Romo Franz Magnis: Terorisme Harus Ditindak Tegas

Jumat, 12 Agustus 2016 – 14:43 WIB
Ilustrasi. Foto; AFP

jpnn.com - JAKARTA – Terorisme itu adalah kejahatan. Karena itu, terorisme wajib diberangus di mana pun tempatnya dan apa pun alasannya.

“Terorisme itu harus ditindak secara tegas jangan hanya bicara. Intinya, terorisme itu tidak boleh ada di muka bumi karena jelas mereka mengancam perdamaian umat manusia,” kata Romo Franz Magnis Suseno, Jumat (12/8).

BACA JUGA: KPK Kembali Garap Anak Buah Cak Imin

Menurutnya, teroris adalah kelompok kecil yang punya kesadaran ideologi sendiri yaitu ekstrimis. Mereka sulit sekali untuk diajak kompromi, apalagi disadarkan. Mereka lebih percaya dengan ideologi kekerasan yang didapatnya dari dunia luar.

Terkait peran tokoh keagamaan dan kebangsaan dalan penanggulangan terorisme, Romo Magnis mengatakan bahwa tokoh-tokoh itu mempunyai peran penting menciptakan suasana saling menerima antarpelbagai unsur yang ada di Indonesia. Tapi kalau untuk penanggulangan terorisme, ia belum melihat efektivitas peranan para tokoh itu.

BACA JUGA: Gubernur Sumbar Mulai Terseret Kasus Suap Proyek Jalan

“Saya dan para tokoh sering berdialog antaragama, tapi itu tidak berdampak langsung dalam penanggulangan terorisme di Indonesia. Jadi terorisme itu selalu identik dengan kekerasan dan pembunuhan, sehingga terorisme harus ditindak secara tegas juga,” tegas Romo Magnis.

Kendati demikian, ia mendorong peningkatan pemahaman kebangsaan seperti penguatan kembali nilai luhur Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika untuk memelihara perdamaian di Indonesia. Apalagi Indonesia adalah bangsa yang majemuk.

BACA JUGA: Lagi, Anak Buah Cak Imin Diperiksa KPK

Sementara itu, Pembantu Rektor II Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta Waryono Abdul Ghofur mengungkapka,n masyarakat tidak bisa melepaskan perbedaan agama dan keyakinan di Indonesia.

Perbedaan itu justru adalah bahan yang kuat membangun kesatuan dalam NKRI. Pancasila adalah terbaik dan mampu  mengikat semua perbedaan itu untuk melawan radikalisme.

“Kita harus mendorong para anak bangsa kembali pada semangat para founding fathers bahwa perbedaan di Indonesia itu tidak bisa hilang. Justru dengan perbedaan itu kita membangun kesatuan,” kata Waryono.

Menurut Waryono, perbedaan itu seperti bahan bangunan yang terdiri dari batu bata, semen kapur, paku, kayu di mana semuanya merupakan komponen yang harus menyatu.

“Jika kita masih mau menyatu sebagai bagian dari NKRI. Batu biarlah menjadi batu, semen biarlah menjadi semen. Tapi kita kita diikat oleh Pancasila. Itu bangunan ke-Indonesia-an. Jadi anak-anak kita, dan masyarakat yang banyak diterpa semangat radikal perlu disadarkan akan hal itu,” ungkapnya. 

Menurutnya, Indonesia merupakan wilayah yang punya perbedaan-perbedaan politik, ekonomi. Perbedaan itu merupakan kekayaaan tersendiri, tapi mau bersatu menjadi Indonesia.

Yang perlu dipelajari adalah Indonesia punya Pancasila dan UUD 1945 dan itu adalah hal terbaik yang dimiliki untuk melawan radikalisme. Menurutnya, ini penting disampaikan kepada pihak-pihak yang tidak memahami sejarah, termasuk para pihak yang terterpa radikalisme.

Mereka lebih banyak mengakses informasi dari luar khususnya anak-anak muda sekarang, yang tidak telaten mempelajari sejarah sekaligus tidak paham, apa di balik peristiwa sejarah itu.

“Kemudian kita bersatu dari Sabang sampai Merauke menjadi Indonesia. Itu menurut saya penting,” katanya. (jos/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... KPK Garap Petinggi Kemendagri


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler