Sekolah Pilot Negeri Banyuwangi Diresmikan

Selasa, 24 Desember 2013 – 15:54 WIB
Para taruna Loka Pendidikan dan Pelatihan Penerbang Banyuwangi (LP3B) angkatan pertama. FOTO: Ist

jpnn.com - BANYUWANGI – Kementerian Perhubungan merampungkan pembangunan sarana pendidikan pilot negeri di Banyuwangi, Jawa Timur. Sekolah pilot negeri atau yang secara resmi disebut Loka Pendidikan dan Pelatihan Penerbang Banyuwangi (LP3B) ini diresmikan Senin (23/12).

Kepala Badan Pengembangan SDM Kementerian Perhubungan, Santoso Eddy Wibowo, mengatakan, pembangunan gedung sekolah pilot ini membutuhkan dana Rp 39 miliar, meliputi ruang kelas, ruang simulator, asrama, laboratorium, hangar, apron. Luas lahan mencapai 2,4 hektare.

BACA JUGA: Tanggul Kali Lamong Rawan Jebol

Dia mengatakan, SDM merupakan faktor vital dalam industri penerbangan. Indonesia membutuhkan banyak penerbang. Setidaknya dibutuhkan sekitar 800 pilot per tahun. Adapun untuk kawasan Asia, kebutuhannya mencapai sekitar 185.000 pilot hingga 

”Fasilitas pendidikan ini adalah bagian dari upaya pemerintah menyiapkan sumberdaya manusia (SDM) penerbang yang andal di tengah semakin berkembangnya industri penerbangan nasional. Saat ini jumlah maskapai dan rute terus berkembang, sehingga di sisi hulunya, seperti kesiapan SDM, harus benar-benar bagus,” ujar Santoso di sela-sela peresmian gedung LP3B di Banyuwangi, Senin (23/12). 

BACA JUGA: Harga Cabai Merah Naik 60 Persen

Sebelumnya, sekolah pilot ini merupakan bagian dari jurusan Akademi Teknik Keselamatan Penerbangan (ATKP) Surabaya. Bandara Blimbingsari, Banyuwangi, digunakan saat praktik penerbangan. Dengan rampungnya gedung LP3B, berarti pengembangan dari jurusan yang ada di ATKP Surabaya menjadi sekolah tersendiri. Saat ini sudah ada 47 taruna yang bersekolah di LP3B.

Sekolah pilot negeri di Banyuwangi ini merupakan fasilitas pendidikan pilot kedua yang dimiliki pemerintah setelah sekolah serupa di Curug, Tangerang, Banten yang Santoso mengatakan, tahun ini Kementerian Perhubungan juga telah menambah tiga pesawat latih jenis Cessna 172 SP dan tiga simulator full motion untuk sarana pendidikan pilot di Banyuwangi yang menelan dana Rp 34 miliar. Tahun depan, akan ada penambahan empat pesawat latih. Hingga 2016, seiring dengan pemenuhan fasilitas ideal, dibutuhkan dana Rp 200 miliar.

BACA JUGA: Hari Ini Lonjakan Penumpang KA

”LP3B ini akan menjadi pusat pendidikan yang unggul. Kami juga bekerja sama dengan Boeing untuk melakukan supervisi untuk meningkatkan kualitas SDM di industri penerbangan, termasuk para pilot di sekolah ini,” kata Santoso.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas gembira dengan kehadiran sekolah pilot tersebut. Kehadiran LP3B akan semakin melengkapi infrastruktur pendidikan yang ada di kabupaten berjuluk The Sunrise of Java tersebut, yang juga telah memiliki Politeknik Negeri Banyuwangi.”Penerbangan adalah sektor vital dan pengungkit ekonomi. Banyuwangi ingin ikut berkontribusi pada peningkatan kualitas industri penerbangan nasional. Apalagi, kami punya bandara berkonsep bagus, tahun depan Bandara Blimbingsari Banyuwangi yang telah ada akan diubah menjadi green airport, bandara tanpa AC pertama di Indonesia,” kata Anas.

Anas mengatakan, sebagai negara kepulauan dengan 17.000 buah pulau dan 240 juta jiwa penduduk, Indonesia adalah pasar besar bagi industri penerbangan. Saat ini, industri penerbangan nasional tengah berada pada momentum emas untuk terus melaju. Pertumbuhannya mencapai kisaran 15-18 persen per tahun. Karena itu, pengembangan SDM pilot melalui sekolah pilot di Banyuwangi ini akan sangat mendukung terciptanya industri penerbangan nasional yang kompetitif.

”Indonesia harus mengantisipasi kebijakan ASEAN Open Sky 2015 dan kebijakan pasar penerbangan tunggal ASEAN 2020. Kita membutuhkan setidaknya tambahan 4.000 pilot, 1.000 pengatur lalu lintas, dan 4.500 teknisi,” ujar Anas. (eri/mas)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Gubernur Larang Rayakan Natal Hura-hura, Diminta Ngaji Saja


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler