boy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler