Ribuan Mahasiswa IAIN Belajar Darurat

Gedung Telanjur Dirobohkan, Pinjaman IDB Tak Cair

Sabtu, 14 September 2013 – 09:58 WIB

jpnn.com - SURABAYA - Ribuan mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya dari tiga fakultas saat ini rela prihatin. Mereka harus menerima kenyataan mengikuti perkuliahan secara "tidak normal".

Ada yang harus berpindah-pindah gedung, ada yang mengatur jam kuliah sedemikian rupa.

BACA JUGA: Dana Sertifikasi Guru Rp 10,5 M Mengendap di Kas Daerah

Tiga fakultas tersebut adalah syariah, tarbiyah, dan dakwah. Kondisi seperti itu berlangsung paling tidak hingga awal 2015. Khusus untuk fakultas dakwah, mungkin Oktober kondisinya sudah normal.

Mengapa sampai terjadi kondisi seperti itu? Semua berawal dari adanya tawaran bantuan Islamic Development Bank (IDB) pada September 2012. Bantuan itu digunakan untuk membangun gedung, merenovasi bangunan, dan meningkatkan mutu sumber daya manusia.

BACA JUGA: Tidak Semua Sekolah Terapkan Kurikulum Baru

Rektor IAIN Sunan Ampel Prof Dr AbdulA'la mengatakan, untuk pembangunan gedung, sebagai penyokong dana, IDB memberikan dua syarat kepada IAIN jika ingin diberi pinjaman. Syarat pertama adalah tanah yang akan dibangun harus tidak bermasalah. Syarat kedua, di lokasi yang akan di­bangun tersebut harus tidak ada bangunan atau rata dengan tanah. "Dengan begitu, mereka memang tinggal membangun saja," ujarnya kepada Jawa Pos.

Begitu mendapat lampu hijau, IAIN langsung merobohkan sebagian gedung di fakultas tarbiyah dan syariah. Sementara itu, gedung fakultas dakwah hanya direnovasi.

BACA JUGA: Kerap Maki Siswa, Guru Didemo

Di tengah jalan, pengajuan pinjaman tersebut mengalami hambatan. Bahkan, hingga kini belum ada respons positif dari pihak IDB. Proposal dan no objection letter (NOL) yang dikirim ke kantor IDB di Jeddah, Arab Saudi, sejak beberapa bulan lalu belum menunjukkan kemajuan. "Kami tunggu hingga akhir bulan ini. Kalau memang belum juga, ya mungkin kami ambil langkah terakhir, yakni berangkat langsung ke sana," jelas A'la.

Molornya pencairan dana bantuan tersebut berdampak pada proses belajar mengajar mahasiswa. Sebagian mahasiswa harus rela mengikuti proses belajar mengajar di tempat darurat. Bahkan, semester lalu ada yang memanfaatkan masjid dan kantin untuk kuliah.

Saat ini, kata dia, masjid memang masih digunakan. Tetapi, hanya untuk program intensif bahasa dari jurusan syariah. Selain di masjid, beberapa mahasiswa ditampung di gedung eks pesantren. Hal tersebut dibenarkan Khoirul Ulum, kepala subbag umum fakultas syariah. "Untuk yang di masjid dibatasi hanya pukul 06.00-07.30. Harinya pun cuma Senin hingga Kamis biar tidak mengganggu proses ibadah," jelasnya.

Selebihnya, memaksimalkan gedung lama yang masih ada. Ya, dari tiga gedung yang dimiliki fakultas syariah, kini tinggal dua. Yang satu sudah telanjur dirobohkan. Begitu juga fakultas tarbiyah, dari lima gedung kini berkurang satu sehingga tinggal empat.

Di tiga fakultas tersebut, saat ini sedikitnya 10.000 mahasiswa sedang menuntut ilmu. Total tiga fakultas itu membawahkan 17 jurusan dan prodi. Jurusan di bawah fakultas syariah adalah al-ahwal asy syahsyiyah (AS), siyasah jinayah (SJ), mu'amalah (M), serta prodi ekonomi syariah (ES). Lalu di bawah fakultas tarbiyah, ada jurusan pendidikan agama Islam, pendidikan bahasa Arab, kependidikan Islam, pendidikan bahasa Inggris, pendidikan matematika, dan pendidikan guru MI. Sementara itu, fakultas dakwah membawahkan jurusan bimbingan dan konseling Islam, pengembangan masyarakat Islam, komunikasi dan penyiaran Islam, manajemen dakwah, prodi sosiologi, ilmu komunikasi, serta psikologi.

Selain ruang kuliah yang harus ditata ulang, dampak lain adalah jam kuliah yang lebih padat. Dulu perkuliahan terakhir selesai pada pukul 17.00, tetapi sekarang molor hingga pukul 21.00.

Faisol Affandi, mahasiswa jurusan siyasah jinayah, membenarkan bahwa jam kuliah mereka bertambah malam. "Awalnya sih berat ya kuliah malam. Tetapi, demi menuntut ilmu, ya harus dijalani," kata mahasiswa semester 5 itu.

Hal senada diutarakan Septia Qurana. "Kondisi ini masih lebih baik daripada semester lalu yang harus sering belajar di masjid dan ruangan lain. Kalau untuk pulang malam, insya Allah nggak apa-apa," jelasnya. (nji/c7/nw)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Tunjangan Sertifikasi Mampet, BPKP Terjun Audit


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler