Seperti Apa Alat Cantrang itu Digunakan?

Jumat, 19 Januari 2018 – 07:40 WIB
Nelayan Kluwut membawa alat tangkap cantrang untuk diperbaiki. Foto: EKO FIDIYANTO/RADAR BREBES/JPNN.com

jpnn.com - Para nelayan yang selama ini menggunakan cantrang akhirnya bisa bernapas lega usai beraudiensi dengan Presiden Joko Widodo dan Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Susi Pujiastuti di Jakarta, Rabu (17/1).

Para nelayan sudah diperbolehkan menggunakan alat cantrang untuk melaut.
---
ALAT cantrang yang digunakan oleh nelayan pernah dilarang dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri (Permen) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Nomor 2 Tahun 2015.

BACA JUGA: Nelayan Cantrang Masih Ragu Turun Melaut

Alasannya, alat tersebut dianggap merusak dan tidak ramah lingkungan. Namun, peraturan tersebut terus ditentang oleh para nelayan.

”Karena semenjak ada peraturan itu, para nelayan menolak. Nelayan melakukan demo dan akhirnya nelayan diperbolehkan lagi melaut,” ungkap salah seorang nelayan asal Desa Kluwut, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes, Jateng, Budiyanto, Kamis (18/1).

BACA JUGA: Aktivis Muda NU Mengapresiasi Jokowi Cabut Larangan Cantrang

Budiyanto menjelaskan, cantrang merupakan alat tangkap yang digunakan untuk menangkap ikan demersal (jenis ikan dasar) yang dilengkapi dua tali penarik yang cukup panjang dan dikaitkan pada ujung sayap jaring.

Bagian utama dari alat tangkap ini terdiri dari kantong, badan, sayap atau kaki, mulut jaring, tali penarik (warp), pelampung dam pemberat.

BACA JUGA: Ribuan Nelayan ke Jakarta Bawa Sejuta Surat untuk Jokowi

Hal senada dikatakan Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Brebes Rudi Hartono.

Menurut dia, dilihat dari bentuknya, alat tangkap cantrang berbeda dengan alat tangkap jenis trawl. Sebab, penggunaan cantrang tidak sampai ke dasar laut.

“Bagian bibir atas dan bibir bawah pada cantrang berukuran sama panjang. Panjang jaring mulai dari ujung belakang kantong sampai pada ujung kaki sekitar 8-12 meter. Penggunaannya itu hanya dilingkarkan saja, seperti kita menyerok ikan,” jelasnya.

Terkait dengan penangkapan hingga ke dasar laut atau tidak, kata dia, bergantung pada hasil tangkapannya.

Sementara penggunaan pelampung dan pemberat itu hanya untuk membuka mulut jaring agar ikan bisa masuk. Setelah itu, baru ditarik dengan garden atau nelayan Jawa biasa menyebutnya kelinden.

“Garden memungkinkan penarikan jaring lebih cepat, karena menggunakan mesin. Penggunaan garden tersebut dimaksudkan agar pekerjaan anak buah kapal (ABK) lebih ringan, di samping lebih banyak ikan yang terjaring sebagai hasil tangkapan dapat lebih ditingkatkan,” katanya.

Dia mnejelaskan, garden digunakan dengan didorong mesin kapal dan ukuran jaring yang lebih besar untuk dioperasikan di perairan yang lebih luas dan lebih dalam. Operasi penangkapan dilakukan pada pagi hari setelah keadaan terang.

Setelah ditentukan areal penangkapan ikan, nelayan mulai mempersiapkan operasi penangkapan dengan meneliti bagian-bagian alat tangkap. Antara lain mengikat tali selambar dengan sayap jaring.

Sebelum dilakukan penebaran jarring, kata dia, terlebih dahulu diperhatikan arah mata angin dan arus. Kedua faktor ini perlu diperhatikan karena arah angin akan mempengaruhi pergerakan kapal.

Sedang arus akan mempengaruhi pergerakan ikan dan alat tangkap. Ikan biasanya akan bergerak melawan arah arus, sehingga mulut jaring harus menentang pergerakan dari ikan.

Untuk mendapatkan luas area sebesar mungkin, maka dalam melakukan penebaran jaring membentuk lingkaran. Kemudian jaring ditebar dari lambung kapal.

Dimulai dengan penurunan pelampung tanda yang berfungsi untuk memudahkan pengambilan tali selambar pada saat akan dilakukan pengangkatan.

“Setelah pelampung tanda diturunkan, kemudian tali salambar kanan diturunkan. Salah satu ujung tali salambar kiri yang tidak terikat dengan sayap dililitkan pada gardan sebelah kiri. Kapal kemudian bergerak melingkar menuju pelampung tanda,” jelasnya.

Jaring dibiarkan selama 10 menit untuk memberi kesempatan tali salambar mencapai dasar perairan.

Kapal tetap berjalan dengan kecepatan lambat. Hal ini dilakukan agar pada saat penarikan jaring, kapal tidak bergerak mundur.

Karena berat jaring. Penarikan alat tangkap dibantu dengan alat garden, sehingga akan lebih menghemat tenaga.

Setelah bergerak perlahan selama kurang lebih kurang lebih satu jam, kata dia, kantong yang berisi hasil tangkapan dinaikkan ke atas kapal. Kemudian jaring kembali ditata seperti keadaan semula.

“Dalam satu hari biasanya nelayan melakukan 7 sampai 8 kali penangkapan. Penangkapan dilakukan tidak di satu tempat, tapi dilakukan dengan berbeda tempat pada penangkapan sebelumnya. Lamanya penangkapan kurang dari satu jam. Jadi tidak sampai ke dasar laut. Tapi persepsi orang yang tidak melaut menganggap bahwa cantrang itu sampai ke dasar laut,” tandasnya. (fid/fat)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Cari Solusi Pelarangan Cantrang, Jokowi Temui Nelayan


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler