Siapkan Skenario jika Gunung Merapi Tiba-tiba Meletus Besar

Kamis, 24 Mei 2018 – 08:19 WIB
Petugas Basarnas mengamati puncak Gunung Merapi dari Stabelan, Tlogolele, Selo, Boyolali, Selasa (22/5). Foto: Arief Budiman/Radar Solo/JPNN.com

jpnn.com, BOYOLALI - Gunung Merapi mengeluarkan letusan freatik dua kali, Rabu (23/5), menyebabkan hujan abu tipis di Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Boyolali.

Letusan pertama terjadi Rabu pukul 03.31 WIB. Peristiwa ini tak menimbulkan kepanikan warga. Namun warga tidak sampai mengungsi. Kemudian letusan kembali terjadi pukul 13.49 WIB dengan durasi 2 menit. Terdengar dari Pos Pantauan Gunung Merapi Babadan. Namun, kolom letusan tidak teramati dari semua pos.

BACA JUGA: Berita Terkini : Status Gunung Merapi Naik Level Waspada

Menghadapi kemungkinan erupsi Merapi ini, pemerintah di dua kabupaten terdampak dan warga di kawasan rawan bencana (KRB) III sudah mulai bersiap diri. Sejumlah skenario sudah disiapkan bila sewaktu-waktu terjadi letusan lebih besar.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Boyolali sejak setahun lalu sudah membentuk desa bersaudara (sister village). Apabila terjadi erupsi Merapi, masyarakat langsung mengungsi di desa terdekat.

BACA JUGA: Dua Kali Meletus Freatik, Kondisi Gunung Merapi Aman

“Selain itu, pemkab telah menyiapkan lima gedung lengkap dengan seluruh prasarannya agar para pengungsi mendapatkan keamanan dan kenyamanan,” kata Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Boyolali Bambang Sinungharjo kemarin.

Bambang mengatakan, berdasarkan perintah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BPNP), KRB II dan III harus sudah dikosongkan dari aktivitas manusia. Warga yang masuk KRB III meliputi Dusun Stabelan dan Takeran, Desa Tlogolele, Kecamatan Selo. Sedangkan untuk KRB II meliputi Desa Tlogolele, Klakah, Samiran, Jrakah, Lencoh, dan Suroteleng. Kemudian Cluntang, Kecamatan Musuk.

BACA JUGA: Berita Terupdate : Gunung Merapi Meletus Lagi

Desa-desa itu sudah memiliki lokasi untuk mengungsi nanti saat erupsi Merapi terjadi. Yakni Desa Mudal, Penggung, Kebon Bimo, Pulisen, Siswodipuran, dan Banaran. Semua berada di Kecamatan Boyolali Kota.

Kemudian di Kelurahan Kemiri, Kecamatan Mojosongo. “Warga sudah memiliki tempat pengungsian yang aman untuk berlindung,” kata Sinungharjo.

Dengan pola desa saudara ini diharapkan penanganan korban erupsi tak seperti 2010 lalu. Kemudian untuk mengatasi hewan ternak warga, evakuasi hewan ternak sudah disiapkan. Hewan-hewan ternak warga akan ditampung di lokasi yang telah ditentukan. “Bisa di lapangan desa atau di Pasar Hewan Jelok, Kecamatan Cepogo,” katanya.

Di bagian lain, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jateng, mulai mengirimkan bantuan untuk kebutuhan pengungsi di Boyolali. Logistik tersebut merupakan barang yang dibutuhkan warga saat mengungsi.

Logistik yang dikirimkan tersebut berupa tikar sebanyak 20 lembar, matras 20 lembar dan tenda gulung 20 buah. Selain itu juga peralatan dapur, perlengkapan makan dan peralatan kesehatan masing-masing 20 paket.

Logistik tersebut diserahkan BPBD Jateng kepada BPBD Boyolali yang diterima langsung Kepala Pelaksana BPBD Boyolali, Bambang Sinungharjo.

Selanjutnya, BPBD Boyolali akan mendistribusikan logistik kebutuhan pengungsi tersebut ke TPPS Desa Tlogolele.

Kasi Peralatan BPBD Jateng Iwan Budianto mengatakan, BPBD Jateng siap menyalurkan bantuan lainnya. Saat ini sedang diinventarisasi tentang kebutuhan, khususnya makanan, seperti beras, mi instan, lauk pauk dan air mineral. “Untuk pemenuhan dasar pengungsi,” kata Iwan Budianto di kantor BPBD Boyolali.

Logistik dari BPBD Jateng itu selanjutnya akan langsung diserahkan ke tim siaga desa Tlogolele. Ini agar memudahkan bila nanti sewaktu-waktu dibutuhkan warga. (wid/ren/bun)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Gunung Merapi Erupsi, Wisatawan Malah Datang


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler