Sebulan Dijatah Tiga Tabung Elpiji 3 Kg

Minggu, 11 September 2016 – 01:29 WIB
Ilustrasi. Foto: JPNN

jpnn.com - JAKARTA – Pola distribusi tertutup elpiji 3 kilogram (kg) masih diujicoba Ditjen Migas Kementerian ESDM di Tarakan, Kalimantan Utara. Pemerintah menilai cara itu lebih tepat sasaran. Yang penting, tidak akan ada lagi kelangkaan elpiji karena terdata secara perinci.

Dirjen Migas Kementerian ESDM Wiratmaja Puja menyatakan, jaminan tersebut muncul karena jatah setiap warga kini dijamin. Rumah tangga mendapatkan tiga tabung elpiji 3 kg. Sementara itu, usaha mikro dialokasikan sembilan tabung per bulan.

BACA JUGA: Limit Saldo E-Money Naik Jadi Rp 10 Juta

’’Tidak ada lagi kelangkaan. Begitu dapat kartu, jatahnya langsung dipastikan,’’ ujarnya.

Uji coba di Tarakan berjalan lancar meski baru beberapa kecamatan. Rencananya, pada Oktober di seluruh Tarakan menerapkan sistem distribusi yang baru dengan menggunakan kartu uang elektronik.

BACA JUGA: Gandeng Telkom, Bank BUMN Hemat Rp 6,8 Triliun

Tahapan yang dilakukan Kementerian ESDM, Pertamina, dan pemda setempat masih berdasar aturan yang lama. Yakni, yang berhak mendapatkan elpiji 3 kg adalah rumah tangga dan usaha kecil.

Karena itu, yang mendapatkan kartu uang elektronik di Tarakan masih berdasar ketentuan yang berlaku. Jika nanti ada perubahan aturan, elpiji 3 kg hanya diperuntukkan orang yang tidak mampu.

BACA JUGA: PLN Dapat Kucuran Dana Investasi Rp 12 triliun

Lebih lanjut, Wirat menjelaskan, seluruh pangkalan dan agen elpiji 3 kg akan dilengkapi alat pembaca kartu uang elektronik. ’’Hal itu merupakan tantangan. Dibutuhkan infrastruktur yang tidak sedikit,’’ terangnya.

Namun, pemerintah tidak khawatir. Sebab, pihaknya sudah menggandeng salah satu bank negara untuk penyebaran mesin pembaca kartu. Agen maupun pangkalan dilengkapi fasilitas isi ulang kartu bagi warga yang tidak memiliki rekening. Meski butuh banyak investasi, harga jual tetap.

’’Hal itu sesuai dengan HET (harga eceran tertinggi, Red) yang ditetapkan masing-masing pemda,’’ paparnya.

Simulasi yang dilakukan di Tarakan diharapkan berjalan lancar. Jadi, rencana pemerintah untuk mengimplementasikan cara yang sama pada 2017 di berbagai kota bisa terwujud.

Jika tahun depan bisa diimplementasikan, dia menyebutkan bahwa cara tersebut bisa mengurangi kebocoran distribusi 10–15 persen. Kebocoran subsidi yang dimaksud adalah penyalahgunaan elpiji 3 kg untuk hotel maupun restoran.

Selain itu, rumah tangga mampu masih diperbolehkan. Sebab, aturan belum diubah.

Kendati demikian, pemerintah ingin aturan diubah. Jadi, subsidi elpiji 3 kg hanya diterima orang yang tidak mampu. Berdasar data Ditjen Migas, jumlah orang tidak mampu yang berhak mencapai 15,5 juta. Sebelum memastikan ada subsidi yang tepat sasaran, dia ingin Bright Gas 5,5 kg milik Pertamina berada di mana-mana.

’’Tantangannya, orang-orang mampu yang sekarang punya tabung 3 kg mau dikemanakan kalau programnya berjalan. Karena itu, tabung 5,5 kg harus tersebar dulu,’’ jelasnya. Wirat berharap kuota bersubsidi tersebut berkurang mulai 2018. Saat itu pemerintah bisa hemat subsidi sampai Rp 18 triliun. (dim/c5/sof)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Polri Diminta Ikut Membangun Iklim Investasi


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler