Reza Indragiri Soroti Pemidanaan terhadap Pelaku Parodi Indonesia Raya

Minggu, 03 Januari 2021 – 02:05 WIB
Reza Indragiri Amriel. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Pakar psikologi forensik Reza Indragiri Amriel menyoroti pemidanaan terhadap NJ dan MDF, tersangka dalam kasus parodi lagu Indonesia Raya.

Sebelumnya, NJ (11) ditangkap oleh Polis Diraja Malaysia (PDRM). Sedangkan MDF (16) diamankan oleh Tim Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri di Cianjur, Jawa Barat. Keduanya merupakan WNI.

BACA JUGA: Bocah SMP Pembuat Parodi Indonesia Raya di Mata Warga Sekitar

"Parodi, lalu pidana? Memarodikan lagu Indonesia Raya memang tidak lucu. Pelakunya salah. Tidak boleh ditiru," kata Reza dalam keterangan tertulis kepada jpnn.com, Sabtu (2/1).

"Namun haruskah pelakunya, apalagi karena masih berusia anak-anak, dipidana?" lanjut mantan ketua delegasi Indonesia, Program Pertukaran Pemuda Indonesia Australia ini.

BACA JUGA: Mensos Risma kepada Anak Jalanan & Pengamen: Semua Itu Hadapi, Jangan Lari

Reza yang juga dikenal sebagai konsultan di Lentera Anak Foundation kemudian mengajak masyarakat untuk mencermati sejumlah penelitian.

Dia mengatakan, ada hubungan antara kegemaran pada pelajaran sejarah dan patriotisme.

BACA JUGA: Ini Respons Terbaru Bang Munarman FPI Atas Maklumat Kapolri Idham Azis

Persoalannya, kara Reza, rendahnya rasa cinta tanah air dialami siswa karena para guru, utamanya pengajar sejarah tidak terampil menanamkan nilai patriotisme ke dalam diri anak didik.

"Mata pelajaran sejarah tak lebih dari penyampaian informasi tentang serangkaian peristiwa yang dianggap historis," jelas pakar yang menamatkan pendidikan sarjana di Fakultas Psikologi UGM.

Reza menyebutkan, karena sebatas pengayaan kognitif, mata pelajaran menjadi cenderung satu sisi. Abai terhadap perasaan (afeksi).

Padahal, katanya, rekomendasi ilmuwan, pelajaran sejarah sepatutnya dikemas sebagai bahasan kontroversial. Dengan menyertakan unsur pro-kontra, maka perasaan siswa akan lebih terlibat.

"Inilah jalan bagi penyerapan nilai-nilai, bukan hanya penghafalan pengetahuan," tegas peraih gelar MCrim (Forpsych, master psikologi forensik) dari Universitas of Melbourne ini.

Dia lantas menyebut beberapa faktor yang menghalangi tumbuhnya rasa cinta tanah air: rendahnya standar hidup, ketidakpastian sosial, ketidakpercayaan pada pengelola negara.

Karena itu, perbedaan rasa cinta tanah air ditentukan oleh latar budaya, peran orang tua (keluarga), dan pengaruh sosial.

"Temuan-temuan di atas menunjukkan bahwa tinggi rendahnya kecintaan pada tanah air bukan masalah hitam putih. Tidak bersumber dari faktor tunggal, melainkan multidimensional," terangnya.

Dengan konteks sedemikian kompleks, kata Reza, akankah pidana (vonis bersalah atau tidak bermasalah) justru terlalu simplistis dan berpotensi kontraproduktif?

"Simplistis, karena cenderung menuding pelaku sebagai satu-satunya pihak yang harus diintervensi. Kontraproduktif, karena justru dapat membuat pelaku merasa takut, bukan cinta, lalu membenci negara," pungkas Reza Indragiri Amriel.(fat/jpnn)

Jangan Lewatkan Video Terbaru:


Redaktur & Reporter : M. Fathra Nazrul Islam

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler