Ritual Pawang Hujan: Tancapkan Keris di Tanah, Awan Menyingkir Perlahan

Minggu, 28 April 2019 – 00:05 WIB
Cuaca mendung. Foto: Radar Nunukan/JPNN.com

jpnn.com - Ada beragam cara pawang hujan untuk menyingkirkan mendung yang sudah menggantung. Keris ditancapkan, mendung tebal perlahan menyingkir.

Laporan: Muhammad Rizki, Dina Angelina, Raden Roro Mira

BACA JUGA: Pawang Hujan Gelar Ritual Bisa Jarak jauh, tak Harus Datang ke Lokasi Acara

Sejak pagi, hujan tak henti turun. Bahkan semakin deras hingga pukul 11 malam. Darno, pegawai di Kecamatan Loa Janan Ulu, Kutai Kartanegara, Kaltim, menyambangi rumah Munasik.

Darno menyampaikan gelisahnya, berharap esok hujan tak datang. Sebab ada hajat besar di halaman kecamatan, upacara HUT ke-72 Republik Indonesia dan panggung hiburan bagi warga.

BACA JUGA: Konser Putih Bersatu: Ada Pawang Hujan Bertugas Geser Mendung di Atas SUGBK

Besok paginya, langit abu-abu menyelimuti kawasan kantor kecamatan. Munasik menancapkan keris berukuran kecil di tanah, mengucapkan doa-doa. Kemudian membakar dupa. Dia lalu meletakkan parfum dalam botol kecil di sebelah keris dan dupa.

Awan gelap pun perlahan menyingkir. Hangatnya matahari menyapa. Upacara berjalan lancar. Dilanjut dengan atraksi kuda kepang atau jatilan. Acara tersebut menarik banyak massa, peringatan 17 Agustus berlangsung meriah.

BACA JUGA: Menikah di Candi Borobudur, Vicky Shu Siapkan Pawang Hujan

BACA JUGA: Pawang Hujan Gelar Ritual Bisa Jarak jauh, tak Harus Datang ke Lokasi Acara

“Siangnya saat istirahat, wah, itu langsung hujan deras! Karena kan emang enggak bisa menahan hujan, yang ada hanya memindahkan. Nah setelah istirahat, saya singkirkan lagi awannya sampai acara selesai. Setelah benar-benar selesai, baru hujan deras lagi,” jelas Munasik.

Munasik lebih dikenal dengan nama Bapak Rendi di daerah tempat tinggalnya, Kecamatan Loa Duri. Dikenal sebagai pawang hujan, sekaligus pawang jatilan. Pertunjukan kuda-kudaan yang berpenunggang, disertai kekuatan gaib.

Tak hanya itu, pria kelahiran Blitar itu juga biasa dipanggil terkait urusan dunia lain atau gaib. “Misal pernah diminta untuk bersihkan rumah dari makhluk halus. Mengobati orang kesurupan,” jelas ayah beranak lima itu.

Belajar dan menekuni pawang hujan sejak 14 tahun silam, dia berguru pada dua orang. Memang tebersit dalam hatinya untuk “ngelmu”. Saat itu syaratnya dia harus puasa mutih mundur. Jenis puasa kejawen yang hanya boleh mengonsumsi nasi putih dan air putih.

“Puasanya tiga hari tiga malam. Hari pertama hanya boleh berbuka dengan tiga suap nasi dan tiga tegukan. Hari kedua, dua suap nasi dan dua tegukan hingga hari ketiga hanya sesuap dan seteguk. Hari keempatnya, puasa 24 jam. Dari jam 6 sore sampai ketemu jam 6 sore lagi,” paparnya.

Ada doa-doa yang tentu terus dirapal selama proses tersebut, termasuk berzikir. Munasik juga diharuskan mandi dari tujuh sumber mata air setelah matahari tergelincir hingga kembali terbit esoknya.

“Selama proses itu juga tidak boleh tidur di bawah atap,” kata dia. “Ya tidurnya di tempat terbuka. Hujan ya kehujanan,” lanjut pria 51 tahun itu.

Cara kerjanya bukan menolak hujan. “Namanya itu sudah dari Yang Maha Kuasa, jadi tidak bisa ditolak. Jadi disingkirkan,” kata Munasik. Dirinya tidak harus hadir di lokasi acara, dari jauh pun bisa.

Selain menyingkirkan saat awan mendung terlihat, saat hujan tiba pun bisa. Namun butuh waktu, dia akui paling lama 15 menit. Misal lebih dari 15 menit hujan tidak menyingkir, maka tidak dikabulkan. Dia menyebutnya keberatan, terlampau deras.

Disinggung soal pendapatan, Munasik tidak mematok jumlah tertentu. Sebab bukan itu yang diajarkan gurunya. “Kalau misal menarget sejumlah uang atas jasa, istilahnya ilmu itu akan luntur,” kata dia.

Melak, Kutai Barat pernah dia kunjungi untuk menjadi pawang hujan. Seputar Kutai Kartanegara dan Samarinda dia sambangi. Dia juga pernah memindahkan hujan saat acara pernikahan kerabatnya di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Namun posisi Munasik saat itu di Samarinda. Sempat diguyur hujan sebentar, acara pernikahan itu kembali lancar.

Di antara beberapa pengalaman, dia menceritakan jika pernah saling adu. Saat itu dia hendak memindahkan hujan, namun ternyata, pawang lainnya di daerah yang hendak dia pindahkan hujannya juga bermaksud sama.

“Jadi melihat kondisi awannya saja. Kalau misal awannya masih bergerak-gerak ditiup angin, masih ada kemungkinan untuk bisa dipindahkan. Tapi kalau awannya sudah berat dan enggak gerak terus arahnya ke kita, ya kita kalah. Harus pindahkan ke arah lain,” jelasnya.

Menjadi pawang bukan pekerjaan satu-satunya yang digeluti Munasik. Mendapat ilmu dan berguru ke sana kemari, tujuannya bukan sekadar rupiah. Dia lebih banyak belajar sabar.

Dia mengaku tak jarang “dikerjai” orang. Misal saat sedang memindahkan hujan, ternyata ada yang sengaja mengirim hujan ke lokasi kliennya. Di sanalah, kekuatannya diuji. “Biasanya saat bakar dupa itu ada baunya. Nah kalau enggak ada baunya, berarti ada yang niat enggak baik,” kata Munasik.

Menjalani profesi pawang hujan sejak 2005, namanya menjadi cukup terkenal. Ruang tamu rumahnya tak pernah sepi, banyak yang mencari. Beberapa orang yang mencari tak sekadar ingin menggunakan jasanya.

“Ada juga yang berminat belajar ingin jadi pawang juga. Ya saya ajari, meski beberapa ada yang mengaku enggak sanggup karena syaratnya cukup berat,” kata Munasik.

Meski zaman semakin modern, tak sedikit yang memang meminta bantuan Munasik agar hajatnya lancar, jauh dari hujan. (tim kp)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Disaksikan Para PNS, Bawa Keris Mulut Komat-kamit


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler