Satgas Covid-19 Paparkan Ujian yang Dilewati Bangsa Selama Pandemi

Rabu, 18 Agustus 2021 – 10:31 WIB
Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Satgas Penanganan Covid-19 mengulas kembali perjuangan bangsa Indonesia untuk merdeka dari pandemi.

Hal itu diingatkan Satgas Covid-19 sebagai renungan dalam rangka HUT Ke-76 RI.

BACA JUGA: 3 Modal Ini Harus Ada Agar Indonesia Merdeka dari Covid-19

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito mengatakan, Indonesia telah melalui dua kali masa puncak kasus pandemi pada 2021 dan angka kematian meningkat pesat dalam kurun waktu yang cepat.

Namun, perjuangan bangsa membuahkan harapan, di mana angka kesembuhan terus meningkat.

BACA JUGA: Satgas Covid-19: Pemerintah Tengah Menyiapkan Strategi Jangka Panjang Menghadapi Pandemi

Menurut dia, puncak kasus pertama terjadi pada 25 Januari 2021, mencapai 89.083 kasus dalam seminggu. Dalam menghadapi gelombang puncak kasus pertama ini, pemerintah menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Jawa-Bali dan PPKM Mikro.

"Kebijakan tersebut berhasil menurunkan kasus hingga ke titik terendah," kata dia di kanal BNPB Indonesia di YouTube, Selasa (17/8).

BACA JUGA: Prof Wiku Ungkap Data Kepatuhan Masyarakat Memakai Masker

Dalam penjabarannya, penurunan kasus dari puncak pertama hingga ke titik terendah terjadi pada 10 Mei 2021 dengan total kasus 26.088 kasus per minggu atau turun 29,29 persen dari puncak kasus pertama.

Berbagai upaya antisipasi pemerintah dengan dinamika yang terjadi telah dihadapi bersama untuk mencegah terjadinya lonjakan kasus kedua.

Seperti melakukan antisipasi lonjakan kasus pada masa Idulfitri, mencegah masuknya varian dari luar negeri, menekan mobilitas penduduk, fluktuasi daya juang dalam mempertahankan kedisiplinan protokol kesehatan, strategi vaksinasi serta peran dan respons pemerintah daerah (Pemda) dalam koridor PPKM yang juga diwarnai berbagai mutasi dari Covid-19 itu sendiri.

"Dinamika ini membawa kita pada tantangan yang lebih berat, yaitu kasus yang sebelumnya sudah berhasil dikendalikan, kembali mengalami lonjakan yang signifikan," tambah Wiku.

Puncak kedua terjadi pada 12 Juli dengan 349.308 kasus per minggu. Lonjakan ini bertambah dalam waktu seminggu atau meningkat 92,5 persen dari titik terendah.

Pada kelipatan dan waktunya, kasus puncak kedua ini mencapai empat kali lipat dari puncak pertama hanya dalam kurun waktu 1,5 kali lebih cepat dibanding puncak pertama.

Jika dihitung waktu secara per minggu, maka kasus puncak kedua membutuhkan waktu sembilan minggu jika dibandingkan puncak pertama yang butuh waktu 13 minggu.

Dalam menghadapi lonjakan kedua pemerintah menerapkan kebijakan yang lebih ketat, yakni PPKM Darurat, PPKM Mikro, dan dilanjutkan PPKM Mikro Level 4 yang dimulai secara berkesinambungan sejak 3 Juli 2021.

Adanya perubahan kebijakan menuntut semua lapisan masyarakat untuk berjuang dan mengorbankan berbagai hal demi menghindari kenaikan kasus terus terjadi.

Wiku menilai berkat sinergi dari seluruh lapisan masyarakat hingga minggu lalu, kasus positif nasional mingguan telah mengalami penurunan selama empat minggu berturut-turut atau turun sebesar 41,6 persen dari puncak kedua.

"Ini adalah perkembangan yang baik, meskipun jumlah kasus masih tinggi jika dibandingkan sebelum lonjakan kasus pada Mei lalu," imbuh Wiku.

Meski demikian, Wiku mengatakan, perjuangan melawan pandemi ini belum berakhir. Sebab hingga saat ini, laju penambahan kasus masih tajam yakni kasus positif yang mulanya membutuhkan waktu setahun untuk mencapai angka 1,5 juta, tetapi dengan cepat bertambah menjadi dua juta dalam waktu tiga bulan dan terus mengalami percepatan hingga 3,5 juta dalam waktu sekitar dua bulan.

Begitu juga kasus kematian, di mana sebelumnya membutuhkan waktu setahun mencapai angka 40 ribu jiwa, mengalami percepatan hingga 50 ribu dalam waktu dua bulan, mencapai 60 ribu dalam waktu sebulan dan mencapai 110 ribu atau dua kali lipat dalam sebulan terakhir.

Adanya peningkatan jumlah kasus ini mendorong pemerintah memaksimalkan upaya meningkatkan angka kesembuhan.

Upaya ini membawa kabar baik, kesembuhan meningkat pesat selama dua bulan terakhir. Angkanya mencapai tiga juta kesembuhan dalam kurun waktu dua bulan.

Wiku menganggap angka kesembuhan yang juga mengalami percepatan menunjukkan kemampuan bangsa menyesuaikan diri dalam mengambil langkah-langkah pengendalian yang semakin responsif dan tepat sasaran.

"Meskipun tantangan pandemi tidak semakin mudah. Ke depannya,  kesembuhan ini yang harus terus ditingkatkan agar kematian dapat ditekan semaksimal mungkin," tutur Wiku. (tan/jpnn)

Jangan Sampai Ketinggalan Video Pilihan Redaksi ini:


Redaktur : Adek
Reporter : Fathan Sinaga

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler