Semangat AA

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Selasa, 19 April 2022 – 21:06 WIB
Ilustrasi sosok Bung Karno. Foto: Antaranews

jpnn.com - Kalau berbicara mengenai AA sebaiknya berhati-hati, karena sekarang lagi ada yang sensi dan mengancam akan lebih gila lagi dari sebelumnya. Namun, AA yang ini tidak ada hubungan dengan AA yang itu. 

AA yang ini adalah ‘’Asia Afrika’’, tepatnya Konferensi Asia-Afrika, the one and only, satu-satunya yang pernah dilakukan di Bandung 18 April 1955.

BACA JUGA: Ingat Ajaran Bung Karno, Megawati: Perut Rakyat Harus Kenyang

Sejarah biasanya berulang, tetapi kali ini sejarah konferensi AA tidak pernah terulang. 

Meski demikian, sejarah ini ditorehkan dengan tinta emas untuk menghormati peran Indonesia yang sangat penting dalam konstelasi geopolitik internasional. 

BACA JUGA: Konferensi Asia Afrika Tetap Digelar April

Ketika itu sedang menghadapi krisis bipolar, perang dingin antara blok kapitalis Amerika vs blok komunis Uni Soviet, dan Indonesia tampil ke permukaan memberi gerakan alternatif.

Setelah Perang Dunia Kedua berakhir, negara-negara pemenang berebut ghanimah atau harta rampasan, memperebutkan negara-negara lain untuk masuk ke dalam blok para pemenang. 

BACA JUGA: Ukraina Rilis Bukti Kejahatan Perang Rusia, Seluruh Dunia Bisa Mengaksesnya di Sini

Amerika membuat blok dengan menguasai negara-negara di Eropa Barat plus beberapa negara berbahasa Inggris. 

Uni Soviet membuat blok dengan menguasai negara-negara di Eropa Timur.

Persaingan dua blok ini meluas ke seluruh dunia sampai ke Asia dan Afrika. 

Perebutan pengaruh itu membuat negara-negara terhimpit dalam perang antargajah yang bisa menginjak-injak pelanduk yang tidak berdaya.

Bung Karno mengajukan gagasan brilian untuk menghindari dominasi dua blok raksasa itu. 

Bung Karno mengajak negara-negara yang baru merdeka di wilayah Asia dan Afrika untuk tidak ikut-ikutan bergabung dalam dua blok baru itu.

Negara-negara Asia-Afrika itu menjadi kekuatan baru yang sangat signifikan. 

Mereka kemudian menyebut dirinya sebagai ‘’non-blok’’, meskipun pada kenyataannya mereka adalah sebuah blok baru. 

Negara-negara non-blok ini terdiri atas negara-negara dengan penduduk besar dan mempunyai pemimpin perjuangan kaliber kelas berat dunia. 

India mempunyai Jawahral Nehru, Mesir punya Gamal Abdul Naser, Indonesia mempunyai Soekarno yang sangat disegani. 

Ketika kemudian mereka sepakat untuk berkumpul di Bandung, jumlahnya mencapai 29 negara. 

Jumlah ini berarti separuh dari jumlah anggota PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) yang didirikan Amerika dan para pemenang perang pada 1945 dengan anggota 51 negara.

Konferensi AA melahirkan 10 kesepakatan yang disebut sebagai ‘’Dasasila Bandung’’, yang secara implisit berisi perlawanan terhadap hegemoni dan dominasi Amerika dan Uni Soviet. 

Presiden Soekarno, tak pelak, menjadi tokoh utama di balik gerakan itu.

Negara-negara AA ini kemudian bergabung dalam gerakan negara non-blok yang diprakarsai oleh pemimpin Yugoslavia Josip Bros Tito, Gamal Abdul Nasser, dan Jawahral Nehru yang mengadakan konferensi non-blok di Beograd pada 1961. 

Bergabungnya Yugoslavia dalam gerakan ini makin membuat gatal Amerika dan Uni Soviet, karena secara geografis Yugoslavia berada di Eropa Timur yang menjadi wilayah kekuasaan Uni Soviet. 

Di dalam negara-negara non-blok itu bergabung juga Kuba di bawah kepemimpinan Fidel Castro yang sangat dibenci Amerika. 

Tiga serangkai Tito, Castro, dan Bung Karno adalah tokoh-tokoh yang ditakuti Amerika dan Uni Soviet, ditambah dengan Mesir dan India, kekuatan non-blok benar-benar menakutkan bagi Amerika dan Soviet.

Bung Karno menjadi motor gerakan alternatif untuk menghindari bipolarisasi dunia menjadi dua bagian saja. 

Bagi Bung Karno, dunia yang hanya dibagi menjadi dua bagian akan sangat riskan konflik karena tidak adanya kekuatan penyeimbang. 

Dunia tidak boleh hanya punya dua sumbu, dan tetap harus mempunyai sumbu alternatif yang menjadi penyeimbang.

Bung Karno bukan hanya menciptakan gerakan politik untuk melawan dua blok raksasa, dia juga membuat gerakan olahraga untuk menyaingi dua blok itu. 

Bagi Bung Karno, kekuatan sebuah negara akan terlihat dari kekuatan tiga unsur, yaitu kekuatan militer, kekuatan ekonomi, dan kekuatan olahraga.

Maka Bung Karno menggerakkan negara-negara non-blok untuk ikut dalam pesta olahraga Ganefo, Game of New Emerging Forces, pekan olahraga negara-negara kekuatan baru pada 1963. Tujuannya jelas untuk menyaingi Olimpiade yang menjadi ajang unjuk kekuatan olahraga dua blok negara besar itu.

Kini, 67 tahun berlalu. Dunia sudah berubah. Uni Soviet bubar pada 1990 dan blok komunis Eropa Timur pun ikut bubar. 

Amerika memproklamasikan diri sebagai adidaya tunggal dunia. 

Gerakan Non-Blok sudah makin memudar dan nyaris tak terdengar. 

Dunia sudah bergerak menuju uniteralisme dan Amerika ingin menjadi pusat sumbu dunia.

Dua tahun terakhir dunia yang tunggal di bawah kepemimpinan Amerika itu tunggang langgang menghadapi serbuan pandemi. 

Dunia global yang seharusnya menjadi sebuah kesatuan yang utuh menjadi tercerai berai menghadapi serangan Covid-19.

Galibnya globalisasi menjadikan semua negara global bergabung menjadi satu.

Namun, menghadapi pandemi, masing-masing negara akhirnya menerapkan taktik SDM alias selamatkan diri masing-masing.

 Serbuan pandemi membuat negara-negara di seluruh dunia kelabakan. 

Amerika yang mempunyai pabrik-pabrik farmasi dan teknologi kesehatan terbaik di dunia ternyata kalang kabut menghadapi serangan makhluk kecil ini.

Sistem demokrasi liberal Amerika ternyata tidak efektif menghadapi pandemi. 

Masyarakat menolak menerapkan prokes karena dianggap melanggar hak asasi manusia. 

Negara tidak berdaya dan tidak berani memaksakan peraturan kepada rakyatnya sendiri.

Sementara China yang menjadi cikal-bakal penyebaran penyakit ini justru bisa mengatasinya dengan lebih efektif. 

Provinsi Hubei yang menjadi pusat penyebaran virus pun ditutup total. 

Semua penduduk dikerangkeng di rumah masing-masing. 

Dengan gerak cepat yang mengagumkan, Pemerintah China bisa mendirikan dua rumah sakit besar dalam dua minggu yang dipakai khusus menangani pasien Covid. 

Hasilnya jelas berbeda. China bisa menuntaskan penyakit itu dalam waktu setahun, dan Amerika masih tergagap-gagap untuk menuntaskannya sampai sekarang.

Dunia sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi ‘’the new normal’’ pasca-Covid. 

Namun, normal baru itu tidak pernah datang karena yang terjadi kemudian adalah ‘’the new normal’’ yang lain, yaitu perang Rusia vs Ukraina.

Dunia yang seharusnya bersiap-siap untuk menata kembali ekonomi yang porak-poranda, sekarang harus menghadapi kesulitan baru akibat perang.

Konflik ini dipicu oleh keinginan Amerika yang memaksakan kehendak untuk menjadi sumbu dunia. 

Amerika dua kali menjadi pemenang perang dan dua kali ingin menjadikan dunia sebagai hasil pampasan perang. 

Pada Perang Dunia Kedua, Amerika menjadikan blok Eropa Barat sebagai pampasan perang. 

Pada 1991 setelah Uni Soviet bubar, Amerika ingin menjadikan seluruh dunia sebagai pampasan perang.

Pascaserangan Covid-19, Amerika seharusnya sadar bahwa mereka menjadi pecundang yang kalah perang. 

Karena itu, gaya koboi yang memaksakan uniteralisme sudah tidak bisa lagi diterapkan. 

Amerika tidak bisa memaksakan diri menjadi penguasa dunia yang unilateral. 

Amerika harus berbagi dengan melakukan kerja sama dengan semua warga dunia berdasarkan prinsip kesetaraan dan multilateralisme.

Unilaterisme Amerika itulah yang sekarang dilawan oleh Vladimir Putin dengan menyerang Ukraina. 

Rusia ingin agar Amerika dan sekutu NATO-nya menghormati Rusia sebagai negara berdaulat yang bebas dari ancaman intimidasi. 

Memaksakan Ukraina masuk menjadi anggota NATO sama saja dengan menodongkan peluru ke kepala bagian belakang Rusia.

Semangat Konferensi AA harus dihidupkan kembali untuk mengatasi krisis ini. 

Indonesia mempunyai momentum yang tepat untuk menunjukkan leadership global. 

Sebagai pemegang presidensi G-20 Indonesia bisa menggalang poros ketiga, poros non-blok untuk mendesak Amerika supaya menanggalkan gaya koboi.

Bung Karno punya kapasitas untuk melakukan hal itu. Entah siapa yang mewarisi kapasitas itu sekarang. Jangan-jangan malah Vladimir Putin yang layak disebut sebagai ‘’The New Soekarno’’. (*)


Redaktur : M. Kusdharmadi
Reporter : Cak Abror

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler