Death is at the centre of life in Tana Toraja — this ritual is how they honour those who have passed.

Demikian bunyi sepenggal kalimat yang diceritakan Nandira Xavier, perempuan keturunan Toraja, yang tinggal di kawasan Endeavour Hills di Melbourne, Australia.

BACA JUGA: PBB Sebut Great Barrier dalam Bahaya, Australia Tidak Terima

Tulisannya soal ritual upacara adat kematian di Toraja telah memenangkan hati para juri hingga menobatkannya sebagai salah satu pemenang dalam program Takeover Melbourne 2022.

Takeover Melbourne memberikan sebuah platform bagi ratusan anak muda dari berbagai penjuru di kota Melbourne untuk menceritakan identitas mereka lewat seni bercerita atau 'storytelling'.

BACA JUGA: Bule Asal Inggris Berbuat Nekat Terhadap WNA Australia

Bangga dengan kebudayaan

It is there, I learned that this celebration of life embraces the natural cycle of existence.

Families will treat their loved one as if they were still alive, until they are able to gather enough money for the resources to hold a ceremony.

BACA JUGA: AHY Bertemu Sejumlah Pejabat dan Akademisi Australia

Before this ceremony is held, their spirit is also believed to linger on earth.

Afterward, the soul will begin its journey to Puya, the land of the spirits.

Nandira menceritakan pengalamannya saat mengikuti upacara adat di Toraja di tahun 2013.

Menurut Nandira, kematian sering diartikan sebagai topik yang tabu, namun ia berharap dapat menyajikan perspektif baru tentang siklus kehidupan lewat ceritanya.

"Hal ini penting untuk dibicarakan karena bagi kebanyakan orang, termasuk saya sendiri, kematian sering dilihat sebagai sesuatu yang suram dan mengerikan," kata Nandira saat dihubungi Natasya Salim dari ABC Indonesia.

"Apresiasi yang besar terhadap kebudayaan" menjadi alasan mengapa Nandira yang berusia 17 tahun ingin menceritakan bagaimana kematian diperingati kepada warga Australia.

"Saya sangat bangga bisa menjadi bagian dari kebudayaan ini," katanya.

"Saya berharap cerita ini bisa sampai pada mereka yang tertarik untuk mempelajarinya dan agar saya bisa mewakili kebudayaan saya secara positif."

Nandira, anak pertama dari dua orang bersaudara, lahir di Melbourne dari seorang ayah yang berlatar belakang Malaysia dan ibu berdarah Indonesia.

Ia mengatakan sudah beberapa kali ke Indonesia dan ingin bisa terus mengunjunginya.

Kini sudah lulus SMA, Nandira berencana untuk mengambil dua gelar di bidang Hukum dan Studi Global Monash University Melbourne.

"Semoga saya bisa bekerja di bidang di mana saya bisa mempromosikan hubungan Indonesia dan Australia juga di bidang hukum," ujarnya.

Nandira mengaku ia mengerti saat ada yang berbicara Bahasa Indonesia, namun ia ingin mempertajam kemampuannya berbicara dalam bahasa Indonesia.

Bahkan ia sudah menyusun rencana untuk mengikuti program pertukaran pelajar di Indonesia di masa mendatang.Pentingnya anak muda bersuara

Keadilan sosial, politik, dan kebudayaan merupakan beberapa isu yang menjadi perhatian Nandira.

Ia menekankan pentingnya anak muda untuk aktif melakukan 'storytelling' atau bercerita agar bisa belajar dari satu sama lain.

"Menurut saya sangat penting bagi anak muda untuk bercerita karena setiap anak muda pasti punya kisah dan menghargai beberapa hal dalam hidup melebihi sebagian orang," katanya.

"Kita juga punya pengalaman dan latar belakang yang berbeda-beda."

Apalagi dengan adanya media sosial, menurut Nandira, yang bisa membuat kegiatan bercerita menjadi "lebih menyenangkan dan mudah."

BACA ARTIKEL LAINNYA... 4 Nelayan Indonesia Didenda Ratusan Juta di Australia, Harus Dibayar dalam 28 Hari

Berita Terkait