Sekjen MPR: SDM Harus Berpikir Kritis, Kreatif, dan Inovatif

Sabtu, 15 Januari 2022 – 21:57 WIB
Sekjen MPR RI Ma'ruf Cahyono. Foto: Humas MPR RI

jpnn.com, JAKARTA - Sekretaris Jenderal (Sekjen) MPR Dr. Ma’ruf Cahyono SH., MH., di Pondok Pesantren Modern Zam Zam, Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah, 7 Januari 2022, disambut hangat oleh pimpinan dan santri pondok pesantren.

Ma’ruf Cahyono menjadi narasumber kuliah umum dengan tema Mewujudkan Sumber Daya Manusia Unggul Melalui Pendidikan Berkarakter dan Berdaya Saing.

BACA JUGA: Pimpinan MPR RI Dorong Percepatan Reformasi Agraria

“Saya merasa bangga dan senang bisa bertemu dengan pimpinan dan santri di pondok pesantren kebanggaan masyarakat Banyumas,” ujar alumni Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman (FH Unsoed) itu. 

Ma’ruf Cahyono merasa senang bisa memenuhi undangan pihak pondok pesantren.

BACA JUGA: MPR RI Selenggarakan Turnamen Catur Indonesia Master II, Catat Waktunya

“Syukur saya dapat undangan sehingga sekaligus bisa bersilaturahmi dengan pimpinan dan santri di pondok pesantren ini,” tambahnya.

Di hadapan peserta studium general, pria asal Banyumas itu mengatakan tujuan pembangunan Indonesia mewujudkan masyarakat yang kompetitif, berakhlak mulia, dan bermoral berdasarkan Pancasila.

BACA JUGA: Perayaan Natal Bersama MPR, DPR, dan DPD, Bamsoet Sampaikan Pesan Perdamaian

Menurut dia, banyak tantangan yang mesti segera dituntaskan. Tantangan yang ada itu seperti produktivitas tenaga kerja yang rendah.

Dari data Asian Productivity Organization 2018, tingkat produktivitas tenaga kerja Indonesia masih berada di bawah rata-rata.

Rendahnya tingkat pendidikan juga menjadi tantangan pembangunan. Pekerja Indonesia didominasi orang-orang yang berpendidikan rendah dengan 37,69 persen merupakan lulusan SD.

“Sedang lulusan perguruan tinggi hanya kisaran 12,82 persen,” ujarnya.

Salah satu penyebab utama rendahnya kualitas SDM Indonesia ialah karena rendahnya kualitas pendidikan,'' ungkapnya.

Survei PISA yang dilakukan kepada 78 negara anggota OECD ini memperlihatkan,

tingkat kemampuan siswa Indonesia berumur 15 tahun dalam membaca, matematika, dan sains menempati peringkat 10 terbawah.

Pria yang saat ini menempuh pendidikan Program Doktor Stratejik Global Universitas Indonesia menyebutkan, disrupsi teknologi juga menjadi salah satu tantangan pembangunan.

Dipaparkan disrupsi teknologi menyebabkan banyak lapangan kerja beralih ke digitalisasi. 

Hal demikian berpotensi mengurangi 56 persen lapangan kerja di dunia. “Kondisi ini dapat berakibat buruk bagi pekerja Indonesia yang mayoritas berasal dari tingkat pendidikan yang rendah,” ujarnya.

Kemajuan teknologi yang membawa revolusi industry 4.0 yan menekankan peran internet dan otomatisasi teknologi dalam proses produksi diprediksi membawa tantangan-tantangan baru baru bagi SDM Indonesia. “Revolusi ini juga diprediksi akan menciptakan 3,7 juta lapangan kerja baru sekaligus mengurangi 62,7 juta lapangan kerja tradisional di Indonesia,” ujarnya.

Menurut Ma’ruf, kemahiran yang dibutuhkan SDM Indonesia di masa depan adalah, kemampuan menyelesaikan masalah kompleks, berpikir kritis, kreatif dan inovatif, cerdas secara emosi, kemampuan berkoordinasi dengan orang lain, mampu bernegosiasi, dan mampu mengambil keputusan sendiri saat dibutuhkan.

Untuk menjawab tantangan tersebut, sosok yang menjadi dosen magister hukum di berbagai perguruan tinggi itu mengatakan kuncinya adalah dengan mengembalikan konsep pendidikan Indonesia ke arah pendidikan berkarakter, yaitu pendidikan yang tidak hanya meningkatkan kecerdasan tetapi juga meningkatkan attitude atau kepribadian seseorang.

Pendidikan berkarakter adalah upaya yang terencana untuk menjadikan peserta didik mengenal, peduli, dan mengiternalkan nilai-nilai sehingga peserta didik berperilaku sebagai insan kamil, “Tuujuan pendidikan karakter adalah meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah melalui pembentukan karakter peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang sesuai standar lulusan,” paparnya.

Ma’ruf Cahyono mengutip tokoh pendidikan nasional Ki Hadjar Dewantara. Yakni, pendidikan adalah usaha kebudayaan yang bermaksud memberi bimbingan dalam hidup tumbuhnya jiwa raga anak agar dalam kodrat pribadinya serta pengaruh lingkungannya, mereka memperoleh kemajuan lahir batin menuju ke arah adab kemanusiaan. (mrk/jpnn)

Simak! Video Pilihan Redaksi:


Redaktur : Tarmizi Hamdi
Reporter : Tarmizi Hamdi, Tarmizi Hamdi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler