Pusing Nih Tertibkan Pelajar yang Bawa Motor

Selasa, 11 Oktober 2016 – 19:05 WIB
Pelajar membawa kendaraan. Foto: dok.JPG

jpnn.com - PONTIANAK - Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informasi Kota Pontianak makin sibuk saat ini.

Pasalnya, dishub harus terus merazia pelajar di bawah umur yang mengendarai sepeda motor ke sekolah.

BACA JUGA: BNN Diminta Seriusi Kasus Narkoba Calon Kada Bombana

Meski dilakukan sejak September, sampai saat ini, masih ada saja yang melanggar.

Misalnya, yang terjadi di SMPN 16, Jalan RE Martadinata, Pontianak Barat, Kalbar. Untuk kali pertama, dishubkominfo melakukan razia di sekolah itu.

Dari temuan di beberapa titik di sekitar sekolah, lebih dari 20 sepeda motor berhasil diamankan dan dirantai.

Kendaraan tersebut tak akan dikembalikan sebelum orang tua siswa datang langsung ke sekolah.

BACA JUGA: Penantian Panjang, 9 Tahun Menunggu Istri Pertama Ceraikan Suami

Para siswa sekaligus menandatangani surat pernyataan tidak akan mengulangi perbuatan itu.

Mega, salah seorang pelajar yang terjaring, mengaku sudah mengetahui larangan membawa kendaraan bermotor untuk pe­lajar di bawah umur.

Namun, siswa kelas IX tersebut beralasan, bila diantar orang tua, dia malah sering terlambat.

Selain itu, dia juga pernah pergi ke sekolah dengan sepeda. Namun, dia merasa sangat kelelahan. Sebab, lokasi rumah dan sekolahnya cukup jauh.

BACA JUGA: Polda DIY Siap Saja Jika Kongres PSSI di Jogja

"Rumah saya berada di dekat jembatan Nipah Kuning, batas Kota Pontianak. Bawa motor juga kadang-kadang. Tergantung diantar atau tidak," ungkapnya.

Kepala SMPN 16 Pontianak Elly Utarie Yuniar menerangkan, pihak sekolah sering memberikan sosialisasi.

Hampir setiap apel Senin, masalah itu terus diingatkan.

Bahkan, baru seminggu lalu, diagendakan pertemuan dengan orang tua murid kelas IX untuk membahas hal tersebut.

Karena itu, dia sangat menyayangkan masih adanya siswa yang membawa kendaraan. Apalagi, banyak siswa perempuan yang terjaring razia tersebut.

 "Perhatian kami memang kepada siswa lelaki. Kaget juga ternyata banyak yang perempuan. Padahal, waktu pertemuan dengan orang tua murid, mereka menyanggupi anaknya tidak akan membawa motor," jelasnya.

Menurut Elly, dari awal menjabat kepala sekolah, dirinya sudah memberikan larangan penggunaan sepeda motor kepada seluruh siswa.

 Sampai-sampai, pemilik lahan di depan sekolah yang menyediakan lahan parkir sempat dikomplain.

"Tidak kurang 200 motor parkir di sana. Namun, kini sudah tidak ada. Mungkin dia komplain karena merasa pen­dapatannya berkurang. Kami sudah tawarkan fasilitas untuk bikin kantin di sekolah, tapi mereka tidak mau," katanya.

Ditemui di lokasi, Kepala Dishubkominfo Pontianak Utin Sri Lena menyatakan, sejak dirazia, jumlah siswa yang berkendara sepeda motor berkurang drastis. Misalnya, di SMPN 12 dan SMPN 9.

Untuk pelajar di SMPN 16, menurut dia, lokasi parkir tersebar di sejumlah titik. Tak hanya di pekarangan warga dalam gang, tapi juga warung-warung internet.

"Penyedia parkir yang hari ini diambil KTP-nya kami laporkan. Mereka sudah tanda tangan surat pernyataan untuk tidak akan menyediakan parkir lagi. Terbukti, tidak ada lagi yang berani," jelasnya. (bar/c5/ami/flo/jpnn)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Priben Kiye, Pemandu Lagu Karaoke kok Pada Hamil?


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler