Seorang peretas atau ‘hacker’ remaja asal Australia telah menimbulkan pertanyaan serius tentang keamanan perbatasan setelah ia melarikan diri dari negaranya, meski telah diperintahkan untuk menyerahkan paspornya.

Dylan Wheeler, dari Perth, berusia 17 tahun ketika ia dituduh menjadi bagian dari kelompok yang meretas computer perusahaan Microsoft dan Angkatan Darat Amerika Serikat.

BACA JUGA: Kebun Binatang Sydney Sambut Kelahiran Bayi Monyet Langka ‘Nangua’

Para peretas itu dituduh mencuri kekayaan intelektual senilai 100 juta dolar (atau setara Rp 1,3 triliun).

Hampir tiga tahun kemudian – ketika menghadapi kemungkinan hukuman 10 tahun penjara- Dylan meninggalkan Australia.

BACA JUGA: PM Malcolm Turnbull Bantah Tony Abbott Sedang Gerogoti Posisinya


Dylan Wheeler mengatakan, ia kabur dari Australia setelah dituduh meretas computer perusahaan raksasa Microsoft dan Angkatan Darat AS, tuduhan yang ia bantah.

Ia mengatakan, hal yang "menakutkan" mengetahui bagaimana ia, dengan mudah, bisa kabur.

BACA JUGA: Empat Pemain Footy Indonesia Berlatih Bersama Tim Footy Australia

"Saya meninggalkan Australia karena kasus saya berlangsung selama sekitar dua sampai tiga tahun dan itu jalan di tempat," ujar Dylan, yang kini tinggal di Republik Ceko.

Ia lantas mengutarakan, "Apa yang benar-benar mereka ingin lakukan adalah mengambil kebebasan saya dan menyekap saya ke sebuah ruangan dan saya tak mau menyerahkan hak asasi manusia saya.”

"Cukup menakutkan bahwa saya mampu meninggalkan paspor Australia saya, karena mereka benar-benar memiliki sistem yang disebut PACE ... itu sistem yang mereka gunakan di Kontrol Perbatasan untuk, pada dasarnya, mencari tahu jika Anda seorang kriminil yang mencoba untuk meninggalkan negara, dan biasanya sistem itu akan menandai Anda," sambungnya.

Dilacak sejak berusia 17 tahun

Dylan menemukan bahwa otoritas di Australia telah memantaunya sejak ia berusia 17 tahun.

Dalam satu contoh, seorang perwira AFP (Kepolisian Australia) mencatat kemunculan sang peretas di sebuah konferensi dan "mengenakan kaus kaki berenda".

Polisi di Australia Barat menolak permintaan wawancara karena kasus yang menjerat Dylan masih disidangkan di pengadilan.

Mereka juga menolak berkomentar tentang bagaimana seorang remaja yang telah diperintahkan untuk menyerahkan paspornya, berhasil kabur dari Australia dengan begitu mudah.

Ibu Dylan, yakni Anna, sejak saat itu telah ditangkap dan menghadapi tuduhan sendiri karena diduga membantu anaknya meninggalkan negeri kanguru – sebuah tuduhan yang ia bantah.

"Anda tak ingin anak Anda pergi, saya tahu apa dampaknya terhadap ibu saya, itu telah menghancurkannya, itu membunuhnya," tutur Anna.

"Ini menyebabkan rasa sakit pada orang tua dan saya tahu ia aman dan itu adalah yang terpenting," tambahnya.

Kabur ke Eropa

Ahli keamanan komputer, Troy Hunt, mengatakan, semakin banyak anak muda berada dalam jejak yang sama seperti Dylan.

"Kami melihat banyak anak muda di seluruh dunia atau mereka para dewasa muda yang terjebak dalam insiden jenis ini, tak menyadari implikasi dari apa yang mereka lakukan," jelasnya.

Troy mendesak kaum muda untuk mempertimbangkan kembali ajakan untuk terlibat dalam upaya peretasan.

"Itu hampir sama saja dengan menulis email kemarahan atau email mabuk ... mungkin tulis saja dan biarkan begitu lalu tinggalkan, pikirkan lebih dalam tentang hal itu di hari berikutnya," katanya.

Sejak meninggalkan Australia, Dylan mengaku menggunakan keahliannya untuk kebaikan - membantu instansi pemerintah Eropa melindungi diri dari para hacker jahat.

Dylan mengatakan, ia tak takut ditangkap atau tak takut jika masa lalu menghantuinya.

"Tuduhan yang mereka klaim tak benar dan sepengetahuan saya, saya tak melakukan kejahatan. Saya ingin mereka untuk benar-benar membatalkan tuntutan, batalkan tuduhan dan mengaku kalah dan berkata 'hai, kami selesai'," harapnya.

BACA ARTIKEL LAINNYA... Khutbah Jumat Diminta Serukan Penghentian Kekerasan Terhadap Perempuan

Berita Terkait