Respons Fahri Hamzah Terkait Polemik Taruna Akmil Enzo

Rabu, 14 Agustus 2019 – 21:58 WIB
Fahri Hamzah. Foto: Instagram fahrihamzah

jpnn.com, JAKARTA - Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah angkat bicara soal polemik taruna Akademi Militer (Akmil) Enzo Zens Allie yang dituding terpapar radikalisme karena memegang bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Untuk diketahui, TNI akhinya tetap meloloskan Enzo sebagai taruna.

“Dalam perjalanan kembali, meninggalkan Tanah Suci, di Jeddah saya terus terpikir tentang #enzozenzallie yang saya tidak kenal. Tetapi karena saya pernah menjadi panja UU Imigrasi yg senapas dengan UU Kewarganegaraan, saya ingin sedikit memberi catatan,” kata Fahri memulai cuitannya di akun Twitter, @Fahrihamzah, sebagaimana dilihat JPNN.com, Rabu (14/8).

BACA JUGA: Panglima TNI Dinilai Sumber Polemik Kasus Catar Enzo

Fahri mengaku tidak kenal Enzo, tetapi mengenal Clovis. Menurut dia, mereka sama-sama berdarah campuran. Ibunya Indonesia, ayahnya Prancis. Fahri kenal ayah Clovis, Rene, dan istrinya Julie, saat menjadi ketua Panitia Kerja UU Imigrasi.

Saat itu, Fahri mengenal dan belajar banyak dari warga negara Indonesia yang menikah dengan WN asing. Lalu, kata dia, lahirlah anak-anak mereka yang memiliki keunikan secara fisik.

BACA JUGA: Fahri Hamzah: Pesan Terakhir Mbah Moen Ini Paling Berkesan Bagi Saya

“UU kewarganegaraan dan UU Imigrasi melalui panja @DPR_RI mengadakan dengar pendapat dgn mereka,” ujarnya.

Lalu, lanjut Fahri, UU memberikan pilihan kepada mereka setelah umur 18 tahun mau memilih menjadi WNI atau WNA, karena Indonesia tidak menganut kewarganegaraan ganda (dual citizenship). “#enzozenzallie dan Clovis telah memilih menjadi WNI. Sesuatu yg hebat,” tegas Fahri.

BACA JUGA: Pesan Mbah Moen yang Dikenang Fahri Hamzah

“Mengapa ini hebat? Karena menjadi warga negara Prancis adalah warga negara yg penuh kemudahan dan jaminan. Satu yang pasti, passport anda akan menjadi passport yang mendapat kemudahan visa ke seluruh dunia. Juga mendapat “baik sangka” sebagai warga dunia kelas satu,” tambahnya.

Dia menambahkan takdir mengantarkan mereka menjadi anak dari pernikahan campuran warga negara. Bahkan juga berbeda agama. Clovis beragama Katolik dan Enzo tampaknya beragama Islam. Enzo berpendidikan dasar di Prancis dan Clovis menempuh pendidikan lanjutan di sana. Keduanya WNA.

“Pak Rene dan Ibu Julie, orang tua Clovis dan sahabat saya punya pabrik di Jogja. Nampaknya mereka mempersiapkan anaknya menjadi penerus usaha keluarga. Sementara ayah #enzozenzallie Jean Paul Francois Allie telah wafat dan Ibunya Siti Hajar dari Sumut menitipnya di Pesantren,” kata Fahri.

Nah, kata Fahri, jadilah Enzo anak pesantren alias santri yang belajar Islam. Suatu hari, kata dia, mungkin Anzo pergi dengan para sahabatnya membawa bendera bertulis kalimat tauhid. “Padahal, ia bercita2 menjadi tentara INDONESIA dan belajar di Akademi Militer, itu mimpinya sejak kecil,” paparnya.

Lantas, kata Fahri, diterimalah Enzo sebagai taruna Akmil dengan nilai yang baik, tetapi malang nasibnya sebuah gambar kehidupannya di pesantren dengan bendera bertulis kalimat syahadat membuatnya dituduh radikal dan terpapar HTI. “Bahkan ada yg menuduh TNI telah kemasukan teroris. #enzozenzallie,” kata Fahri.

“Mungkin saja kita punya persoalan menerima orang dengan nama dan wajah yang unik, Tapi mengapa permainan bendera ini menyeret kita kepada irasionalitas yang terlalu jauh? Apa yang mau kita dapat dari menuduh bendera yang pada masa perang kemerdekaan juga berkibar?” lanjutnya.

Fahri menambahkan, Indonesia dengan demokrasi yang diterapkan dan UU yang dibuat, dirancang untuk memiliki pikiran terbuka. Menyempitnya cara berpikir terutama tentang agama akan membuat negara menyingkir dari kemajuan dunia. “Jangankan menerima tamu, warga sendiri kita curigai,” tegasnya.

Dia menegaskan, jangan mau diadu domba. Anak-anak bangsa seperti Enzo dan Clovis adalah masa depan. Dunia sedang dilengkapi oleh fasilitas komunikasi dan transportasi yang memungkinkan interaksi global terjadi secara masif. “Pikiran kita harus terbuka. Harus waras dan rasional,” kata Fahri.

Politikus asal Nusa Tenggara Barat (NTB) itu berterima kasih kepada petinggi TNI yang telah bersikap benar. “Bahwa #enzozenzallie adalah WNI dengan seluruh haknya untuk menjadi mahasiswa Akademi Militer. Dan karena kemampuannya termasuk bahasa asing, setelah dites dia lulus. Cukup!” ujarnya.

“Pandangan pribadi dan pilihan politik orang bukan dosa di negeri ini. Itu masa lalu, ada banyak yang bangga dengan ideologi komunis, toh jadi pejabat publik. Kenapa pula santri bule ini jadi masalah? Inilah penyakit kambuh kita, mentalitas yg tidak bagus diteruskan,” paparnya.

Dia mengajak memberi kesempatan kepada Enzo dan generasi baru negeri ini yang lebih terbuka pikirannya akibat demokrasi. Jangan rusak mereka dengan konflik ideologi dan politik aliran yang selalu main belakang dalam politik formal.

“Kita harus berani mewariskan zaman baru, sebuah masa yang penuh dialog, keterbukaan dan persaudaraan. Sebuah persatuan yang dibangun di atas percakapan yang sehat dan kesetaraan. Ayo kita mulai. Stop jualan rasa takut San ancaman. Buka hati dan pikiran. Jeddah, 14/8/19,” pungkas Fahri.(boy/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Garbi Mendaftar jadi Parpol Tahun Ini, Fahri Hamzah: Partai Lain Jangan Marah


Redaktur & Reporter : Boy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler