Saya Sudah di Lantai 12, Ingin Bunuh Diri

Minggu, 21 Januari 2018 – 06:05 WIB
Riva Rumamby (berdiri) dan Imanuel Leonard di kantor Save Youselves, Jakarta (15/1). Foto: FERLYNDA PUTRI/Jawa Pos

jpnn.com - Tiap hari ada saja klien yang menelepon bilang ingin bunuh diri. Save Yourselves, yang digerakkan para mahasiswa atau lulusan fakultas psikologi, menempatkan diri sebagai teman curhat.

FERLYNDA PUTRI, Jakarta

BACA JUGA: Erni Ditemukan Gantung Diri Usai Cekcok dengan Seorang Pria

DERING telepon berbunyi. Ketika diangkat oleh si pemilik telepon seluler, tanpa basa-basi suara serak di ujung sana menantang.

”Saya sudah di lantai 12, ingin bunuh diri. Apa yang bisa kamu katakan agar saya tidak jadi lompat,” ucap suara orang yang menelepon.

BACA JUGA: Polisi Incar Suami yang Buat Evi Depresi Berat

Saran yang salah bisa jadi membuat si penelepon benar-benar loncat. Sedetik saja terlambat, masalah semakin pelik.

”Beruntungnya, sampai sekarang orang itu tidak jadi bunuh diri,” ucap Riva Rumamby, salah seorang pendiri Save Yourselves.

BACA JUGA: Habisi Tiga Anaknya, Evi Paksa Minum Racun Bergantian

Cerita tersebut didapatkan Riva dari salah seorang relawan yang bergabung dalam Save Yourselves. Save Yourselves adalah sebuah layanan konsultasi untuk kesehatan mental.

Model layanan yang diberikan dengan cara chatting ataupun telepon. Jika klien merasa membutuhkan layanan tatap muka, Save Yourselves akan membantu memfasilitasi untuk bertemu dengan psikolog atau psikiater terdekat.

Save Yourselves menampung para relawan yang merupakan mahasiswa psikologi atau yang sudah lulus dari fakultas psikologi. Dengan jumlah 30-an dan rata-rata berusia 20-an.

Mereka jadi semacam tempat curhat. Pangkal masalah yang disampaikan para pencurhat bermacam-macam.

Mulai soal keluarga, ekonomi, perundungan, hingga asmara. ”Klien kami rata-rata usia dewasa muda, usia 20-an,” ucap pria 22 tahun itu saat ditemui di kantor Save Yourselves di Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Save Yourselves bermula dari obrolan iseng Riva dan kakak perempuannya, Indri Mahadiraka, pada pertengahan 2016.

”Waktu itu sedang nongkrong. Lalu saling bertukar ide untuk membuat social entrepreneurship,” kata Riva, alumnus psikologi Universitas Pancasila, Jakarta.

Sebagai mahasiswa psikologi, Riva mengusulkan membuat layanan curhat. Alasannya, membantu mendengarkan keluh kesah orang. Ide tersebut lalu disepakati.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 2016 menunjukkan, di Indonesia 35 juta orang terkena depresi, 60 juta mengalami bipolar, dan 21 juta menderita skizofrenia.

Sementara itu, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menyatakan, sekitar 14 juta orang yang berusia 15 tahun ke atas mengalami gangguan mental emosional.

Awalnya media yang digunakan Riva dan Indri adalah Line. Pada minggu pertama setelah berjalan, ada 100 orang yang curhat. Respons itu tidak disangka Riva maupun Indri.

Sebab, Riva dan Indri tidak pernah mengiklankan layanan yang mereka buka. Rata-rata para klien tahu dari media sosial maupun temannya.

Hingga akhirnya, pada akhir bulan pertama, ada 1.000 orang yang curhat. Kakak-adik itu pun kewalahan dan akhirnya membuka lowongan untuk menjadi relawan.

Sistem kerja Save Yourselves sebenarnya cukup sederhana. Para relawan bekerja secara sif. Alasannya, menurut Riva, orang curhat tidak mengenal waktu. Bisa jadi malam atau pagi hari.

”Satu minggu biasanya relawan cukup menyediakan 10 jam saja. Bebas kapan pun. Selebihnya mereka akan melakukan aktivitas lain,” ungkapnya.

Mulanya calon klien akan mengirimkan data diri dan sinopsis permasalahan. Lalu, di grup internal Save Yourselves akan dibahas siapa yang akan menanggapi klien tersebut.

Setelah salah seorang relawan menyanggupi, klien akan diarahkan untuk menghubungi relawan tersebut.

Sementara itu, untuk yang ingin telepon, nomor para relawan biasanya dibagikan di akun media sosial Save Yourselves. ”Kalau telepon biasanya malam hari. Lebih dari jam 10 malam,” ucap Riva.

Menurut Riva, mereka yang menanggapi telepon harus memiliki mental tangguh. Alasannya, menanggapi dengan telepon berbeda dengan lewat tulisan.

Contohnya ya klien yang menelepon dan mengatakan akan bunuh diri tadi.

”Beruntung, relawan kami berhasil menenangkan,” kata Riva.

Yang pertama dilakukan adalah meyakinkan si penelepon harus menjauh dari bibir gedung.

”Kemudian, dia juga diberi keyakinan bahwa masalah yang sedang dialaminya mampu diselesaikan dan tidak lari dengan cara bunuh diri,” katanya.

Kasus serupa, klien yang bilang lewat telepon akan bunuh diri, kata Riva, hampir tiap hari ada. Imanuel Leonard, salah seorang relawan, juga membenarkan.

Tapi, apa pun persoalannya, yang harus dipegang teguh oleh relawan: data klien tidak boleh disebarkan. Tidak ada yang boleh tahu klien tersebut menceritakan apa. ”Ini kami pantau lewat koordinator,” ungkapnya.

Leo –sapaan Imanuel Leonard– mengaku mendapat pengalaman berharga selama bergabung.

”Pernah ada klien yang depresi karena kurang kasih sayang dari keluarga,” ujar Leo, mahasiswa psikologi Universitas Brawijaya, Malang, itu.

Curhatan klien tersebut mengingatkan Leo akan apa yang dialaminya dulu. Dia juga pernah merasa kurang kasih sayang. ”Tapi, saya tidak boleh ikut sedih. Harus memberikan solusi,” tuturnya.

Saran yang diberikan Leo adalah si klien harus berani ngobrol dengan orang tua. Tak cuma dengan teman seperti yang selama ini dia lakukan.

”Saya dengar sudah berani ngomong sama orang tuanya. Sekarang tidak ada kabarnya lagi,” ucapnya.

Platform curhat secara online yang dibuat Riva dan Indri itu juga mendapat beragam apresiasi di sejumlah ajang. Tahun lalu Save Yourselves mengikuti kompetisi Google Startup Weekend dan hasilnya menjadi juara.

”Kami juara di bagian health and lifestyle,” ujar Riva, pria kelahiran 18 Juni 1995 itu.

Kompetisi kedua yang diikuti adalah Echelon Asia Summit 2017. Pada kompetisi itu pun, Save Yourselves berada di peringkat atas.

Bergabung dengan Save Yourselves juga tak lantas membuat kuliah para relawan terganggu. ”Kalau pas di kelas dan ada yang chat, biasanya saya bilang kalau sedang acara. Secepatnya akan saya hubungi,” tutur Leo.

Leo maupun Riva ingin semakin banyak yang bergabung. Mereka berharap di setiap kota ada relawan maupun psikolog dan psikiater yang mau mendampingi.

Sebab, bagi Riva dan Indri, respons positif dari publik sejauh ini membuat mereka senang sekaligus sedih.

”Senangnya, layanan tersebut dapat memberikan manfaat. Tapi, sedihnya, itu menunjukkan banyak orang yang membutuhkan teman cerita,” kata Riva. (*/c10/ttg)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Ajak 3 Anak Bunuh Diri, Sang Ibu jadi Tersangka


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler