Samar Badawi Disiksa di Penjara Saudi

Minggu, 13 Januari 2019 – 22:36 WIB
Samar Badawi diapit dua mantan ibu negara Amerika Serikat, Hillary Clinton dan Michele Obama. Foto: Reuters

jpnn.com - Foto Samar Badawi menerima penghargaan International Women of Courage Award dari Departemen Luar Negeri AS pada 8 Maret 2012 kembali menghiasi layar gawai. Dia tersenyum lebar diapit Hillary Clinton dan Michelle Obama. Kisah Samar kembali muncul bersamaan dengan ramainya pemberitaan soal Rahaf.

Kini tak ada yang tahu apakah Samar masih bisa tersenyum selebar dalam fotonya bersama Clinton dan Obama. Sebab, sejak Agustus lalu, aktivis Saudi itu mendekam di balik jeruji besi.

BACA JUGA: Kisah Perempuan Saudi: Masuk Bui karena Ogah Diatur Wali

Beberapa lembaga HAM menerima laporan bahwa Samar dan para aktivis perempuan lainnya yang tengah dipenjara mendapatkan perlakuan buruk. Mereka dipukuli, disetrum, dan diancam bakal diperkosa.

Awal Januari, parlemen Inggris dan pengacara HAM internasional meminta izin kepada pemerintah Saudi agar bisa melihat langsung kondisi Samar. Juga, beberapa aktivis perempuan lainnya. Di antaranya, Loujain Al Hathloul, Aziza Al Yousef, Eman Al Nafjan, Nouf Abdelaziz, Mayaa Al Zahrani, Nassima Al Saada, dan Hatoon Al Fassi.

BACA JUGA: Perempuan Saudi Mendobrak Patriarki

"Kami ingin melihat langsung kondisi mereka di penjara," ujar legislator Partai Konservatif Inggris Crispin Blunt seperti dikutip Newsweek.

Samar adalah salah seorang tokoh aktivis di Saudi yang terkenal getol menentang kebijakan pemerintah Saudi. Rekam jejak "pemberontakannya" dimulai pada 2008, ketika dia melarikan diri dari rumahnya dan tinggal di selter untuk perempuan di Jeddah.

BACA JUGA: Arab Saudi jadi Tim Keenam Lolos 16 Besar Piala Asia 2019

Samar yang kala itu berusia 27 tahun mengatakan bahwa sang ayah telah melakukan kekerasan fisik selama 15 tahun terhadap dirinya.

Ayah dan anak tersebut akhirnya saling lapor ke polisi. Ayahnya melaporkan Samar atas pembangkangan karena keluar rumah tanpa izin. Samar melaporkan balik ayahnya dengan tudingan adhl alias mencegah seorang perempuan untuk menikah dengan orang yang disukainya.

Laporan ayahnya itu membuat Samar dipenjara pada April-Oktober 2010 di Penjara Briman, Jeddah. Tapi, pengadilan juga memutus ayahnya bersalah atas kasus yang dilaporkan Samar.

Hasil penyelidikan menunjukkan sang ayah punya 14 istri, pekerjaannya tak tetap, kerap menyakiti Samar secara fisik dan verbal, serta memakai obat-obatan.

Sesuai aturan hukum, ayahnya tak lagi berhak menjadi walinya. Perwalian Samar jatuh ke tangan pamannya dari pihak ayah. Samar lantas pindah rumah dan tinggal bersama dengan kakak lelakinya.

Sejak keluar penjara, Samar kian getol berkampanye untuk kesetaraan hak perempuan. Pada 2011 dia menggugat ke pengadilan karena dilarang menggunakan hak pilihnya.

Dia adalah perempuan pertama yang mengajukan gugatan itu. Dia juga aktif dalam kampanye agar perempuan diizinkan mengemudi. Setiap 2-3 hari dia berkendara di Jeddah tanpa walinya.

Dia membantu para perempuan lain yang mengemudi ketika berurusan dengan polisi dan pengadilan. "Kami termarginalkan dalam semua hak-hak dasar. Mereka (pemerintah) pikir dengan memberi kami sedikit hak politik, kami akan senang dan tutup mulut," ujar Samar kala itu.

Nyalinya yang luar biasa membuahkan penghargaan International Women of Courage Award. Samar kian aktif sebagai aktivis. Terlebih, suaminya kala itu, Waleed Abulkhair, juga merupakan seorang pengacara dan aktivis HAM. (sha/c7/hep)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Gara-Gara Tradisi, Ibu dan Anak Tewas di Gubuk Menstruasi


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler