Berita Duka, Ipda Artawan Meninggal Dunia Setelah Sakit Saat Mengamankan Pemilu

Sabtu, 27 April 2019 – 07:58 WIB
Suasana upacara pengabenan almarhum Ipda Ketut Artawan, anggota Polres Jembrana di Seririt, kemarin. Foto: Eka Prasetya/Radar Bali/JPNN.com

jpnn.com, JEMBRANA - Seorang personel polisi Polres Jembrana, Ipda I Ketut Artawan, 47, mengalami sakit saat mengamankan pemilu di Desa Gumbrih, Kecamatan Pekutatan.

Sempat dirawat selama beberapa hari di RSUD Buleleng, Astawa kemudian menghembuskan nafas terakhirnya. Mendiang pun diupacarai di Setra Desa Pakraman Lokapaksa, Jumat (26/4) kemarin.

BACA JUGA: Piala Indonesia 2018: Jadwal Laga Persib vs Borneo FC Suram

Sebelum diperabukan, personel dari Polres Jembrana dan Polres Buleleng kemarin melakukan upacara pemakaman.

Jenazah mendiang diletakkan dalam sebuah peti yang diselimuti bendera merah putih. Selain itu dilakukan tembakan salvo sebagai bentuk penghormatan pada korban yang wafat saat bertugas.

BACA JUGA: Hari Ini Coblosan Ulang di 2 TPS, Pemilih Diberi Sarapan

Mendiang I Ketut Artawan disebut sempat ikut mengamankan jalannya Pemilu 2019 di Desa Gumbrih, Kecamatan Pekutatan.

Saat itu kesehatannya sudah mulai menurun. Mendiang sempat dirawat di Negara, sebelum dilarikan ke RSUD Buleleng.

BACA JUGA: Masyarakat Diajak untuk Merajut Kembali Tali Persatuan

Salah satu keluarga mendiang, Made Wijanarka mengatakan, mendiang yang kesehariannya bertugas sebagai Panit I Unit Lantas Polsek Pekutatan itu memang memiliki riwayat sakit hepatitis.

Sehari sebelum pencoblosan, mendiang sudah mengeluh tidak enak badan. Diduga saat itu penyakit hepatitisnya kumat.

Saat itu almarhum berencana mengajukan izin pada pimpinannya. Namun saat itu sudah menjelang hari pemilihan, maka permohonan izin itu pun ditangguhkan.

Almarhum pun sempat kolaps saat melakukan pengamanan di Desa Gumbrih. Lantaran kondisinya yang makin menurun, ia akhirnya memilih pulang ke rumahnya di Kelurahan Pendem, Jembrana.

Begitu sampai di rumah, ia meminta pada istrinya Anik Sustiani, agar diantar berobat ke dokter. “Waktu dibawa ke dokter, dicek tanda vitalnya memang normal. Tapi masih sering berontak. Malah sampai kejang-kejang,” kata Wijanarka seperti dilansir Radar Bali (Jawa Pos Group).

Akhirnya atas saran keluarga, pada 18 April, mendiang dilarikan ke RSUD Buleleng. Saat dilakukan pengecekan laboratorium, ternyata kadar virus hepatitis dalam tubuhnya sudah cukup tinggi.

“Waktu itu langsung dirawat di ICU. Hatinya sudah tidak berfungsi lagi. Matanya sudah kuning. Urinenya juga seperti teh yang sangat hitam. Sudah susah kenal orang juga,” tutur Wijanarka.

Pihak keluarga saat itu sempat berencana merujuk mendiang ke RS Sanglah Denpasar. Namun karena butuh perawatan yang intensif, dokter belum mengizinkan pemindahan pasien.

Hingga pada Minggu (21/4) sekitar pukul 15.30, mendiang menghembuskan nafas terakhirnya.

“Saya terakhir ketemu adik saya itu tanggal 6 April. Saya sempat mandi sama dia di sungai, makan bersama-sama. Sampai saya diantar cari bus ke Gilimanuk.

Memang saat itu wajahnya sudah lesu. Mengeluh sakit perut, tidak doyan makan, dan mual-mual. Saat saya sampai di Jawa juga dia sempat telpon.

Katanya matanya sudah kuning. Saya sarankan biar dia minta rujukan ke dokter dan segera berobat ke Sanglah,” imbuh Wijanarka lagi.(JPG/rb/eps/mus/JPR)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Sentra Gakkumdu: Jangan Sampai Terjadi Permainan Jual Beli Suara


Redaktur & Reporter : Friederich

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler