Setelah 4 Tahun, 4 Bulan dan 4 Pekan

Minggu, 18 Desember 2016 – 12:29 WIB
Suasana di salah satu sudut Kota Aleppo. Foto: AFP

jpnn.com - REZIM Presiden Bashar al-Assad yang dibantu Rusia dan Iran akhirnya merebut kembali Kota Aleppo yang selama empat tahun, empat bulan, dan empat pekan dikuasai kelompok oposisi (Damaskus menyebutnya pemberontak)

Di atas kertas, Battle of Aleppo alias Pertempuran Aleppo berakhir. Namun, kenyataan tak segampang itu. Selebrasi pasukan Syria di ibu kota Provinsi Aleppo Selasa lalu sukses menyedot perhatian dunia. 

BACA JUGA: Bom Mobil Meledak, 13 Tentara Tewas, 48 Terluka

Kini, semua mata tertuju ke kota yang pernah menjadi kota dengan populasi terpadat di republik tepi Laut Mediterania tersebut. ’’Kami sudah di ambang kemenangan,’’ kata jubir militer Syria saat kolaborasi pasukannya dan militer Rusia sukses merebut 90 persen wilayah oposisi bersenjata di sisi timur Aleppo. 

Setelah mendeklarasikan kemenangan, Damaskus pun memerintahkan pasukan menyisir kota yang telah menjadi reruntuhan tersebut. Tujuannya tentu saja melucuti oposisi. Dalam razia pascaselebrasi itu, Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) melaporkan adanya pembantaian di Aleppo. 

BACA JUGA: Obama Siapkan Serangan untuk Rusia

Kabarnya, sekitar 82 warga sipil tewas setelah dieksekusi pasukan Syria. Namun, laporan itu tidak bisa diverifikasi. 

Sorotan masyarakat internasional membuat Damaskus sedikit melunak. Atas prakarsa Rusia dan Turki, rezim Assad bersepakat dengan oposisi untuk mengevakuasi warga sipil dan pejuang oposisi yang terjebak di Aleppo yang tak layak huni. Selain itu, Damaskus mengizinkan konvoi bantuan kemanusiaan yang terkumpul dari negara-negara anggota PBB melintas. Kamis (14/12) konvoi bantuan bergerak dari Turki. 

BACA JUGA: HTI Desak Pemerintah Selamatkan Warga Aleppo dari Rezim Assad

Namun, menyelamatkan warga sipil dari perang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ribuan, bahkan puluhan ribu, penduduk yang sudah siap meninggalkan Aleppo yang porak-poranda harus sabar menunggu. 

Rezim Assad yang punya banyak kepentingan dua kali menunda evakuasi. Kemarin (17/12) klausul dalam kesepakatan evakuasi kembali berubah setelah sempat berubah Rabu lalu (13/12). 

"’Kami siap memfasilitasi evakuasi sesuai mandat kemanusiaan yang kami emban. Tapi, kami minta jaminan pasti dari semua pihak agar evakuasi berjalan lancar,’’ ungkap Marianne Gasser, direktur regional Palang Merah Internasional (ICRC) Syria. 

Tanpa jaminan pasti, keselamatan sukarelawan ICRC terancam. Sebab, mereka yang bisa memberi jaminan keselamatan itu juga yang berpotensi merenggut nyawa sukarelawan. 

Evakuasi yang seharusnya berlangsung Rabu (14/12), setelah tercapai gencatan senjata sehari sebelumnya, tertunda sampai Kamis (15/12). Baru dua kali pemberangkatan, evakuasi kembali terhenti pada Jumat (16/12). ’’Penduduk Aleppo menunggu-nunggu. Mereka berharap evakuasi berlanjut. Tolonglah segera bersepakat lagi. Bantu kami menyelamatkan ribuan nyawa,’’ seru Gasser. 

Tertunda dua kali dan diwarnai insiden maut yang merenggut sedikitnya satu nyawa, evakuasi Aleppo telah mengungsikan sekitar 10.000 orang. Sebagian di antaranya adalah pasien rumah sakit yang berada dalam kondisi kritis. 

Sejak pasukan Syria dan Rusia membabi buta menyerang Aleppo dan menarget rumah sakit, tidak ada lagi pasien yang terurus. Berminggu-minggu, mereka bertahan tanpa obat-obatan dan tanpa dokter. 

Dari Kota Aleppo, para pasien diungsikan ke rumah sakit di sisi barat Provinsi Aleppo yang merupakan wilayah pro pemerintah. Rumah sakit di wilayah barat masih beroperasi normal dan punya obat serta fasilitas medis lebih lengkap. Selain dilarikan ke wilayah pro pemerintah, para pasien diungsikan ke rumah sakit-rumah sakit di Turki. Itulah mengapa Bulan Sabit Merah Turki juga mengirimkan ambulans ke Aleppo.

Tapi, menurut Elizabeth Hoff dari WHO, masih ada ribuan orang yang butuh penanganan medis segera. Bukan hanya mantan pasien rumah sakit Aleppo, melainkan juga warga sipil yang terluka. ’’Saya masih berharap kesepakatan tercapai hari ini (kemarin), agar ada lebih banyak lagi yang bisa diselamatkan,’’ katanya menjelang sore. Namun, harapan itu tipis. Sebab, Rusia tidak menghendaki evakuasi malam hari. 

Secara terpisah, perwakilan oposisi bersenjata melaporkan bahwa kesepakatan baru sudah tercapai. Evakuasi lanjutan akan mengungsikan ribuan warga Aleppo yang masih tertinggal. Sayang, sampai tadi malam WIB, evakuasi lanjutan belum berjalan. Kesepakatan baru yang diklaim oposisi bersenjata itu juga tak membuat serangan berhenti. Aleppo kembali dihujani rudal dan tembakan dari udara kemarin. 

’’Penduduk yang berkumpul di titik-titik pemberangkatan lari tunggang-langgang begitu mendengar dentuman. Mereka khawatir menjadi korban berikutnya. Kini, mereka kembali bersembunyi,’’ lapor Amro Halabi, reporter Al Jazeera yang bertugas di sisi timur Aleppo. 

Warga sipil yang berkumpul jelas menjadi sasaran empuk dari udara. Apalagi, pasukan Syria dan Rusia juga hafal titik-titik pemberangkatan evakuasi.

Jumat lalu, Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama mengomentari evakuasi penduduk Aleppo yang tertunda dua kali. Dari Gedung Putih, presiden yang masa jabatannya segera berakhir itu mengecam rezim Assad. ’’Ini horor,’’ ucapnya. 

Dia lantas memperingatkan Damaskus bahwa dunia pasti akan minta pertanggungjawaban mereka atas pembantaian dan kekejian di Aleppo. (afp/reuters/aljazeera/hep/c17/any/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Hendak Merampok Malah Ngontak Polisi, ya Begini Jadinya


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler