Sapu Bersih Pendukung Teroris di Birokrasi dan BUMN

Kamis, 17 Mei 2018 – 14:31 WIB
Syahrul Yasin Limpo. Foto: Ist/dok.JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Ketua DPP NasDem Syahrul Yasin Limpo mengatakan, salah satu penyebab terorisme dan radikalisme tumbuh subur adalah karena banyak pendukungnya. Ironisnya, para pendukung itu tersebar hingga ke jajaran birokrasi dan pegawai BUMN atau anak BUMN.

Dia menegaskan, pemerintah harus bergerak cepat untuk menutup rapat celah-celah ini. "Pendukung teroris itu ada bermacam-macam. Ada yang secara terbuka dalam arti aktif membantu berbagai kegiatan terorisme, misalnya dengan cara menjadi penyandang dana. Ada juga dengan cara menyediakan tempat penyemaian ide-ide radikal pada fasilitas di lembaga pemerintahan, BUMN, anak usaha BUMN," kata dia.

BACA JUGA: Teror Marak Lagi, Tolong Evaluasi Anggaran 3 Institusi Ini

Selama unsur-unsur itu tetap ada, pemberantasan radikalisme dan terorisme tidak akan pernah tuntas. Padahal, pemerintah menghabiskan banyak sumber daya untuk menumpas radikalisme dan terorisme.

"Kerugiannya amat tidak ternilai kalau satu WNI, sipil maupun aparat hukum, sampai cidera bahkan gugur karena teroris dan radikalis itu," ujarnya.

BACA JUGA: UU Ini Membatasi Ruang Gerak Polri Menumpas Teroris

Karena itu, dia mendesak pemerintah untuk segera membersihkan unsur-unsur pendukung radikalisme dan terorisme itu dari birokrasi, BUMN, dan anak usaha BUMN.

"Jangan beri tempat pada pendukung radikalisme dan terorisme. Begitu terindikasi, atasan birokrat atau pegawai BUMN dan anak usaha BUMN harus bergerak cepat," terangnya.

BACA JUGA: Ketua BK DPD Dukung Percepatan Pembahasan RUU Antiterorisme

"Peringatkan untuk menghentikan dukungan pada radikalisme dan terorisme. Kalau masih membandel, lakukan tindakan lebih tegas dan keras," kata dia.

SYL mengatakan, penindakan pada pendukung radikalisme dan terorisme sama sekali bukan membatasi kebebasan berbicara atau hak politik.

Tidak ada negara manapun yang menggolongkan dukungan pada radikalisme dan terorisme sebagai kebebasan berbicara.

"Anda tahu di Singapura dan Malaysia, posting di media sosial dengan materi dukungan pada radikalisme atau terorisme bisa berdampak penjara atau status tahanan kota. Bahkan, menyimpan materi-materi terkait terorisme bisa menjadi penyebab masuk penjara" tuturnya. (dil/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Kopassus Sudah Ikut Tangkap Terduga Teroris


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler