Semua Karena Ulah Pembantu Cantik Itu

Rabu, 28 Desember 2016 – 14:06 WIB
Semua Karena Ulah Pembantu Cantik Itu. Ilustrasi Fajar/Radar Surabaya/JPNN.com

jpnn.com - Ibarat dikasih hati minta rempela ternyata bukan pepatah omong kosong.

Hal itu dirasakan keluarga besar Mira, 28.

BACA JUGA: Obsesi Biduanita Sampai Gelap Mata

Ia tak menyangka sang pembantu sebut Sephia, 25, yang ia anggap saudara menjadi penyebab ibunya gila.

Umi Hany Akasah - Radar Surabaya

BACA JUGA: Kesabaran Suami yang Kini Sampai Batasnya

Mahasiswa pasca sarjana teknik elektro Universitas Berlin, Jerman, Mira hanya bisa menyesali kebaikan keluarganya kepada Sephia.

Sakit hati, dendam marah, kesal dan kasihan hanya menyelimuti hari-harinya.

BACA JUGA: Kemuliaan Seorang Ibu, Lindungi Anak Autis dari Suami

Dalam proses gugatan cerai sang ibu sebut Karin, 48, kepada ayahnya, Donwori, 51, Mira masih berjuang supaya ibunya sadar.

Ia sengaja pulang ke Indonesia bulan September lalu untuk menyelesaikan persoalan keluarga besarnya.

”Ibu sadar. Ini aku, Alafi, Ria dan Iman,” kata Mira menangis. Seakan tak mengenal putri sulungnya,

Karin hanya memandang dengan tatapan kosong. Ia berkali-kali melihat sinis kepada Mira.

Diam tak berkata kemudian menjerit-jerit sampai mencekik Mira.

Saat proses sidang gugatan pertama berlangsung di Pengadilan Agama (PA), Klas 1A Surabaya, Selasa (27/12), majelis hakim menolak gugatan itu.

Kondisi Karin yang masih dalam perawatan dokter jiwa membuatnya tak bisa mengajukan gugatan semaunya.

Ayah Mira, Donwori juga tak menyetujui gugatan cerai karena kasihan kepada keempat anaknya.

Mira menceritakan, gugatan cerai itu dilayangkan ibunya karena tidak terima Sephia dan suaminya diusir dari rumahnya.

Karin merasa keluarganya kejam terhadap Sephia yang sudah menjadi asisten rumah tangga selama 13 tahun lamanya.

”Ibu itu tidak lihat kenyataan. Berkali-kali melihat Sephia nyolong di supermarket. Utang ke bank atas nama ayah. Sekarang sama suaminya mau nguasain rumah. Begitu kok sama ibu dibelain mati-matian terus,” kata alumnus ITS tahun 2010 lalu.

Sebenarnya, akhir tahun ini ia dituntut untuk menyelesaikan studinya.

Karena biaya hidup untuk studi di luar negeri sudah habis, dosen perguruan tinggi di Batam itu pun tetap nekat pulang ke Manukan, Surabaya untuk menyelesaikan urusan keluarganya yang harus segera diselasaikan.

”Adik sering sambat. Ayah juga sambat tapi kalau protes ibu selalu ngamuk-ngamuk dan minta cerai. Ya sudahlah semuanya manut omongan si Sephia,” jelasnya.

Sejak kecil, ibu satu anak itu sebenarnya sudah merasakan gelagat kejahatan sang pembantu. Ia sering membolak-balikkan fakta.

Pinjam uang ke tetangga atas nama orang tuanya. Akibatnya, kedua orang tuanya yang merupakan guru dikucilkan warga.

”Saya pulang, lha kok kamar saya dijadikan kamar tidur Sephia sama suaminya. Itu sudah tidak beres. Kebetulan teman kuliah saya banyak, tak minta bantuin cari tahu tentang tuh anak. Ternyata klepto dan hampir psikopat,” jelasnya.

Di situlah, Mira nekat mengusir Sephia. Pertengkaran ibu vs suami serta ketiga anaknya jadi besar sampai akhirnya Karin mengajukan gugatan cerai diantar Sephia di PA, November lalu.

”Adik kedua saya masih kuliah juga di Belanda,” kata wanita berambut panjang tersebut.

(*/no/JPNN)


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler