Sering Dibully, Siswi SMA Ini Bunuh Diri dengan Cara Tragis

Rabu, 02 Agustus 2017 – 04:55 WIB
Mayat. Ilustrasi Foto: dok.JPNN.com

jpnn.com, BANGKINANG - Elva Lestari, 16, nekat bunuh diri karena tidak tahan lagi jadi korban bully. Diduga siswi SMAN 1 Bangkinang Kota itu mengakhiri hidupnya dengan cara menceburkan dirinya ke dalam Sungai Kampar, hanyut dan tenggelam hingga tewas.

Elva sapaan akrab almarhum, hanyut pada Minggu (30/7) di Desa Kumantan, Kecamatan Bangkinang Kota. Dia baru ditemukan pada Senin (30/7) pukul 13.30 WIB sekitar 1 kilometer dari lokasi korban dinyatakan hanyut.

BACA JUGA: Gadis Remaja Nekat Bunuh Diri Lantaran Sering Dimarahi Orang Tuanya

Ternyata, yang mendorong korban untuk mengakhiri hidupnya ini karena tekanan mental yang dialaminya. Berdasarkan keterangan pihak keluarga, korban sering di-bully teman-teman sekolahnya di SMAN 1 Bangkinang.

"Sebelum almarhum meninggal dunia, dia sudah melaporkan ke pamannya kalau dia sering di-bully di sekolahnya," kata Juliardi, kakek korban di Bangkinang, Selasa (1/7).

BACA JUGA: Tugboat Pesanan Pertamina Tenggelam Saat Diluncurkan di Batam

Dari laporan korban kepada pamannya itu kata Juliardi, perlakuan bully itu sudah sering kali dilakukan.

Padahal korban baru menjalani sekolah selama tiga pekan. Di mana, Elva adalah murid kelas X di SMAN 1 Bangkinang.

BACA JUGA: Berenang di Kolam, Dua Siswa SMP Silimakuta Tewas Tenggelam

Elva yang merupakan anak pertama dari tiga bersaudara ini, ayahnya diisukan temannya mengalami gangguan jiwa. "Dia sering diejek miskin, jelek, ayahnya kelainan jiwa. Bahkan, pernah saat korban berjalan di sekolah, ditekel temannya," kata dia.

Anak dari pasangan Fanda dan Mimin ini kata Juliardi, diperlakukan seperti itu oleh temannya karena diduga temannya iri. Sebab korban ini adalah anak yang pintar. Dia sering disuruh oleh gurunya untuk menjawab pertanyaan di sekolah. "Dia sering lah disuruh tampil," jelasnya.

Juliardi sudah berupaya untuk melakukan konfirmasi kepada pihak sekolah. Dia menelpon salah seorang guru di sekolah itu. Namun, saat dia melakukan konfirmasi, guru bersangkutan sibuk. Sehingga maksud dan tujuannya itu tak jadi tersampaikan.

"Jadi kita telpon Jumat kemarin. Tapi beliau sedang sibuk ada kegiatan," jelasnya.

Kepala SMAN 1 Bangkinang, Drs Asnimar MPd juga membenarkan bahwa Elva Lestari adalah siswanya. Dia baru duduk bangku kelas X, yang sudah menjalani belajar selama dua pekan.

"Ya, anak ini di kelas X A. Wali kelasnya Buk Asdawati," kata dia saat dijumpai di ruang kerjanya, Selasa (1/7).

Dia mengaku tidak begitu memantau kondisi Elva selama di sekolah. Oleh karena itu, dia akan menanyakan kepada siswa-siswa teman korban. Melakukan interogasi kepada murid sekelas dengan korban. Tujuannya, untuk membuktikan apakah betul atau tidak dilakukan bully tersebut.

"Kami sedang minta keterangan siswa apakah benar dibully atau tidak. Kami belum bisa pastikan. Kalau bully itu muncul dari siswa, teman-temannya," katanya.

Atas meninggalnya korban, kepala sekolah seolah lepas tangan. Sebab dia beralasan bahwa korban meninggal di luar sekolah dan di luar jam sekolah. "Dia meninggal dunia tidak waktu sekolah. Di luar jam sekolah. Bisa nanti tanya saja ke bidang siswa," sebutnya. (*4/sol)

 


SMAN 1 Bangkinang Impiannya

Juliardi yang merupakan kakek korban, Elva bercita-cita sekali untuk bersekolah di SMAN 1 Bangkinang. "Ini impiannya dari dulu," sebut dia.

Namun, apa yang dia dapat selama ini, tak seindah yang korban bayangkan. Perlakuan yang tak baik malah diterima korban di sekolah favorit di Kampar ini.

"Dia ini memang anak yang pintar. Jadi kebanggaan keluarga kami. Besar harapan kami kepada dia. Tapi karena apa yang diterima di sekolah, Elva malah memilih jalan lain. Allah berkehendak lain," ujar Juliardi.

Dia mengharapkan, perbuatan bully di sekolah ini, dapat dibasmi. Cukup katanya, ini menjadi yang pertama dan terakhir kali di Kampar ini. "Jangan sampai citra pendidikan kita di Kampar ini tercoreng karena bully," sebutnya.

Sebelumnya, Elva ditemukan tewas karena hanyut di Sungai Kampar, tepatnya di Desa Kumantan, Kecamatan Bangkinang Kota, Senin (30/7). Korban diduga tewas bunuh diri karena tekanan mental.

Dia merupakan warga Jalan Cik Ditiro Gang Istifar Desa Kumantan Kecamatan Bangkinang Kota. Dia yang masih berstatus sebagai pelajar, yang bersangkutan diduga nekat mengakhiri hidupnya dengan menceburkan diri ke Sungai Kampar, Ahad (30/7).

 


Kasus Bully Sekolah Harus Jadi Perhatian Bersama

Adanya kasus siswi yang mengalami depresi dan akhirnya nekat mengakhiri hidup akibat mendapat perhatian dari DPRD Riau. Dalam kasus ini, peran orangtua dan guru dianggap penting untuk dapat mencegah prilaku tersebut.

Anggota Komisi V DPRD Riau, Ade Hartati mengatakan, jika memang kabar yang beredar jika siswi tersebut meninggal dalam kondisi depresi karna dibully di sekolah, maka hal tersebut harus menjadi perhatian serius semua kalangan terhadap lingkungan tumbuh kembang anak, terutama di lingkungan sekolah.

"Nilai-nilai kehidupan seperti toleransi, saling menyayangi dan saling menghormati, saat ini pelan tapi pasti tergerus oleh lemahnya perhatian dan pengawasan, baik dilingkungan sekolah maupun lingkungan keluarga dan lingkungan bermain," katanya.

Lebih lanjut dikatakannya, pendidikan karakter yang saat ini di slogankan oleh pemerintah, sulit untuk diwujudkan andaikata seluruh elemen yang terlibat didalamnya tidak saling mendukung. Seperti lingkungan keluarga, sekolah dan lingkungan bermain.

"Harapan kita, nilai-nilai agama, budaya dan tradisi tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses belajar mengajar, dimana proses belajar mengajar tidak mengacu pada perkembangan individu saja. Tapi lebih menitik beratkan pada nilai-nilai belajar bersama, hidup bersama dan bermain bersama," sebutnya.

Menurutnya, jiwa anak-anak juga harus diisi oleh nilai-nilai agama, nilai budaya dan tradisi yang kelak akan mengawal anak dalam menjalani kehidupannya yang penuh tantangan. Keluarga harus menjadi pilar utama anak dlm menjalani proses tumbuh kembangnya.

"Anak adalah sosok individu yang setiap hari masih membutuhkan perhatian walau hanya sekedar pertanyaan "sudah makan sayang? Bagaimana tadi di sekolah?," ujarnya.

Untuk pihak sekolah, menurutnya jumlah rasio guru yang tidak sebanding dengan jumlah murid membuat pengawasan tidak dapat dilakukan melekat pada setiap murid. Untuk itu, peran orangtua juga sangat penting untuk mengawasi kegiatan anak didalam maupun luar sekolah.

"Kalau mengandalkan guru, tentu jumlahnya tidak sebanding dengan jumlah murid," tutupnya. (*4/sol)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Galau Bertengkar, Cowok Bunuh Diri saat Video Call dengan Pacar


Redaktur & Reporter : Budi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler