Semoga Komando Panglima Santri Jelas di 2024 dan PKB Menang

Selasa, 21 September 2021 – 16:58 WIB
Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA) Cirebon KH. Imam Jazuli saat menerima kunjungan silaturahmi Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandardi Pondok Pesantren BIMA pada Jumat (17/9/2021). Foto: Humas PKB

jpnn.com, CIREBON - Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA) Cirebon KH. Imam Jazuli menjuluki Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar, dengan julukan Panglima Santri.

Julukan tersebut disematkan kepada Muhaimin Iskandar atau yang akrab disapa Gus Muhaimin saat melakukan kunjungan silaturahmi bersama fungsionaris PKB ke Pesantren BIMA pada Jumat (17/9/2021) lalu.

BACA JUGA: Gus Muhaimin: Saya Ingin Mendengar Fakta Tentang Persoalan PMI

“Kami dari BIMA mengucapkan selamat datang kepada panglima santri. Kami sangat bersyukur khususnya saya sendiri. Saya ini masih jadi santri dan baru kali ini saya bertemu panglima sendiri. Mudah-mudahan komando panglima jelas di 2024 dan PKB menang,” kata Kiai Imam Jazuli saat menyampaikan sambutan di depan ribuan santri, fungsionaris DPP, DPW PKB Jawa Barat dan DPC PKB Cirebon.

Kiai Imam Jazuli kemudian mengutip sebuah kaedah ushul fiqh yang berbunyi “al Ibroh khusussabab la bi biumumillafadz,” yang artinya sebuah teks tidak bisa hanya dilihat dari lafadnya saja tetapi dari sebab dan konteksnya.

BACA JUGA: Kiai Hasbi Beber Keberhasilan Gus Muhaimin di Balik Terbitnya Perpres 82/2021

Dia mencontohkan di zaman Khalifah Umar bin Khattab yang tidak melakukan potong tangan kepada seorang perempuan yang mencuri padahal sudah jelas dalam ayat Al-Qur’an hukuman bagi pencuri adalah potong tangan.

“Namun, ketika ada perempuan yang mencuri Umar bin Khattab tidak memotong tangannya, dia bilang ini kasusnya beda. Beda kasusnya, beda kondisinya, dia mencuri karena mencari makan,” kata Kiai Imam Jazuli menjelaskan.

Dalam hal ini, Kiai Imam Jazuli menyoroti Khittah Nahdlatul Ulama (NU) yang saat ini masih dipegang teguh bahwasanya NU tidak terlibat dalam politik praktis.

“Khitah itu tepat pada masanya. Kalau kita katakan NU kembali ke Khitah tidak terlibat secara aktif dalam politik, ya, dulu NU tidak punya partai. Wajar kalau NU hanya bicara politik kebangsaan tetapi saat ini NU punya partai dan jelas partainya adalah PKB,” kata Kiai Imam Jazuli.

Menurut Kiai Imam Jazuli, kontekstualisasi khitah ini harus dimulai dalam Muktamar NU 2021.

“NU adalah PKB dan PKB adalah NU. Karena kalau NU-PKB bersatu maka ini akan menjadi kekuatan politik yang unstoppable tetapi tantangannya tidak ringan karena akan banyak pihak yang menghalangi. Inilah tugas yang tidak ringan buat Panglima Santri,” kata Kiai Imam.

Kiai Imam Jazuli mengungkapkan perjuangan PKB lewat para legislatornya sangat luar biasa terutama dalam hal memunculkan Hari Santri Nasional, Undang-Udang Pesantren dan Dana Abadi Pesantren.

Kiai Imam Jazuli lalu menyebut alasan selalu menyebut Muhaimin Iskandar dengan Cak Imin.

“Saya panggilnya Cak Imin karena belakangan ini ada Gus Ami atau Gus Muhaimin. Saya dapatkan secara pribadi nama keberuntungannya Cak Imin. Jadi, saya 12 kali menulis belum pernah menyebut Gus Ami, saya selalu sebut Cak Imin karena berkali-kali yang saya temukan Cak Imin, mungkin beda dengan yang lain,” katanya.

Menanggapi ceramah Kiai Imam Jazuli, Gus Muhaimin mengaku sangat bahagia bisa bersilaturahmi ke Pesantren Bina Insan Mulia.

Dia menyebut sudah mengenal Kiai Imam Jazuli tetapi tak pernah bertemu dan baru bertemu di acara tersebut.

“Saya sudah lama menikmati tulisan-tulisan Kiai Imam. Saya sudah lama menjadi penggemar atau fan Kiai Imam Jazuli tetapi baru kali ini bisa bertemu,” ujar Gus Muhaimin.

“Jadi, anak-anakku semua, yang paling penting itu tulisan. Jadi, kalau bisa menulis belum ketemu orangnya sudah bisa cinta dengan orangnya. Jadi tulisan itu dahsyat, saya berharap semua santri di sini bisa menulis seperti Kiai Imam Jazuli.”

Perlu diketahui, Kiai Imam Jazuli selama ini dikenal sebagai pengasih pesantren dengan visi ke depan mengantarkan para alumni pesantren ke Perguruan Tinggi luar negeri.

Kiai Imam Jazuli juga dikenal dengan tulisan-tulisannya dengan topik beragama mulai dari soal keagamaan, politik, budaya, bahkan masalah kebangsaan.

Kiai Imam Jazuli dikenal dengan gaya khas tulisannya yang ilmiah, berwawasan luas, referensial, tajam, bukan hanya berisi kritikan tetapi terkadang juga pujian dan tak jarang berisi solusi dan ide-ide menyegarkan.

“Tidak ada yang tahu disudut Cirebon ini di dekat gunung Ciremai ada sebuah pesantren kalau tidak ada tulisan Kiai Imam Jazuli yang mewarnai dunia maya Indonesia bahkan mungkin di dunia. Saya juga sudah lama melihat instagram dan video Bina Insan Mulia ini,” kata Gus Muhaimin.

Cak Imin menjelaskan pendidikan santri saat ini makin membanggakan dibanding 20-30 tahun lalu. Pesantren, Nahdlatul Ulama, Ahlussunnah wal jemaah 30-40 tahun lalu mungkin tidak seperti sekerang ini yang mulai dilihat diakui dan dinilai sangat baik.

“Dulu, bukan hanya tidak diakui tetapi juga dipinggirkan dan juga dilupakan bahkan tidak dicatat dalam sejarah padahal andil dan kontribusi peran Kiai, Ulama, dan pesantren berjuang membentuk karakter akhlak mental dan kualitas jauh sebelum kemerdekaan,” ujar Gus Muhaimin.

Kemudian, kata dia, lahir generasi muslimin dan muslimat Indonesia yang luar biasa berkembang.

“Akhirnya menjadi umat terbesar jumlahnya kemudian menjadi kekuatan besar untuk memerdekakan bangsa kita,” katanya.

Di akhir sambutannya, Gus Muhaimin menyampaikan tiga pesan kepada seluruh santri Bina Insan Mulia untuk meraih kesuksesan di masa yang akan datang.

Gus Muhaimin menyampaikan pesan penting kepada para santri BIMA. Dia menyebut ada tiga kunci yang harus sungguh-sungguh mendapat perhatian.

Pertama, seriuslah mendalami ilmu yang ada di sini. Kalau ini sudah sukses maka jalan akan lapang dan mudah ke depan.

Kedua, disiplin dan taat kepada seluruh kewajiban-kewajiban yang ada di Bina Insan Mulia ini. Ketiga, olah batin, kuatkan zikir, kuatkan ibadah, kuatkan hablumminallah dengan sungguh-sungguh.

“Insyaallah dengan tiga modal ini kalian memimpin negara ini dengan sebaik-baiknya dan semaju-majunya,” pungkas Gus Muhaimin.(fri/jpnn)


Redaktur & Reporter : Friederich

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler