Ribuan Warga Mengungsi ke Tapanuli

Kamis, 15 Oktober 2015 – 05:50 WIB
Warga Desa Suka Makmur, Aceh Singkil mengungsi ke Manduamas, Tapteng. Foto: Marihot Simamora/New Tapanuli/JPNN

jpnn.com - MANDUAMAS - Ribuan warga Desa Suka Makmur, Aceh Singkil, masih khawatir bentrokan susulan bakal terjadi lagi.  Kerusuhan berdarah pada Selasa (13/10) membuat ratusan warga ketakutan dan memilih mengungsi ke wilayah tetangga, salah satunya ke Kecamatan Manduamas, Tapanuli Tengah.

Di Tapanuli Tengah, para pengungsi ini ditampung di Kompleks Gedung Pastoran Paroki Tumba Jae, Desa Tumba Jae, Kecamatan Manduamas, Rabu (14/10).

BACA JUGA: KASIHAN: Pak Jokowi dan Kapolri, Bebaskan 2 Jurnalis

Sebelum dipindahkan ke Gedung Pastoran Paroki Tumba Jae ini, sebagian besar pengungsi ditampung di halaman kompleks gereja, sekolah, puskesmas, dan tenda darurat di Desa Saragih. Hanya beberapa kepala keluarga yang ditempatkan di Pastoran.

"Sesuai hasil koordinasi dengan semua pihak, kami memutuskan untuk memindahkan dan memusatkan seluruh warga pengungsi ke Pastoran Paroki Tumba Jae. Sebelumnya kan ada di 5 titik. Memang di Pastoran itu fasilitasnya sangat memadai dan layak. Dengan begitu lebih mudah dilayani," ucap Plt Bupati Tapteng Sukran Jamilan Tanjung didampingi Kapolres Tapteng AKBP Bony JS Sirait dan Dandim 0211/TT Letkol Inf Indra Kurnia, saat mengkoordinir pemindahan pengungsi dari Desa Saragih, Kecamatan Manduamas, Rabu (14/10) siang.

BACA JUGA: Kinerja Jaksa Agung Dinilai Terburuk di Kabinet Jokowi, Bakal Diganti Kader PAN?

Sukran menyatakan, Pemkab Tapteng siap menampung dan melayani para pengungsi. Kebutuhan makanan dan minuman pun sudah disiapkan. Termasuk pelayanan kesehatan oleh tim medis.

"Pemkab Tapteng siap menampung berapa pun pengungsi. Sampai sekarang yang terdata sudah sekira 3.700 orang. Dapur umum sudah disiapkan, posko medis juga sudah didirikan," ucap Bupati.

BACA JUGA: Awas, Info Lowongan Kerja Pembangunan Masjidil Haram Hoax

Secara umum, sambung Plt Bupati, kondisi kesehatan para pengungsi masih dapat ditangani. Hanya saja pihak Pemkab masih akan mendata pengungsi anak-anak dan ibu hamil, agar bisa diberi pelayanan khusus sesuai kebutuhannya.

"Anak-anak dan ibu hamil masih kami data. Pokoknya kita siap melayani dengan baik," tuturnya.

Pemindahan pengungsi itu menggunakan truk bantuan dari kepolisian, TNI, Basarnas. Ada juga yang menggunakan kendaraan pribadi, pick up, dan sepedamotor yang dibawa masing-masing.

Dengan memboyong barang-barang bawaan mereka, para pengungsi pun dipindahkan secara bergelombang. Tidak sedikit pengungsi yang hanya membawa tas seadanya. Beberapa lagi membawa tikar, selimut dan goni-goni berisi pakaian mereka.

Setibanya di Pastoran, pengungsi didata ulang untuk pemberian konsumsi dan penempatan ruangan penampungannya. Petugas posko pengungsi membagi pengungsi menjadi beberapa kategori sesuai golongan usia dan jenis kelamin.

Di antara ribuan pengungsi itu, ada Ranto Sinamo, pria berusia 91 tahun yang kondisinya lemah. Ia sedang sakit dan terbaring tak berdaya. Bahkan saat eksodus dari desanya, Ranto sedang diinfus.

Kini Ranto yang didampingi Boru Barasa (70) dirawat di Puskesmas Manduamas.

"Saya hanya bisa terus berdoa kepada Tuhan. Semoga kesehatan saya pulih dan situasi di desa kami kembali aman," ujar Ranto terbata-bata, saat disambangi New Tapanuli (Jawa Pos Group), Rabu (14/10) sore.

Istrinya menimpali, mereka berasal dari Desa Tuktuhan, Kecamatan Simpang Kanan. Saat terjadinya kerusuhan, kondisi kesehatan suaminya itu drop. Apalagi mendengar kabar bahwa mereka sudah tidak aman lagi. Dengan terpaksa mereka sekeluarga memutuskan untuk ikut mengungsi. Mereka tiba di Kecamatan Manduamas pada Selasa (13/10) siang.

"Kami naik mobil anak. Dia (suaminya) diinfus dari sana. Dia lemas karena sangat khawatir mendengar kabar kerusuhan itu. Sakitnya bagaimanalah, karena usia sudah tua. Lemas dan sakit kepala," ucap Boru Barasa.

Dari pernikahan mereka, Tuhan mengaruniai 5 anak. Anak-anaknya itu sekarang sudah semua berkeluarga. Mereka sudah memiliki banyak cucu. Saat mengungsi, mereka tidak sempat membawa barang-barang. Rumah pun dikunci lalu ditinggalkan begitu saja.

"Hanya membawa pakaian saja. Kami takut, kata orang kampung tidak bisa lagi bertahan di sini, terpaksa menyingkir. Kami sudah tinggal di sana sejak 70 tahun lalu. Kami hanya berharap situasi cepat aman, tenang dan jangan terulang lagi," ucap jemaat GKPPD Tuktuhan itu. (ms/sam/jpnn)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Sistem Kanal Cara Efektif Atasi Kebakaran Hutan dan Lahan, Ini Penjelasannya


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler