Saat Prancis Terganggu Ulah Copet Spesialis Wisatawan

Beranggota Anak-Anak, Sehari Bisa Dapat Rp 30 Juta

Kamis, 19 September 2013 – 18:51 WIB

jpnn.com - Polisi Paris berhasil membongkar dan menangkap geng pencopet yang biasa beroperasi di tempat-tempat wisata populer di ibu kota Prancis itu. Sebagian besar targetnya adalah wisatawan asal Asia.

= = = = = = = = = = = = = =

BACA JUGA: Rusia Serahkan Bukti Serangan Kimia oleh Pemberontak

KELOMPOK yang dikenal dengan Geng Roma itu begitu lihai dalam menjalankan operasinya. Sebagian di antara mereka adalah perempuan yang mempunyai job desk masing-masing. Misalnya, mengalihkan perhatian target, mencari cara untuk membelakangi kamera CCTV, dan eksekutor.

Namun selihai-lihainya copet bergerak, mereka tertangkap juga. Setelah berminggu-minggu diintai dan diselidiki, sekelompok copet yang beranggota remaja-remaja asal Eropa Timur itu berhasil digaruk Selasa (17/9). Mereka biasa beroperasi di Museum Louvre, Muse d'Orsay, Menara Eiffel, dan Chateau de Versailles.

BACA JUGA: Demo Massal Tolak PHK Lumpuhkan Yunani

Meski sudah menjaring sekelompok pengutil dompet, polisi memperingatkan bahwa jumlah mereka masih banyak. Modus mereka adalah mengincar korbannya, menghentikan mereka untuk sekadar berbincang dan sok kenal, lalu mencuri dompetnya. Dalam sehari, mereka bisa meraup EUR 2.000 (sekitar Rp 30 juta)

Delapan foto dari CCTV yang dilansir majalah ternama Prancis, Paris Match, memperlihatkan geng Rumania dan Bulgaria sedang beroperasi.

BACA JUGA: Wanita Ini Bertahan Setelah 15 Hari Nyemplung di Sumur

Aksi para penjahat kelas teri, yang sudah lama menjadi momok di Paris itu, semakin menjadi-jadi dalam beberapa bulan terakhir. Para pekerja di Museum Louvra bahkan sampai berdemonstrasi untuk memprotes meningkatnya kasus pencurian. Kondisi tersebut memaksa polisi menyebarkan brosur dalam enam bahasa yang berisi peringatan dan cara menghindari aksi pencurian.

Kelompok tersebut tertangkap saat berkeliaran di sejumlah tempat wisata yang paling sering dipenuhi pengunjung. Mereka nongkrong di dekat lukisan Mona Lisa dan Venus de Milo di Louvre. Kelompok ini membeli tiket masuk, sama seperti pengunjung lainnya.

Komisioner Stephane Gouaud dari kepolisian Paris menyebut, karena faktor bahasa dan perbedaan budaya serta wisatawan yang hanya berada di suatu tempat dalam waktu singkat, kasus pencurian tersebut tidak pernah dilaporkan. ''Hal itu membuat penyelidikan jadi lebih rumit,'' ujarnya.

Patroli polisi ditingkatkan secara signifikan di sekitar monumen-monumen bersejarah seperti Eiffel dan Louvre. Kelompok Roma ini hampir setiap hari membawa wajah-wajah baru dalam beroperasi. Banyak di antara mereka masih remaja.

Saat ini Inggris tengah bersiap membuka keran bagi ribuan imigran Rumania dan Bulgaria untuk mencari pekerjaan sebagai implikasi dari perubahan aturan imigrasi Uni Eropa Januari lalu. Tahun depan, peluang menjamurnya geng-geng Roma masuk ke Inggris semakin besar.

Pemerintah Sosialis Presiden Francois Hollande yang berkuasa sejak setahun lalu berjanji menyediakan "rumah" baru bagi warga Rumania dan mengintegrasikan mereka dengan masyarakat Prancis. Namun, setelah mengkritik pemerintah Kanan-Tengah pimpinan mantan Presiden Nicolas Sarkozy bahwa mereka terlalu keras memperlakukan imigran, saat ini Hollande menghadapi realitas politik sebaliknya.

Menteri Dalam Negeri Manuel Valls telah menginstruksi polisi untuk membongkar kamp-kamp gipsy asal Rumania dan perkampungan miskin mereka tanpa harus merelokasi. Bahkan, pemerintah Hollande mengekstradisi lebih banyak imigran Rumania dari Prancis daripada Sarkozy.

Tahun lalu, hampir 13 ribu imigran Rumania dan Bulgaria dideportasi dari Prancis, meningkat 18,4 persen dari tahun sebelumnya. (AP/Daily Mail/cak/c17/dos)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Pentagon Warning Pangkalan Militer


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler