Produk Palsu Rugikan Negara Rp 37 Triliun

Kamis, 20 Mei 2010 – 07:20 WIB
JAKARTA  - Kerugian akibat praktek pemalsuan di sektor industri telah menimbulkan kerugian hingga triliuna rupiahData dari Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan (MIAP) menyebutkan gara-gara praktek ilegal itu setidaknya dunia industri merugi hingga Rp 37 triliun. 

Ketua MIAP Widyaretna Buenastuti mengatakan, pemalsuan di Indonesia setiap tahun terus meningkat

BACA JUGA: Rusia Lirik Tepung Kelapa Sulut

Ini lantaran lemahnya pengawasan dari pihak pemerintah
Pemalsuan menyebabkan kerugian pada 12 sektor industri

BACA JUGA: Demi Listrik, Dahlan Rela Dipenjara

Industri tersebut adalah minuman non-alkohol, rokok, produk kulit, alas kaki, pestisida, farmasi, kosmetik, otomotif dan pelumas, pompa air, peralatan kantor, perkakas ringan, dan suku cadang kendaraan.

Widya menjelaskan, pada 2005 lalu, LPEM FEUI dan MIAP mengadakan studi tentang dampak pemalsuan produk terhadap 12 sektor industri
Pada penelitian tersebut, diperkirakan kerugian yang dialami oleh industri berkisar Rp 4,4 triliun.

Dan data terkini dari studi serupa, kerugian tersebut meningkat sembilan kali lipat menjadi Rp 37 triliun

BACA JUGA: Pertamina Berpotensi Rugi Rp 3,1 T

“Dulu kerugian sekitar 4 triliun, sekarang jadi Rp 37 triliunDampaknya signifikan terhadap perekonomian negeri ini,” kata Widya di Jakarta.

Dia merinci, kerugian dari yang terbesar adalah di sektor kosmetik (16 persen), pesticides (15 persen), footwear (10 persen), leather (10 persen), office and electronics equipments (10 persen), cigarettes (10 persen), non-alchoholic beverages (10 persen), automotive parts (10 persen), water pumps (4 persen), dan automotive and machinery lubricants (3 persen).

Dampak lain dari pemalsuan produk lainnya adalah potensi kehilangan penerimaan pajak dan berkurangnya tenaga kerjaUntuk penerimaan pajak, negara berpotensi kehilangan Rp 202,76 miliarSedangkan, di sektor tenaga kerja akan berkurang sebanyak 124 ribu orangSaat ini, estimasi kesempatan kerja yang hilang itu sebesar 174 ribu

“Selain kerugian ekonomi, lapangan pekerjaan ternyata sangat menjadi hal yang cukup menyedihkanKalau kita melihat employment rate, adanya pemalsuan bukan berarti menambah, tapi mengurang lapangan pekerjaan,” jelasnyaDampak lainnya, sambung dia, keselamatan dan kesehatan masyarakat yang mengkonsumsi barang-barang palsu, seperti makanan, obat, dan kosmetik.
 
Untuk itu dia meminta kepada pemerintah berperan aktif mengkampanyekan  berupa edukasi tentang bahaya pemalsuan “Kita juga melihat bagaimana mengkampanyekan antipemalsuanBagaimana masyarakat bisa mendapat barang yang asli dan bisa membedakan mana yang palsu dan asli,” ujarnya(lum)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Dirut PLN Apresiasi Tri Mumpuni


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler