Serangan Siber Ancam Kepentingan Nasional

Senin, 15 April 2019 – 12:38 WIB
Serangan Siber. ILUSTRASI. Foto: Pixabay.com

jpnn.com, JAKARTA - Tren serangan siber yang terjadi di berbagai belahan dunia saat ini berpotensi mengancam kepentingan nasional.

Untuk itu, diperlukan kerja sama semua pihak untuk menangkal berbagai serangan sekaligus menekan risiko yang ditimbulkan.

BACA JUGA: Ngeri! Awal Tahun, BSSN Sudah Temukan 220 Juta Lebih Serangan Siber

Direktur Ekskutif Information and Communication Technology (ICT) Institute, Heru Sutadi mengatakan tidak ada sebuah sistem yang sepenuhnya aman dari gangguan keamanan siber.

Begitu pula dengan sistem digital di Indonesia yang tak akan luput dari serangan siber.

BACA JUGA: Tiga Jenis Serangan Siber Ini Diprediksi Marak Jelang Pemilu

“Pihak yang tidak bertanggungjawab akan memanfaatkan celah keamanan sekecil apa pun. Perkembangan kejahatan siber meningkat baik secara kuantitas dan kualitas,” kata Heru di Jakarta, Jumat (12/4).

Heru menjelaskan berbagai kejadian di dunia sudah menunjukkan fakta ini. Sebut saja kebocoran 87 juta data Facebook yang terjadi pada 2018.

BACA JUGA: Badan Siber dan Sandi Negara Bakal Gelar Pertemuan Keamanan

Belakangan sebuah perusahaan keamanan siber UpGuard bahkan menemukan jumlah data yang bocor lebih besar lagi.

Padahal, Facebook yang menjadi salah satu jejaring sosial terbesar di dunia memiliki sistem keamanan yang sangat ketat.

Begitu pula dengan Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA). Sistem badan ini juga memiliki celah keamanan yang mampu dimanfaatkan oleh para peretas.

Menurut Heru, Indonesia juga pernah mendapatkan serangan malware dari seluruh dunia. “Itu adalah beberapa bukti tidak ada sistem yang 100 persen aman,” ungkapnya.

Serangan siber saat ini banyak menyasar sektor keuangan, perdagangan, sumberdaya manusia, hingga teknologi finansial.

Sektor-sektor ini memiliki dampak psikologis besar bagi masyarakat. Meski sebagian besar tidak membawa kerugian langsung secara finansial, namun situasi ini mampu memunculkan kekhawatiran masyarakat.

"Inilah kenapa gangguan keamanan siber kepada sektor-sektor itu menjadi kepentingan nasional yang patut dibela," tutur dia.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain penguatan kapasitas keamanan siber sebuah negara. Penguatan dilakukan untuk mengimbangi level pengembangan digital yang saat ini semakin cepat.

"Indonesia harus sadar mengenai bahaya kejahatan siber," tegas Heru.

Sementara, Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Jamalul Izza menambahkan jumlah pengguna internet di Tanah Air terus meningkat.

Data terakhir APJII menunjukkan, jumlah pengguna internet mencapai lebih dari 143 juta jiwa atau setara 54,68 persen dari jumlah penduduk Indonesia.

Peningkatan penetrasi internet di Indonesia memunculkan risiko berupa upaya pencurian data.

"Tinggal bagaimana antisipasinya agar tidak terjadi pencurian data. Harus dilihat juga pencurian data dapat dilakukan dari internal atau eksternal," kata Jamalul.

Menurut Jamalul, berbagai pemangku kepentingan mulai dari pemerintah, pelaku usaha dan masyarakat sebagai pengguna harus bergandeng tangan melawan berbagai serangan siber tersebut.

Para pemangku kepentingan dapat memberikan bantuan sesuai peran dan wewenang masing-masing.

Pelaku usaha harus mau berinvestasi untuk terus memperkuat sistem yang mampu menutup celah keamanan. Masyarakat juga disarankan tidak mudah memberikan informasi pribadi kepada pihak lain.

Pemberian data-data pribadi seperti nomor identitas, tanggal lahir dan kartu kredit sebaiknya dibatasi. Saat ini, Jamalul menilai aturan perlindungan data pribadi di Indonesia sudah cukup jelas.(chi/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Australia Kecam Serangan Siber Dari China


Redaktur & Reporter : Yessy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler