Raup 28 Triliun, Pertamina Raih Laba Paling Tinggi

Sabtu, 10 Februari 2018 – 01:05 WIB
Elia Massa Manik. Foto: Imam Husein/Jawa Pos/JPNN

jpnn.com, JAKARTA - PT Pertamina (Persero) paling moncer di antara badan usaha milik negara (BUMN) kelompok bidang usaha pertambangan, industri strategis, maupun media sepanjang 2017.

Di antara 22 BUMN dalam kelompok usaha tersebut, Pertamina mencatatkan perolehan laba tertinggi.

BACA JUGA: Legalitas Holding Migas Tunggu Tanda Tangan Pak Jokowi

Total laba Pertamina selama 2017 mencapai Rp 28,823 triliun. Angka tersebut naik jika dibandingkan dengan laba 2016 sebesar Rp 19,895 triliun.

Deputi Bidang Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno menyatakan, kontribusi dari keseluruhan BUMN yang semula diharapkan Rp 217 triliun menjadi Rp 675 triliun.

BACA JUGA: Faktor Cuaca jadi Kendala Pengiriman BBM ke Karimun Jawa

”Dari 2015–2017, pada 2015 ada 15 BUMN yang mencapai laba. Ini angka perkiraan. Di 2017 ada 21 BUMN yang mengalami laba dan pada 2015 ada 7 BUMN yang rugi,” ujar Fajar, Kamis (8/2).

Dia menambahkan, secara umum kinerja untuk klaster tersebut meningkat.

BACA JUGA: Biaya Pembangunan Kilang Bontang Rp 130 Triliun

Menurut catatan Kementerian BUMN, laba dari klaster itu naik sejak 2015. Pada 2015, total laba BUMN kelompok usaha tersebut mencapai Rp 29,212 triliun.

Pada 2017, total laba mereka meningkat menjadi Rp 36,977 triliun. Dari angka tersebut, laba Pertamina mendominasi, yakni Rp 28,823 triliun.

Diikuti PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk senilai Rp 1,403 triliun. Angka itu turun jika dibandingkan dengan laba perseroan pada 2015 sebanyak Rp 5,556 triliun.

Selanjutnya, ada PT Bukit Asam Tbk yang menempati posisi ketiga dengan capaian laba Rp 4,392 triliun.

Angka itu meningkat lebih dari dua kali lipat jika dibandingkan dengan 2015 sebesar Rp 2,037 triliun.

Posisi berikutnya adalah PT Inalum dengan laba Rp 1,017 triliun atau turun tipis ketimbang 2016 sebesar Rp 1,059 triliun.

Direktur PT Pertamina (Persero) Elia Massa Manik mengatakan, pada 2017 perseroan berhasil mencatatkan pendapatan USD 42,86 atau naik 17 persen jika dibandingkan dengan 2016.

”Di tengah kenaikan ICP 27 persen, Pertamina berusaha menekan biaya OPEX di angka 26 persen,” ujar Elia.

Hal tersebut juga berdampak pada penurunan laba perusahaan sebesar 24 persen jika dibandingkan dengan 2016. EBITDA perseroan juga merosot 6,79 persen.

”Ini memang fluktuatif dari tahun ke tahun karena harga crude,” tutur Elia.

Untuk investasi di sektor hulu, belanja modal (capital expenditure/capex) perseroan tahun lalu USD 3,6 miliar.

Adapun total capex perseroan tahun ini USD 5,59 miliar atau naik 37 persen. (vir/c6/fal)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Good, Jurus Pertamina Bangun Kilang Bontang Memang Yahud


Redaktur & Reporter : Ragil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler