Seperti Tiongkok di Laut China Selatan, Turki Adalah Biang Kerok Perairan Mediterania

Selasa, 11 Agustus 2020 – 05:42 WIB
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Foto: AFP

jpnn.com, ANKARA - Seperti Tiongkok di Laut China Selatan, Turki sering sekali membuat kesal tetangga-tetangganya dengan bertindak seenaknya di perairan Mediterania.

Terbaru, Turki mengumumkan rencana survei seismik terkait eksplorasi sumber daya alam di Mediterania hingga dua pekan ke depan. Langkah itu dipastikan bakal membuat marah Yunani.

BACA JUGA: Selamat Tinggal Kebebasan, Parlemen Turki Sahkan UU Media Sosial Pesanan Erdogan

Kedua negara sekutu NATO itu berada dalam situasi canggung setelah ada klaim yang tumpang tindih atas sumber daya hidrokarbon di wilayah sengketa Mediterania bagian timur tersebut.

Laporan serupa yang dikirim angkatan laut Turki pada Juli juga memicu perselisihan antara kedua negara. Konflik itu akhirnya bisa diredam setelah ada intervensi dari Kanselir Jerman Angela Merkel, yang membuat Turki sepakat untuk menunda operasinya.

BACA JUGA: Erdogan Bikin Amerika Murka, Turki Terancam Kena Sanksi

Namun, Presiden Turki Tayyip Erdogan menyebut pada Jumat (7/8) bahwa pihaknya kembali melanjutkan operasi tersebut karena Yunani tidak menepati janjinya dalam urusan itu.

Dalam laporan navigasi AL Turki, penjelajahan kapal akan melingkupi area di perairan selatan dekat Kota Antalya, Turki, dan wilayah barat Siprus, serta akan berlangsung pada 10 hingga 23 Agustus.

BACA JUGA: Turki Ubah Hagia Sophia Jadi Masjid, Bagaimana Nasib Mosaik Kristiani di Sana?

Menteri Energi Turki Fatih Donmez menulis di Twitter bahwa kapal Oruc Reis telah mencapai lokasi untuk menjalankan operasi, setelah meninggalkan area tersebut, tempat kapal menurunkan jangkar di laut Antalya.

Survei seismik adalah bagian dari persiapan Turki untuk melakukan eksplorasi hidrokarbon yang diumumkan oleh Presiden Erdogan setelah Mesir dan Yunani menandatangani persetujuan terkait zona ekonomi eksklusif kedua negara di Mediterania timur, Kamis (6/8).

Beberapa diplomat di Yunani menyebut bahwa persetujuan itu membatalkan kesepakatan yang dicapai akhir tahun lalu antara Turki dan Pemerintah Libya, namun Erdogan mengatakan bahwa Turki akan mempertahankan kesepakatannya dengan Libya tersebut. (ant/dil/jpnn)


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler