Semoga Corina Segera Bertemu Pasangan dan Berkembang Biak

Minggu, 20 Desember 2020 – 12:59 WIB
Harimau sumatera bernama Corina berada di kandang habituasi dalam proses pelepasliaran di kawasan Restorasi Ekosistem Riau (RER), Provinsi Riau, Sabtu (19/12/2020).(ANTARA/FB ANGGORO)

jpnn.com, KAMPAR - Seekor harimau Sumatera bernama Corina dilepasliarkan ke hutan alam Semenanjung Kampar, Provinsi Riau pada Minggu (20/12).

Corina sebelumnya menjadi korban jerat yang telah selesai menjalani masa rehabilitasi yang dilakukan oleh tim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

BACA JUGA: Perjuangan Menyelamatkan Corina di Tengah Pandemi Covid-19

"Saya berharap Corina bisa segera ketemu pasangannyanya, beranak, dan berkembang biak dengan nyaman," kata Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) KLHK Wiratno.

Menurut Wiratno, harimau Corina sudah terlihat sehat, agresif, dan menunjukkan sifat liar sehingga dinyatakan layak dilepasliarkan ke hutan.

BACA JUGA: Utusan Kedubes Jerman Sambangi Markas FPI, Kemenlu Diminta Bertindak

Wiratno mengatakan bahwa keberhasilan pelepasliaran Corina merupakan buah dari kolaborasi kementerian dengan aktivis lingkungan, sektor swasta, dan akademisi.

Corina sebelumnya diterbangkan dari pusat rehabilitasi di Sumatera Barat ke Riau menggunakan helikopter. Proses pemindahan lintas provinsi itu berlangsung sekitar satu jam.

BACA JUGA: Tersiksa Gara-gara Mengikuti Gaya Indehoi ala Film Dewasa

Wiratno meminta seluruh elemen masyarakat mendukung upaya konservasi harimau sumatera dan satwa dilindungi lainnya.

Semenanjung Kampar dipilih sebagai tempat pelepasliaran Corina karena memiliki cukup sumber pakan, tutupan vegetasi, dan populasi harimau liar sehingga dinilai cocok untuk habitat satwa dilindungi itu.

Prof Satyawan dari Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) yang terlibat dalam evaluasi habitat untuk pelepasliaran Corina, mengatakan bahwa satu individu harimau butuh wilayah jelajah hingga 10.000 hektare.

"Karena itu, kita evaluasi area yang jauh lebih luas dari itu. Paling tidak ada sekitar 700 ribu hektare yang kita telah evaluasi untuk pelepasliaran Corina," jelasnya.

Sebelumnya, tim penyelamat dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau mengevakuasi satu harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) dari area konsesi hutan tanaman industri di Kabupaten Pelalawan pada 29 Maret 2020, saat virus Corona mulai merajalela.

Harimau betina berusia tiga tahun yang satu kakinya terluka parah karena kena jerat baja itu kemudian dinamai Corina.

Kepala BBKSDA Riau Suharyono mengatakan saat dievakuasi kondisi Corina memprihatinkan.

Tim penyelamat saat itu memutuskan membawa satwa dilindungi itu ke Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dharmasraya (PR-HSD ARSARI) milik Yayasan Arsari Djojohadikusumo di Provinsi Sumbar.

Corina menjalani perawatan dan rehabilitasi selama sekitar delapan bulan di fasilitas tersebut. Harimau itu dilepasliarkan setelah dinilai mampu bertahan hidup di alam liar.

"Pelepasliaran Corina ini kita harapkan bisa memberikan pembelajaran, bahwa konsep konservasi satwa berupa penyelamatan, rehabilitasi, dan pelepasliaran jadi sebuah kesatuan yang tidak terpisahkan," kata Suharyono.(antara/jpnn)


Redaktur & Reporter : M. Fathra Nazrul Islam

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler