Sentra Paprika Pasuruan Tembus Pasar E-commerce

Sabtu, 09 April 2022 – 16:07 WIB
Ghosiyatul Wakhidah (36) telah mengembangkan budi daya paprika aneka varian (merah, hijau, kuning, ungu) di tiga lokasi lahan dengan total luasan lahan 3.900 m2 dengan jumlah 12.000 tanaman. Foto: dokumentasi pribadi

jpnn.com, PASURUAN - Paprika memiliki rasa manis dan sedikit pedas. Selain digunakan sebagai pelengkap masakan, buah dalam kelompok terong-terongan ini ternyata juga memiliki banyak manfaat untuk kesehatan.

Salah satu daerah penghasil paprika terbesar adalah Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, tepatnya berada di Kecamatan Tutur.

BACA JUGA: 5 Manfaat Tak Terduga Paprika Merah untuk Kesehatan, Nomor 1 Bikin Kaget

Lebih dari 300.000 tanaman Paprika tumbuh dan berkembang di beberapa desa di Kecamatan Tutur yang secara geografis dengan ketinggian 900 mdpl di lereng Gunung Bromo tersebut sangat memungkinkan digunakan sebagai sentra budi daya.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan setiap daerah harus bisa memaksimalkan potensi komoditas yang dimiliki.

BACA JUGA: Kabar Baik Buat Guru Honorer dari Gubernur Zainal Arifin Paliwang

"Setiap daerah harus bisa memaksimalkan komoditas unggulan yang dimiliki. Bila perlu dijadikan komoditas ekspor," ungkap Syahrul.

Tak hanya itu, Syahrul juga mengatakan petani harus mendapatkan pengetahuan agar komoditas dapat dikemas lebih menarik.

"Yang harus kita lakukan adalah meningkatkan nilai dari produk pertanian. Artinya kemasan pun menjadi sangat penting untuk menaikkan nilai jual," katanya.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan Dedi Nursyamsi mengatakan potensi untuk mengembangkan paprika sangat menjanjikan.

"Namun, pengembangannya harus mengikuti sistem budidaya yang di anjurkan oleh penyuluh. Oleh karena itu, kita minta penyuluh mendampingi agar petani tahu bagaimana menanam budidaya paprika yang baik. Selain itu, pengemasan pasca panen juga harus baik," ujarnya.

Dedi berharap budi daya paprika ini bisa lebih maju lagi dan bisa menyuplai pasar.

"Tentu kita juga berharap pendapatan petani yang mengelola komoditas ini juga meningkat pendapatannya. Apalagi pangsa pasarnya masih cukup besar, sekitar 60 persen. Harganya juga menarik dan tidak terlalu fluktuatif. Intinya, usaha budi daya paprika ini sangat menguntungkan," katanya.

Dedi mengatakan petani saat ini dituntut untuk menguasai on farm dan off farm.

"Petani tidak bisa lagi hanya tanam, panen, jual. Peningkatan produksi dan mutu paprika diperlukan perlakuan khusus dengan manajemen dan budi daya prapanen dan pascapanen di lapangan mulai dari tahap persemaian, penanaman, pemeliharaan tanaman, panen dan pasca panen hingga pemasaran”, ujar Dedi.

Salah satu petani paprika dari Kecamatan Tutur Ghosiyatul Wakhidah (36) mampu bangkit dari sulitnya ekonomi.

Ghosiyatul telah mengembangkan budi daya paprika aneka varian (merah, hijau, kuning, ungu) di tiga lokasi lahan dengan total luasan lahan 3.900 m2 dengan jumlah 12.000 tanaman.

Untuk omzet, budi daya paprika bertajuk Reagan Farm ini mencapai kisaran Rp 50.000.000 per bulan dengan jaringan pemasaran e-commerceTani Hub.

“Kami mensuplai Tani Hub secara kontinyu. Untuk itu, kami sangat memperhatikan kualitas dan kuantitas mulai dari tanan, perawatan, panen hingga pascapanen. Untuk hasil panen yang tidak sesuai dengan grade Tani Hub kami jual di pasar lokal. Pertengahan tahun ini kami juga akan ada kontrak dengan Pizza Hut wilayah Malang,” kata Ghosiyatul yang juga guru di salah satu SMP swasta di Pasuruan.

Ghosiyatul pun mengapresiasi hadirnya program YESS.

“Alhamdulillah Kabupaten Pasuruan menjadi salah satu lokasi program YESS, dan saya juga menjadi salah satu penerima manfaatnya. Bahkan di tahun 2021 saya mengajukan proposal hibah kompetitif (HK) dan mendapatkan bantuan sebesar Rp 45.825.000. Saya manfaatkan untuk membeli benih, polybag, slab, arang sekam, pupuk ABMIX dan pestisida,” katanya.

Makin berkembang usahanya tak membuat Ghosiyatul menjadi sombong, dia pun tetap menjadi pribadi sederhana yang humble.

Kesuksesannya pun dia tularkan kepada warga sekitar serta menjadikan Reagan Farm sebagai lokasi praktek kerja lapang (PKL) mahasiswa Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Malang dan beberapa universitas terdekat lainnya.

“Selain membantu usaha kami, adik-adik mahasiswa juga dapat menerapkan ilmu yang mereka dapatkan di kampus dengan praktek langsung di lahan kami. Saya sangat yakin keberhasilan saya tidak lepas dari peran semua pihak. Dan saya tidak akan bisa berdiri sendiri, adanya dukungan khususnya dari suami, keluarga, kerabat, dinas pertanian, Balai Penyuluh Pertanian serta Polbangtan akan membuat usaha saya menjadi kuat dan jejaring pasar saya pun akan terbuka,” ujarnya optimistis. (rhs/jpnn)


Redaktur & Reporter : Rah Mahatma Sakti

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler