Self-Defense dalam Setiap Kesempatan

Minggu, 14 September 2014 – 03:51 WIB
BERBONUS: Muay Thai salah satu olahraga bela diri yang juga berguna untuk kesehatan bagi kaum hawa. (Dimas Alif/Jawa Pos)

jpnn.com - Menangkal terjadinya tindak kejahatan, tidak sedikit perempuan yang mengasah kemampuan bela diri. Tidak hanya terlindung, beberapa juga mengidamkan bonus langsing.

*****

BACA JUGA: Batik Kiddie Nuansa Pastel

ANGKA kejahatan terhadap perempuan semakin meningkat. Berdasar data Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan, terdapat 279.760 kasus kekerasan terhadap perempuan selama 2013. Angka tersebut lebih besar jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yakni 216.156 kasus. Perempuan pun dituntut memiliki kemampuan self-defense.

Bela diri di sini tidak melulu berlatih yang menyusahkan. Alat-alat yang sering dipakai perempuan juga bisa berperan sebagai senjata. Misalnya, tisu, alat make-up, payung, sepatu high heels,dan pensil.

BACA JUGA: Antioksidan Produk Lebah

Eko Hendrawan Sofyan menjelaskan, aktivitas sehari-hari mampu melatih ketahanan fisik perempuan. Dia mencontohkan perempuan yang berjalan. Bukan hanya kaki yang melangkah, tangan pun ikut berayun. Ayunan tangan tersebut bisa digunakan sebagai gerakan bela diri.

’’Kepalkan tangan, lalu diayunkan. Semakin kuat ayunan, semakin kuat pukulan. Ayunan itu diarahkan ke kelamin penjahat. Siapa saja dapat melakukan hal itu, termasuk perempuan,’’ papar pelatih dan pembina Komunitas Woman Self-Defense of Kushin Ryu (WSDK) tersebut.

BACA JUGA: Manjakan Kulit dengan Buah Naga

Kepalan tangan juga bisa dipakai sebagai alat tangkis dan pelindung kepala. Hal itu dapat dilakukan dengan membentuk segi tiga siku-siku dengan arah kepalan ke belakang kepala. Gerakan tersebut mampu melindungi kepala dari pukulan.

Untuk menambah kekuatan pukulan, jelas Eko, benda di sekitar kita bisa digunakan. Yang paling mudah ditemui adalah tisu. Caranya, beberapa lembar tisu diremas, lalu dimasukkan ke dalam genggaman tangan.

’’Kekuatan genggaman dengan tisu sekitar tiga kali lipat daripada tangan kosong. Jari-jari juga terlindung,’’ jelas laki-laki 38 tahun tersebut sambil mempraktikkan gerakan. Lipstik saat digenggam juga berefek serupa.

Selain gerakan perlindungan, perempuan wajib dilatih 3P. Yakni, prediksi, preventif, dan proteksi. Untuk prediksi, perempuan wajib jelimembaca situasi. Misalnya, di dalam angkutan umum, perempuan harus mengenali gerakan-gerakan aneh pelaku. Antara lain, ada penumpang muntah atau mendekatkan tubuhnya kepada kita. Bila tidak memungkinkan melawan, Eko menganjurkan perempuan untuk turun dari angkutan umum tersebut.

Membangun prediksi bertujuan membentuk zona aman virtual di sekeliling tubuh. Zona tersebut sekitar satu meter mengelilingi tubuh kita. Kalau seseorang yang bergelagat aneh ’’terdeteksi radar’’ memasuki zona aman, lakukan antisipasi.

Lalu, preventif atau pencegahan. Selalu waswas dan siap sedia merupakan bentuk pencegahan. Contohnya, perempuan sudah memasukkan tisu dalam kepalan tangan atau meletakkan benda-benda yang bisa dijadikan senjata dalam area yang mudah dijangkau.

’’Dalam ilmu bela diri, perempuan wajib memiliki plan Adan plan B. Kalau tidak dapat menggunakan atau melakukan satu hal, mereka wajib punya rencana cadangan. Jangan sampai lalai,’’ tegas laki-laki kelahiran Bandung, 17 Desember 1976, tersebut.

P yang terakhir adalah proteksi. Berteriak termasuk perlindungan diri. Eko menerangkan, setiap keluar rumah, perempuan sudah harus membangun sebuah ’’sinyal’’ kuat perlindungan. Terutama saat akan bepergian ke tempat umum atau naik angkutan umum. Hal utama, perempuan harus percaya diri. Setelah itu, akan muncul kemampuan melindungi anak atau keluarga pada saat bersamaan.

Puluhan tahun terjun dalam ilmu bela diri Khusin Ryu, kata Eko, banyak muridnya yang berlatih bela diri dengan latar belakang pernah menjadi korban kejahatan.

’’Sampai saat ini sudah tercatat sekitar 2 ribu anggota aktif di Komunitas WSDK. Memang, sebelumnya perempuan, apalagi ibu-ibu, pasti malas bergerak sebelum kejahatan menimpanya. Namun, sekarang sedikit demi sedikit kesadaran tumbuh,’’ ungkapnya.

Salah seorang murid Eko adalah anggota dewan, Fitriah Aziz. Eko menceritakan, Fitriah sangat bersemangat berlatih. Meski berdomisili di Jakarta, dia rutin berlatih di base camp Komunitas WSDK yang berlokasi di Bandung. Dia membutuhkan benteng diri karena tidak selalu didampingi suami.

Anggota WSDK lainnya adalah istri Annis Matta, Anaway Mansyur. Anaway sadar bahwa dirinya tidak selalu berada dalam perlindungan pengawal. Ada kalanya dia beraktivitas sendiri dan jauh dari jangkauan pengawal.

Suatu ketika, ada orang mencurigakan yang mendekati mobilnya. Dengan percaya diri, Anaway turun dari mobil dan melakukan proteksi dengan cara berteriak. Alhasil, orang tersebut takut dan lantas kabur.

’’Otomatis bela diri mampu meningkatkan kepercayaan diri. Ibu Anaway sangat percaya diri dengan kemampuannya, meski tanpa pengawal. Saya salut,’’ ujar Eko. Bahkan, setelah menguasai beberapa gerakan bela diri, Anaway ’’menularkan’’ kepada anak-anaknya. (bri/c5/nda)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Hijabers Bermain Padu Padan Baju Second


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler