Sebelum Diklaim Negara Lain, Minum Jamu Harus Dibudayakan

Jumat, 16 Januari 2015 – 22:51 WIB
Sebelum Diklaim Negara Lain, Minum Jamu Harus Dibudayakan. Jahe Uwuh, salah satu minuman tradisional. Foto Arwan Mannaungeng/JPNN.com

jpnn.com - JAKARTA - Jamu merupakan aset potensial nasional yang diwariskan secara turun temurun serta merupakan warisan budaya bangsa. Karena itu sudah seharusnya dimanfaatkan dan dikembangkan menjadi komoditi kesehatan dan menjadi sumber ekonomi unggulan serta sebagai jati diri bangsa.

Ajakan ini disampaikan Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani saat mempromosikan minum jamu setiap Jumat di kementerian-kementerian, yang kali ini digelar di Kantor Kementerian Perindustrian, Jumat (6/1).

BACA JUGA: Cara Pemakaian Tas Agar Otot Tidak Kaku

Selain Menteri Perindustrian Saleh Husin, hadir juga Menteri Perdagangan Rachmat Gobel serta Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Hanif Dhakiri.  Menurut Puan, program minum jamu tiap Jumat ini adalah bagian dari Revolusi Mental. Tentu saja, poinnya bukan sekadar minum jamu, tapi mempertahankan kebudayaan.

"Biar enggak diklaim negara lain," kata Puan, yang sebelumnya acara minum jamu digelar di kantor Menteri Perdagangan Rachmat Gobel pada 19 Desember 2014 lalu.

BACA JUGA: Inilah Cara Mengatasi Kecanduan Makanan

Puan mengatakan, kebiasaan minum jamu juga akan dia tularkan ke semua kementerian dengan menggelar acara minum bersama tiap Jumat. Lokasi acaranya berpindah dari satu kementerian ke kementerian lain. Tujuannya, kata Puan, adalah jamu bisa mendunia dan tidak punah.

"Saya sangat berharap seluruh kementerian dan lembaga beserta para ahli dan stakeholder terkait, terus mendorong upaya-upaya yang lebih terstruktur dan lebih masif dalam upaya mengembangkan produk Jamu Brand Indonesia. Hal ini dimaksudkan agar seluruh kebutuhan obat dan bahan obat asli Indonesia dapat menjadi primadona di negeri sendiri," ujar Puan.

BACA JUGA: Periode Menstruasi Bisa Jadi Indikator Kesehatan

Puan menambahkan, produk jamu Indonesia tidak hanya dikenal di dalam negeri dan negara-negara ASEAN, akan tetapi sudah jauh terkenal di seluruh negara-negara Eropa dan Amerika. Hal ini merupakan bukti bahwa nilai-nilai budaya warisan para pendahulu bangsa  kita tidak kalah bersaing dengan produk mancanegara. Meskipun diakuinya, tantangan pemanfaatan dan pengembangan jamu sangat besar, baik dalam tataran konsep maupun operasional.

Dalam kesempatan itu, Puan Maharani mengatakan dirinya sudah minum jamu sejak kecil. Ia dipaksa minum jamu oleh sang ibu, Megawati Soekarnoputri.  Saat itu, Puan mengatakan, ia menanyakan kepada Megawati tentang khasiat jamu.

"Ibu bilang (khasiatnya) baru terasa setelah dewasa dan punya anak," katanya menirukan Megawati kala itu.

Menurut Puan, apa yang dikatakan Megawati itu benar. Puan merasa tetap bugar meski mobilitasnya tinggi saat ini. Puan mengatakan tradisi minum jamu ini diturunkan kepada anaknya. (ysa/rmo/jpnn)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Sebuah Cerita Tentang Kopi


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler