Sang Ibu Menangis saat Melihat Foto si Kecil Jigang

Sabtu, 29 Mei 2010 – 04:01 WIB

BANYAK hal yang patut dikenang dari Putra alias Ramdan Aldil Saputra, pasien transplantasi liver pertama RSUD dr Soetomo Surabaya yang meninggal pada Minggu lalu (24/5)Tidak hanya secara medis, tetapi juga perjuangan yang luar biasa untuk hidup

BACA JUGA: Laptop di Bawah Rp 1 juta Segera Diproduksi

Inilah catatan wartawan Jawa Pos Nany Wijaya yang mendampinginya sejak masuk kamar operasi hingga sepekan menjelang kematiannya.

Hari ini, genap seminggu Ramdan, yang mempunyai nama baru Slamet Hadi Syahputra, menghadap Sang Pencipta
Seperti diketahui, pasien transplantasi liver pertama di RSUD dr Soetomo Surabaya itu meninggal karena ARDS (Acute Respiratory Syndrome), sejenis infeksi paru-paru yang sangat ganas.

Pada hari ketujuh kematiannya, di kubur kecilnya di pemakaman umum Dusun Jatirejo, Desa Gandusari, Trenggalek, tak terlihat ada taburan bunga baru

BACA JUGA: Hubble Temukan Planet Dimakan Bintang

Yang ada hanya beberapa lembar bunga kenanga berwarna hijau yang mulai layu, sebuah kendi dari tanah liat, dan sebutir kelapa hijau yang masih bersabut
Serta, empat krans dukacita yang warna bunganya juga mulai luntur karena diguyur hujan.

Keempat krans itu adalah kiriman gubernur Jatim, bupati Trenggalek dan Sekdanya, serta dari SMP 2 Gandusari, Trenggalek

BACA JUGA: Tak Putus Asa Wujudkan Organ Transplant Center

Sekolah tempat ayah Ramdan mengajarSebenarnya di situ masih ada satu krans lagi, namun nama pengirimnya sudah tak terbacaHancur oleh guyuran hujanKuburan di mana jasad Putra disemayamkan itu terletak hanya sekitar 400 meter dari rumah orang tuanya

Namun, diakui ayah almarhum, dia dan keluarganya memang tidak setiap hari ke situ"Kami hanya pernah ke sini saat pemakaman dan tiga harinyaUntuk tujuh harinya, kami memang merencanakan datang hari ini bersama ibu," jelas Bambang Sutondo Winarno, ayah almarhum Putra.

Kemarin, saya datang bersama dr Arie Utariani SpAn (KIC), dr Bagus Setyoboedi SpA, dr Khairina SpKJ, dr Novita, perawat kamar operasi Choirul Anam, perawat ICU Ainur, Luciana Tanoyo (pemilik Hotel Victoria, Tulungagung), Affandy (pengusaha Surabaya), Ustad Joko yang memimpin doa pada acara penggantian nama Ramdan menjadi Putra, serta beberapa pengusaha Tulungagung.

Seperti diketahui, dr Arie adalah konsultan ICU yang merawat Putra sejak hari operasinyaSedangkan dr Bagus adalah ahli anak yang merawat mantan penderita Atresia Bilier itu sejak bocah tersebut berumur dua tahun hingga akhir hayatnyaSedangkan dr Kharina adalah ahli jiwa yang mendampingi Ny Susilowati, ibu Ramdan yang sebagian livernya diambil untuk sang putraSedangkan dr Novita adalah anggota tim yang menangani pemeriksaan mikrobiologi Putra untuk mengetahui jenis-jenis kumannya.

Choirul Anam adalah perawat kamar operasi yang bertanggung jawab atas kelengkapan dan ketersediaan peralatan kamar operasi selama Putra menjalani pembedahanDia dan dr Arie adalah anggota Tim 11 yang belajar transplan liver ke Tianjin, Januari laluPeranan Ainur tidak berbeda dengan Choirul AnamBedanya hanya ada pada lokasiKalau Choirul bertanggung jawab di kamar operasi, Ainur di ICU.

Kemarin adalah pertemuan pertama saya dengan ayah-ibu Putra sejak bocah bermata bola itu meninggalSebab, dua hari setelah selang untuk mengeluarkan kelebihan cairan yang menekan otak Putra dipasang, saya berangkat ke New York

Dan sehari menjelang saya terbang kembali ke Indonesia, Putra pergi untuk selamanyaTak ada kata perpisahan antara kami, karena ketika saya hendak berpamitan, bocah itu sedang tidur dan saya tidak mau mengganggu tidurnya siang itu

Sama sekali tak terbayangkan oleh saya bahwa itulah kali terakhir saya bertemu dengan PutraSebab, ketika saya meninggalkan dia, saya pikir dia sudah dalam keadaan amanArtinya, dia akan bisa surviveKarena itu, ketika meninggalkan Indonesia, besar sekali harapan saya untuk kembali melihatnya jigang dengan mata yang terbuka lebar saat saya kembali ke tanah air

Sayang, keinginan saya tak sama dengan rencana TuhanPutra pergi tanpa sempat menunjukkan lagi jigang-nya kepada sayaInilah yang membuat saya dan  semua anggota rombongan yang datang bersama saya ke makam Putra kemarin tak sanggup menahan tangis saat membaca tulisan di nisan bercat putih di kuburan kecil itu: Ramdan Aldil SaputraLahir 27 September 2006Meninggal 23 Mei 2010.

Untuk mengenang jigang-nya yang mbeling dan ketampanannya itu, saya serahkan foto jigang Putra yang terkenal itu ke ibundanyaSeperti ketika saya menatap foto itu, Ny Susilowati juga terisak saat menatapnyaBedanya, saya lantas tak bisa berhenti menangisTetapi, ibu tiga anak itu lebih tabahBegitu foto berpigura itu dia terima, dia tatap sejenakDia elus, lantas diciumnyaTerlihat, betapa dia mencoba menahan air mata dukanya.

Dan duka itu lantas bergeser menjadi rasa haru yang sangat dalam ketika Guntur Prayitno dari Jawa Pos menyerahkan sumbangan spontanitas dari para guru dan murid dari Surabaya, Tulungagung, dan beberapa daerah lain kepada Ny Susilowati dan suaminya, BambangSeperti diketahui, mereka berdua adalah guru(bersambung/c3/iro)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Mahasiswa Untad Kembangkan Robot Penjinak Bom


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler