Setelah Pertemuan Rahasia di Saudi, PM Israel Bakal Kunjungi Negara Arab Ini

Rabu, 25 November 2020 – 06:44 WIB
Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu. Foto: Middle East Eye

jpnn.com, YERUSALEM - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berencana segera mengunjungi Bahrain atas undangan dari putra mahkota negara Arab tersebut, Pangeran Salman al-Khalifa.

Bahrain mengikuti langkah Uni Emirat Arab dalam menormalisasi hubungan dengan Israel dalam kesepakatan yang ditengahi oleh Amerika Serikat yang menandai penyelarasan strategis Timur Tengah melawan Iran.

BACA JUGA: Hubungan Pulih, Palestina Kembali Terima Duit dari Israel

Pergeseran itu membuat geram orang-orang Palestina yang menuntut status kenegaraan sebelum adanya pemulihan hubungan regional semacam itu.

"Kami bersemangat untuk membawa buah perdamaian kepada masyarakat dan negara kami dalam waktu yang begitu singkat. Itulah sebabnya dia (al-Khalifa) mengundang saya untuk segera datang dalam kunjungan resmi di Bahrain dan saya akan dengan senang hati melakukan ini," kata Netanyahu dalam sebuah pernyataan terkait percakapan melalui telepon dengan putra mahkota itu.

BACA JUGA: Netanyahu Diam-Diam Temui Pangeran MBS, Arab Saudi Segera Jadi Sahabat Israel?

Delegasi Bahrain pertama mengunjungi Israel pada Rabu lalu.

Pada Senin, seorang pejabat Israel dan media lokal mengatakan bahwa Netanyahu akhir pekan lalu diam-diam mengunjungi Arab Saudi untuk berbicara dengan Putra Mahkota Mohammed bin Salman dan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo.

BACA JUGA: Demi Kemanusiaan, DPR Desak Pemerintah Jegal Manuver Terbaru Israel

Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud menolak adanya pembicaraan semacam itu. Netanyahu tidak menolak atau mengkonfirmasi laporan tersebut.

Sejak September, pemerintahan Trump telah menengahi kesepakatan dengan Bahrain, Uni Emirat Arab dan Sudan menuju normalisasi hubungan dengan Israel. Delegasi Israel berkunjung ke Sudan pada Senin.

Meski para pejabat Gedung Putih mengatakan lebih banyak negara mempertimbangkan normalisasi hubungan dengan Israel, perkembangan lebih lanjut tampak tidak mungkin sebelum Presiden terpilih Joe Biden menjabat pada 20 Januari dan membentuk kebijakan administrasinya terkait Iran.

Biden mengatakan dia akan kembali bergabung ke dalam kesepakatan nuklir yang ditandatangani oleh kekuatan-kekuatan dunia dengan Iran apabila negara tersebut terlebih dahulu melanjutkan ketaatan terhadap kesepakatan, dan akan bekerja sama dengan para sekutu untuk memperkuat persyaratannya. (ant/dil/jpnn)


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler