Saat Reses, Andi Akmal DPR Bertemu Petani Tebu Libureng Kabupaten Bone

Rabu, 28 Oktober 2020 – 23:38 WIB
Anggota DPR RI asal Sulawesi Selatan II, Andi Akmal Pasluddin bertemu petani tebu di kecamatan Libureng, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, 28 Oktober 2020. Foto: Humas DPR RI

jpnn.com, BONE - Memenuhi kegiatan positif di masa reses, Anggota DPR RI asal Sulawesi Selatan II, Andi Akmal Pasluddin bertemu petani tebu di kecamatan Libureng, Kabupaten Bone, 28 Oktober 2020.

Bertepatan dengan hari sumpah pemuda ini, Akmal meyakinkan kepada para petani tebu, bahwa sosok pahlawan saat ini bukan saja untuk menjaga negara dari ancaman dan rongrongan negara luar. Akan tetapi yang mampu menyelamatkan pangan nasional kita juga merupakan bagian dari memerdekakan negara kita atas ketergantungan produk-produk luar dalam kategori pangan.

BACA JUGA: Kabar Gembira untuk Petani Tebu di Tengah Gempuran Pemanis Impor

Politikus PKS ini mengatakan, bangsa ini memiliki posisi strategis pada peta dunia sekaligus menjadi keplauan terbesar di dunia. Indonesia memiliki garis pantai sepanjang 95.181 km, dengan luas perairan laut mencapai 5,8 juta kilometer persegi, yang merupakan 71% dari keseluruhan wilayah Indonesia.

“Negara kita ini banyak di huni para petani dan nelayan. Ini sangat wajar karena garis pantai kita terpanjang nomor dua di dunia setelah Kanada. Tanah Negara ini, terbentang sepanjang garis katulistiwa di mana buminya terpapar matahari penuh sepanjang tahun yang menjadikan tanahnya subur sehingga surga bagi petani. Jadi kesempatan menjadi pahlawan pangan di negeri ini sangat terbuka untuk berkarya baik memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun luar negeri,” urai Akmal dengan detail.

BACA JUGA: Andi Akmal PKS Terima Perwakilan Masyarakat Terkait UU Cipta Kerja

Untuk itu, lanjutnya, Pemuda yang hadir pada kesempatan ini, mesti menjadi teladan bagi pemuda lain yang masih enggan untuk bertani, dan atau menjadi nelayan profesional, dengan menunjukkan keberhasilan-keberhasilan yang signifikan.

Akmal menjelaskan, kendala yang dihadapi oleh para petani tebu di berbagai daerah bukan saja di Bone adalah pabrik-pabrik yang akan menampung hasil panen merupakan pabrik-pabrik peninggalan zaman kolonial Belanda.

BACA JUGA: Kesan Pengamat Pada PKS dan Demokrat di Satu Tahun Pemerintahan Jokowi - Maruf Amin

Menurutnya, hal ini menjadi kendala karena hasil yang di terima oleh petani menjadi sangat tergantung pada pengukuran rendemen tebu yang akan di olah menjadi gula. Jikalau pabrik gulanya sudah kedaluarsa, maka rendemen menjadi sangat kecil.

“Rerata rendemen terbaik yang diberikan hanya sekitar 8%. Bahkan ada yang hanya 6%. Kasihan para petani jika begini," tutur Akmal lagi.

Anggota DPR yang bermitra dengan kementerian pertanian ini sejak ia di Lantik di DPR tahun 2014, hingga saat ini selalu membawa program dan alat pertanian di daerah pemilihannya termasuk bone. Sudah ribuan Alat mesin pertanian dari kecil hingga alat berat telah ia salurkan bekerjasama dengan berbagai pihak.

Akmal berpesan kepada para pemuda menjadi petani yang modern hingga membesar. Harus ada yang menunjukkan bahwa pertanian mampu menjadikan keluarganya sejahtera bahkan mengharumkan bangsanya.

“Kepada Bapak-Bapak yang ada di sini, Mari didik anak-anak kita, kita sekolahkan yang tinggi mempelajari ilmu pertanian maupun perikanan. Sektor Pangan inilah yang akan menyelamatkan bangsa dan negara di masa yang akan datang, selain Energi, Kesehatan dan Lingkungan,” tutup Andi Akmal Pasluddin.(fri/jpnn)


Redaktur & Reporter : Friederich

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler