Ratusan Kera Liar Menyerang Tanaman, Petani Percaya Mitos

Senin, 30 Oktober 2017 – 09:43 WIB
Warga menunjukkan seekor kera yang berhasil ditangkap. Foto: Latiful Habibi/Radar Ponorogo/JPNN.com

jpnn.com, PONOROGO - Kawanan kera liar menyerang tanaman milik para petani di Dusun Tenun dan Pamongan, Desa Broto, Kecamatan Slahung, Ponorogo, Jatim.

Sekali datang menyerang, kera liar yang diduga berasal dari hutan kawasan Gunung Kotak dan Gunung Pringgitan jumlahnya puluhan bahkan ratusan ekor.

BACA JUGA: Hari Ini Mahasiswa Akper Ponorogo Gelar Aksi Lagi

Tidak hanya merusak tanaman, mereka juga menghabiskan buah atau hasil pertanian seperti jagung, ketela dan kacang tanah.

‘’Semuanya tanaman pertanian seperti jagung, ketela dan buah-buahan habis diserang kera liar,’’ kata Nyoto, salah seorang petani di Dusun Pamongan, Desa Broto kemarin (29/10).

BACA JUGA: Koko, Anggota KOKAM yang Dibekuk Densus 88

Nyoto menambahkan, serangan kera liar sebenarnya sudah terjadi bertahun-tahun. Namun, lebih sering muncul saat musim kemarau atau kala buah-buahan di hutan mulai habis. Itu bisa dipastikan karena kemunculan kera berbulu abu-abu itu tidak sepanjang tahun.

Kera menyerang tanaman warga di kebun, ladang atau sawah. Belakangan, tiga bulan terakhir kera liar kembali menyerang.

BACA JUGA: Diintai 8 Bulan, Koko Ditangkap Densus 88

‘’Datangnya nggak bisa dipastikan, kadang hari ini setelah itu menyerang lagi tiga hari kemudian. Biasanya sore,’’ paparnya.

Saat kera liar menyerang, lanjut Nyoto, biasanya petani bisa langsung menyaksikan. Saat itu biasanya warga hanya menghalau dengan alat seadanya atau membiarkan.

Mereka tidak berani membunuh kera-kera liar itu lantaran ada mitos bahwa membunuh kera akan berdampak buruk pada kehidupan warga.

‘’Tapi kalau terpaksa ya tetap ditembak, misalnya menyerang tiba-tiba,’’ jelasnya.

Mengantisipasi serangan pada tanaman, sebagian petani memasang jaring sebagai pelindung.

Miseni, petani di Dusun Tenun, Desa Broto mengatakan, kera liar menyerang karena ekosistem hutan sudah berubah.

‘’Saya yakin kera-kera liar itu sebenarnya juga bukan dari sini, tapi dari daerah lain yang hutannya mulai rusak. Sebab, dari dulu tidak ada kera liar sebanyak ini di desa kami,’’ paparnya.

Akibat serangan kera liar itu, para petani menjadi waswas untuk memulai musim tanam. Sebab, hampir semua tanaman dirusak oleh kera liar, termasuk padi, sekalipun tidak dimakan.

Saat ini, lanjut Miseni, ada sekitar 50 petani dengan luas areal pertanian dan perkebunan mencapai sekitar 11 hektare yang dihantui serangan kera liar. Terakhir, pada Sabtu (28/10) lalu ada ratusan kera liar turun menyerang tanaman jagung warga.

‘’Saya sempat dengar dan melihat ada petani yang berteriak menghalau kera-kera itu. Jumlahnya memang tidak sebanyak sebelumnya, tapi mencapai seratusan ekor,’’ terangnya.

Miseni mengaku belum tahu, ditanya solusi menghindari serangan kera liar. Saat ini warga menghalaunya dengan senapan angin atau benda lain, tapi sifatnya sementara. Jika terlena, ratusan kera itu akan turun dan kembali menyerang tanaman.

Miseni mengungkapkan, warga tidak berani membunuh kera liar tersebut lantaran takut termasuk hewan dilindungi. Tapi bagi para petani, saat ini kera liar itu sudah menjadi hama.

‘’Kami berharap ada pihak yang tahu bagaiman mengatasi serangan ini dengan aman dan kera liar tidak kembali lagi,’’ paparnya. (tif/irw)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Sawi Pahit Dihargai Rp 400 Per Kg, Petani Kembali Menjerit


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag
Kera liar   petani   Ponorogo  

Terpopuler