Setahun The Great March of Return

Sabtu, 30 Maret 2019 – 20:43 WIB
Warga Palestina terlibat bentrok dengan militer Israel di Jalur Gaza. Foto: AFP

jpnn.com, GAZA - Ketegangan menyelimuti perbatasan Gaza-Israel. Hari ini, Sabtu (30/3), tepat setahun aksi The Great March of Return. Selama itu pula, lebih dari 250 nyawa melayang dan ribuan korban lainnya terluka. Banyak pihak yang memprediksi terjadinya kerusuhan. PBB sudah mewanti-wanti.

Hamas siap mengerahkan sejuta orang untuk beraksi ke perbatasan. Di sisi lain, Israel juga sudah siap dengan pasukan tempurnya. Penduduk Gaza tidak menanggapi ancaman Netanyahu.

BACA JUGA: Maaf Mr Trump, Eropa Ogah Akui Dataran Tinggi Golan Milik Israel

Kemarin malam sebagian warga yang tergabung dalam "unit pengganggu malam" turun.

Mereka membakar petasan dan ban, melemparkan batu-batuan, serta melontarkan bom pipa ke arah sisi Israel. Tujuannya bukan melukai, melainkan melemahkan mental penduduk di sisi Israel. Sebab, suara petasan itu mirip bom asli.

BACA JUGA: Ribut Lagi, Hamas Luncurkan 60 Misil, Israel Balas 80

Blokade selama bertahun-tahun membuat Jalur Gaza bak penjara terbuka terbesar di dunia. Akibat tekanan terus-menerus dari Israel, penduduk putus asa dan tidak lagi mengenal takut. (sha/c14/dos)

Setahun The Great March of Return

BACA JUGA: Trump Akui Golan Milik Israel, Iran dan Saudi Kompak Mengecam

Jumat, 30 Maret 2018, Hamas menggelar aksi demo selama 6 pekan di jalur perbatasan Gaza-Israel.

Warga menuntut agar penduduk Palestina yang tinggal di pengungsian bisa kembali ke tanah mereka yang dirampas Israel. Ketika Israel berdiri pada 1948, sebanyak 750 ribu penduduk Palestina diusir dari rumah dan desanya.

Aksi itu juga digelar untuk memprotes blokade wilayah Gaza.

Otoritas kesehatan Palestina mengklaim lebih dari 250 orang tewas sejak demo kali pertama dimulai. Lebih dari 40 orang adalah anak-anak.

Sebanyak 29 ribu orang mengalami luka-luka. Seperempat di antaranya terkena tembakan. Prajurit Israel (IDF) kerap menggunakan peluru asli. Beberapa korban luka harus diamputasi karena Israel tak memberi mereka izin untuk berobat ke Tepi Barat.

Lembaga Save the Children mengungkapkan, hampir 3.000 anak-anak yang terluka dalam aksi itu membutuhkan penanganan serius.

Aksi The Great March of Return terus dilanjutkan setiap Jumat.

BACA ARTIKEL LAINNYA... Pria Berdarah Palestina Jadi Presiden El Salvador


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler