Rupiah Melemah, Suplai Dolar Aman

Selasa, 05 November 2013 – 07:42 WIB

jpnn.com - JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali terperosok ke posisi terlemahnya sejak pertengahan Oktober 2013. Kurs tengah Bank Indonesia (BI) kemarin (4/11) mencatat rupiah berakhir di posisi Rp 11.389 per USD, atau melemah dari perdagangan Jumat (1/11) yang masih terjerembab di level Rp 11.354 per dollar AS.

 

Kondisi ini ditengarai ekspektasi tapering off quantitative easing atau pengurangan stimulus moneter The Fed bakal terjadi lebih awal, seiring dengan positifnya data-data ekonomi AS yang dirilis akhir pekan lalu.

BACA JUGA: Upah Murah Bukan Unggulan Investasi

Analis senior Monex Investindo Futures Zulfirman Basir mengatakan, tekanan negatif terhadap rupiah masih tampak kuat setelah data perekonomian AS menanjak, seperti indeks aktivitas bisnis Chicago PMI yang naik ke level tertingginya.

BACA JUGA: Kadin Minta Pemerintah Akhiri Subsidi BBM

Pada saat bersamaan, ISM Manufacturing PMI, sebuah indikator ekspansi industri di Negeri Abang Sam, juga melampaui estimasi.

Kedua data tersebut mengakibatkan ekspektasi tapering off yang lebih awal dibandingkan estimasi sebelumnya. "Karena itu sepanjang perdagangan kemarin, rupiah mencapai level terlemahnya Rp 11.380 dari posisi terkuatnya Rp 11.300 terhadap dolar AS," jelasnya.

BACA JUGA: Jepang Buka Celah Penyelesaian Inalum di Luar Arbitrase

Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, kemarin ditutup melemah 10 poin (0,08 persen) ke posisi 11.340/11.345 dari posisi akhir pekan lalu 11.330/11.335.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara mengatakan, kurs mata uang rupiah yang menggambarkan fundamental ekonomi didasarkan atas kondisi neraca pembayaran atau balance of payment.

Pelemahan rupiah sekarang disebabkan defisit current account atau transaksi berjalan, lantaran kondisi impor yang tak terkendali dan minimnya ekspor. Dibandingkan periode 2010-2012, rupiah berada di level 9.500-9.600 per USD. Kala itu, posisi transaksi berjalan masih tercatat surplus.

"Kalau fundamental kita sudah baik lagi seperti 2010, baru kita bicara kurs yang levelnya berbeda, yakni lebih kuat. Kalau fundamental neraca pembayarannya belum berubah, nilai tukar saat ini adalah kurs yang cukup baik untuk mengendalikan impor dan menyehatkan neraca pembayaran," ungkapnya Jumat lalu (1/11).

Kendati demikian, Mirza memperkirakan, defisit transaksi berjalan akan membaik pada kuartal keempat 2013. Hal ini disebabkan ekonomi Tiongkok yang diharapkan masih bisa bertumbuh di level 7,6-7,8 persen, serta pemulihan Jepang yang berada pada batas moderat. Akselerasi ekonomi di AS juga dipertimbangkan sebagai penggenjot ekspor produk.

 "Selain itu terkait suplai dolar saat ini cukup, dan modal mulai masuk ya. Outflow memang terjadi pada Mei hingga Agustus. Namun capital inflow mulai menyerbu saham dan obligasi, terutama di pasar SUN (surat utang Negara) dan SBN (surat berharga Negara)," jelasnya.

Hingga akhir Oktober, SBN yang dipegang oleh asing mencapai Rp 318,11 triliun, atau naik pesat ketimbang periode Agustus sebesar Rp 284,01 triliun.

Economist Asia Pacific Economic and Market Analysis Citi Research Helmi Arman mengatakan , defisit transaksi berjalan pada kuartal ketiga 2013 diperkirakan masih mendekati angka hingga USD 8 miliar.

Meskipun angka tersebut membaik dibandingkan kuartal II 2013 yang sebesar USD 9,8 miliar, hal ini masih dilihat sebagai kondisi yang belum stabil. "Berdasarkan asumsi nominal PDB, defisit transaksi berjalan masih di atas 3,5 persen, dibandingkan forecast BI 3,36 persen," jelasnya.

Meski demikian, ia menilai BI telah jelas obyektif menurunkan defisit transaksi berjalan. "Meski capital flows pada pasar obligasi mulai pulih, BI dapat memperketat kebijakan moneternya jika hasil data tidak menunjukkan pengurangan defisit transaksi berjalan sesuai harapan," terangnya. (gal/sof)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Rp30 Miliar Untuk KRL Bekas Dari Jepang


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler